Impact Model: Asian Games 2018
Asian Games sebuah perhelatan besar yang tidak biasa dibuat di Indonesia. Awalnya saya agak menyangsikan antusiasme warga Jakarta, karena yang terjadi justru riuh mengenai akibat dari pengaturan perpanjangan ganjil-genap. Padahal Asian Games (AG) hanya awalan dari pengembangan aturan ini. Pengaturan ganjil-genap memang dinilai efektif untuk penataan macet Jakarta dan juga pembiasaan warga Jakarta untuk menggunakan kendaraan umum. Ya memang bukan hal biasa, dan a big learning curve. Tapi hal yang perlu dilakukan. Kan keberadaan MRT tidak serta-merta membuat orang kemudian lebih menggunakan kendaraan umum. Pajak mobil musti setengahnya? bukan solusi pembatasan jumlah mobil dong jadinya. Memang perlu pajak mobil ‘terasa’ mahal untuk kemudian orang berpikir ulang untuk punya kendaraan sendiri. Sorry ngelantur, mengenai kendaraan umum Jakarta itu pembahasan Impact Model yang lain deh.
Saya gembira dengan antusiasme yang terlihat dari Asian Games 2018 ini. GBK selalu ramai, entah hanya sekedar jalan-jalan atau untuk menyaksikan pertandiangan.
Pertama kali saya ke GBK, waktu itu memanfaatkan libur nasional (libur Idul Adha) dengan optimis beli tiket on venue (rendah pengalaman nonton pertandingan olah raga dan under estimate). Semua tiket pertandingan habis, termasuk pertandingan Baseball antara Laos & Mongolia. Orang yang datang sudah di pendapat “yah nonton pertandingan apa aja deh”. Ini keren banget!
Selanjutnya saya sudah berstrategi. Mau nonton Indonesia atau nonton pertandingannya. Beli tiket online jauh-jauh hari atau beli tiket on the spot di hari H dari pagi. Buat yang sudah sering nonton bola atau bulutangkis tentu hal ini sudah tidak asing.
Tanpa sponsor rokok. Hal yang juga menggembirakan dari kegiatan ini adalah tidak satupun perusahaan rokok yang menjadi sponsor. Tentu hal ini penting, karena ya sangat bertolak belakang antara rokok & olah raga.
Saya adalah mantan perokok. Dan seperti yang banyak saya jumpai juga, mantan perokok jadi benci & sensitif sekali dengan asap rokok. Apakah tidak ada keinginan untuk merokok lagi? sesekali lah? TENTU ADA! :D masih ingat betul kok nikmatnya. (saya memutuskan berhenti ya langsung saja, karena dari awal menurut saya ini adalah tergantung perintah dari otak ke tubuh kita. Apakah ada ketagihan dari tubuh? ya jelas ada. Itu hanya butuh didistraksi saja). Berikut adalah tulisan mengenai impact model perusahaan rokok.
AG tanpa sponsorship perusahaan rokok tetap bisa sukses kok. Artinya event besar lainnya juga bisa. Tidak bisa dipungkiri perusahaan rokok memang masih terlibat dibelakang banyak kegiatan olah raga maupun pembinaan. Buat saya sih hal ini memang hanya sekedar memanfaatkan event besar. Perusahaan rokok butuh event yang melibatkan pengunjung dalam jumlah besar, karena ruang gerak iklan mereka makin dibatasi.
Sementara memberikan pembinaan menjadi seperti ‘bayar dosa’. Kalau sudah membina olah raga seharusnya juga serta merta memang fokus pada kesehatan, justru menjauhi hal-hal yang berlawanan dengan kesehatan.
Hal menarik lainnya adalah masuk GBK tidak boleh bawa rokok. Ini keren banget! Perokok dipaksa untuk meninggalkan rokoknya sebelum masuk. Senang sekali di GBK tidak ada asap rokok sama sekali. Ya memang ini pasti ketentuan dari komite pusat Asian Games, dan kita ‘terpaksa’ menerapkan ini, tapi terbukti bisa kan!?
Sekali lagi, tulisan di atas dengan penuh rasa hormat kepada semua perusahaan rokok atas kontribusinya untuk Indonesia. Dan rasa hormat kepada teman-teman saya yang memilih menjadi perokok. It’s ok. Semua kan pilihan. Dan saya memilih masih berteman dengan mereka dan menghargai pilihannya.
