“Berapa Sih Luas Jakarta?”

Sebuah Dongeng Tentang Masalah Klasik Data Spasial di Indonesia

“Lihat Simba, Jakarta menjelang lebaran ya kayak gini dari dulu”

Pada suatu hari, Mufasa membawa Simba ke seputaran Pride Rock (sebuah kafe di bilangan SCBD, Jakarta Selatan). Sebagai penguasa Jakarta, Mufasa ingin agar Simba mendapat actionable insight bahwa kerajaannya nanti begitu kaya dan menurut proyeksi penduduk akan mencakup sesedikitnya 10.645.000 spesies manusia pada tahun 2020 dalam wilayah seluas 661,5 kilometer persegi.

Simba, sebagai seorang calon pemimpin, tentunya bertanya hal-hal yang berkaitan dengan pembangunan, seperti berapa pendapatan Pajak Bumi Bangunan dalam setahun dan mengapa Bodetabek tidak dimasukkan ke Jakarta saja.

Statement ini sangat tidak adil karena di Jakarta pun motor juga begitu, namun Mufasa beruntung karena belum ada sistem demokrasi dan hanya ada state media, sehingga tidak perlu takut elektabilitas pilkada.

Semua bisa dijawab dengan mudah oleh Mufasa, sampai kemudian…

Simba: Yakin luas totalnya 662,33 kilometer persegi? Pernah ukur sendiri?
Mufasa: Nggak lah, tapi yakin kok.
Simba: Kalau luas per kotamadya? per kecamatan? per kelurahan?
Mufasa: Ya harusnya sudah ada yang bikin lah, dari jaman kakek buyut kan Jakarta segitu-segitu aja luasnya.

(catatan penulis: luas wilayah daratan Jakarta itu 662,3 km² menurut SK Gubernur 171/2007, tapi di Google 661,5 km². Wallahualam.)

Untuk memuaskan keingintahuan Simba (dan juga karena mulai tumbuh keraguan dalam benak Mufasa jangan-jangan selama ini semuanya ABS), maka Mufasa membuka laptopnya dan menunjukkan PDF Jakarta Dalam Angka 2014.

Tentunya, tidak ada jawabannya di sana karena hanya ada sampai tingkat kota, lagipula dari sekian zebra, badak, dan jerapah, siapa sih yang peduli berapa luas setiap kelurahan?

Siapa sih yang peduli apa saja isi parsel lebaran? Berapa kalori tiap kuenya? Bukannya orang hanya peduli berapa jumlah barangnya?

Setelah hening beberapa saat dan menghela napas, Mufasa akhirnya menceritakan situasi data wilayah yang membuat begitu banyak teman kuliah Simba muak dan akhirnya hengkang pindah ke startup membuat chatbot. Permasalahan terbesarnya adalah sepanjang 70 tahun lebih negara ini berdiri, belum pernah ada peta resmi batas desa/kelurahan se-Indonesia karena kita baru memulai membuat peta tersebut pada tahun 2015.

Simba pun lantas terhenyak. Dia tahu tentunya tidak mudah membuat peta batas wilayah desa karena bentang alam dan dinamika politik setempat (contoh: sungai irigasi diperebutkan desa A dan B), tetapi di kota? di Jakarta-nya Mufasa? Apa jangan-jangan selama ini tidak ada yang peduli?

Simba semakin sendu setelah menyampaikannya keprihatinannya kepada beberapa pejabat yang nantinya akan menjadi mitra kerja dia.

ITS OUR PROBLEM FREEEEE PHILOSOPHYYYYY

Di sinilah hebatnya Simba, dia tidak putus asa. Berbekal kursus singkat data analysis with R & Python di Coursera dan bertanya kepada seorang data scientist amatir, dia pun mendapat beberapa sumber menjanjikan:

  1. Data Luas Wilayah dan Kepadatan Penduduk DKI Jakarta dalam format CSV, Portal Data Jakarta (http://data.jakarta.go.id/dataset/luas-wilayah-dan-kepadatan-provinsi-dki-jakarta-tahun-2015)
  2. Data batas kelurahan Jakarta Smart City dalam format GeoJSON berupa API call (http://crop.jakarta.go.id/ajax/apps_command.php?Z2V0Qm9yZGVyUG9wdWxhc2l+MjAxNzA0MDNTbTRSVEMxdFk=)
  3. Data batas kelurahan INASAFE, sebuah program simulasi bencana yang digunakan dalam modeling banjir Jakarta, dalam format Shapefile (https://github.com/inasafe/inasafe_data/tree/master/boundaries)
  4. Data batas kelurahan BPBD Jakarta dalam format GeoJSON (http://gis.bpbd.jakarta.go.id/layers/geonode%3Adki_kelurahan)
Proses kerja se…ekor data scientist amatir.

Setelah melakukan proyeksi geojson ke CRS EPSG 3395 dan menghitung luas wilayah kelurahan secara matematis, lalu menghapus Kepulauan Seribu dengan alasan tidak jelas pengukuran saat pasang atau surut, kemudian menjumlahkan luas setiap sumber, Simba kembali sendu.

100% accurate, 60% of the time.

Sambil menahan tangis, Simba berusaha tetap berpikir kritis. Apakah sisi pantai utara Jakarta berbeda-beda luasnya karena pasang-surut? Apakah skala pembuatan peta berbeda-beda secara drastis sehingga akurasi bentuk kelurahan yang rumit berpengaruh? Apakah ada kelurahan yang kurang lebih sama luasnya di setiap sumber?

Sayangnya, karena Simba hanyalah seekor tokoh di blog suram ini, itu semua hanya menjadi helaan napas sia-sia.

Gap terkecil antara luas kelurahan dari 4 sumber tadi sudah lebih dari 30 ribu meter persegi. Paling dramatisnya? Kelurahan Ancol dengan perbedaan lebih dari 7 juta meter persegi.

Untuk Ancol, beritanya lebih buruk lagi karena dari beberapa sumber yang ada, semuanya tidak sepakat batas-batasnya seperti apa.

Berlawanan jarum jam dari kanan atas: OpenStreetMap, BPBD DKI, Google Maps, dan Ensiklopedi jakarta.go.id. OMG jelek amat yang kanan bawah kayak peta buta kelas 4 SD.

Pada akhirnya, saat Simba naik tahta, dia mendapat pelajaran berharga dari sebuah pertanyaan sesederhana berapa luas wilayah kekuasaan dia. Dia menghire seorang Chief Data Officer yang bertugas untuk melakukan hal paling berat dalam membangun sebuah negeri: untuk selalu bertanya dan tidak pernah percaya angka begitu saja,

sehingga Simba tidak usah cemas berapa luas kelurahan sebenarnya dan memiliki waktu lebih untuk menjalin keharmonisan rumah tangga.

#kode