Selesai nonton Atletik di akhir pekan kemarin saya sambil diskusi dengan anak-anak saya. Saya ceritakan bahwa Indonesia pernah juga menjadi tuan rumah di tahun 1962. Saya ajak mereka membayangkan bahwa saat itu situasi Indonesia masih jauh sekali dari sekarang. Tahun 1965 kita masih punya pergolakan besar: G30S/PKI. Jadi jelas ketika presiden Soekarno menjalankan Asian Games ke 4 itu ditentang oleh banyak orang. Tidak kebayang situasi kemiskinan saat itu.
Stadion GBK dibangun dalam rangka AG 1962 itu. Tidak terbayang bangunan sebesar itu, bahkan untuk 56 tahun kemudian itu masih menjadi bangunan yang sangat besar bahkan untuk di skala Asia. Tapi ini memang lompatan yang diambil oleh seorang visionaire. Karena hal ini menjadi bekal keberadaan olah raga di Indonesia. Para atlit yang lahir setelah Asian Games adalah muncul karena melihat kemegahan event tersebut. Hal yang sama terjadi sekarang.
Bonus 1,5M untuk peraih medali emas AG18 ini, bonus rumah, dan termasuk terlihat kerennya para atlit, cabang apapun, memunculkan minat tinggi dan gairah prestasi di dunia olah raga. Dampak yang terjadi adalah bibit atlit akan lebih banyak. Kalau lebih banyak artinya kita bisa menyaring dari yang baik untuk yang terbaik. Yang artinya menaikkan prestasi bangsa.
Minat tinggi juga artinya terdapat banyak orang yang menjadi tau dan kemudian mencoba, hal ini membuat lahirnya fasilitas-fasilitas olah raga baru. Yang kemudian penggunanya tidak hanya untuk prestasi tapi juga untuk mendapat sehat.
Naiknya minat olah raga dan perhatian terhadap kesehatan juga menaikkan kebutuhan lingkungan yang lebih sehat. Wilayah tanpa asap rokok akan bertambah dan meluas. Kenyamanan pengunjung tanpa asap semakin naik, sehingga penyedia fasilitas umum pun kan menjadikan ini sebagai hal penting. Artinya keberadaan penyediaan (penjualan) rokok bisa ditekan. Kalau demand berkurang, ya supply juga akan berpikir ulang.
Selain itu perhatian akan kondisi kesehatan akan lebih baik. Fokus bisa beralih dari pengobatan ke penyehatan atau upaya agar tetap sehat. Kalau sehat artinya uang untuk dana obat atau penyembuhan bisa untuk hal lain. Artinya akan memperbaiki ekonomi pribadi yang dampaknya adalah ekonomi secara keseluruhan.
Masalah sosial kita ‘hanya’ ada 3: kesehatan, pendidikan & kemiskinan. Apabila 1 lebih baik, fokus jadi tinggal 2 dan semakin mudah mencari solusinya.
Dampak lain adalah mengenai kesadaran akan keberagaman yang ujungnya adalah ketahanan nasional. Saat nonton pertandingan olah raga dan membela nama Indonesia kita tidak peduli agamanya apa atau berasal dari suku mana. Mulai dari membela pebulutangkis yang nasrani, juara dunia panjat tebing yang berhijab (ini udah seperti lari vertikal), bahkan atlit skateboard berumur belasan tahun yang juga berhijab. Semua membela nama Indonesia. Semua berdiri tegap saat lagu Indonesia Raya berkumandang, bernyanyi dengan lantang, hatinya bergetar dan mata berkaca.
Banyak sekali teman di time line media sosial saya yang berkata “tidak pernah sebangga ini sebagai orang Indonesia, punya atlit seperti mereka”. Mereka ini bukan tipe yang berpendapat mengenai nasionalisme, tidak ikutan berpendapat saat pemilu apapun, bahkan ya ada saja yang selalu pesimis dengan Indonesia. Jadi dampak lain adalah memunculkan optimisme terhadap bangsa & negara Indonesia. Tentu hal ini melahirkan banyak hal baik lainnya.
Benar sekali kalau ada yang bilang hanya di olah raga kita berteriak nama “Indonesia!!” dengan lantang dan kompak.
Impact Model:
- Antusiasme Asian Games → minat olah raga naik → kesadaran kesehatan naik → Indonesia lebih sehat
- Antusiasme Asian Games → minat olah raga naik → lebih banyak calon atlit → persaingan olah raga meningkat → kualitas olah raga naik → prestasi olah raga lebih baik
- Antusiasme Asian Games → mendukung atlit Indonesia → sadar akan keberagaman → keinginan mempertahankan keberagaman → ketahanan nasional
- Antusiasme Asian Games → mendukung atlit Indonesia → mendorong prestasi → optimisme terhadap bangsa & negara → bergairah dalam membangun bangsa
