Impact Model: Indonesia tanpa rokok

ramyaprajna
Aug 31, 2018 · 3 min read

Selama ini di Indonesia setiap perhelatan besar harus melibatkan perusahaan rokok sebagai sponsor. Termasuk untuk lisensi siar Piala Dunia misalnya, ya perusahaan rokok yang berada di paling depan.
Saya sempat lihat, data pengiklan terbesar di Indonesia sepanjang 2017, menunjukkan di urutan atas adalah perusahaan rokok. Saya pun sempat bertanya, apakah industri periklanan Indonesia bisa survive bila perusahaan rokok sudah benar-benar tidak boleh beriklan?
Saya kemudian coba browsing apa yang terjadi di Amerika. Ternyata semua baik-baik aja. Brand masih beriklan, dan besar. Superbowl masih menjadi spot iklan termahal. Dan perusahaan yang menempati posisi atas sebagai pengiklan adalah produsen mobil, asurnasi, konsultan finansial dan platform online. Artinya, ya sebuah industri bisa saja tetap hidup walaupun ada perubahan besar yang terjadi.

Selain saya mantan perokok, perusahaan saya pun juga lahir dari client perusahaan rokok. Apakah saya tidak mensyukuri & berterima kasih? tentu bersyukur & terima kasih sekali.
Beberapa cabang olah raga kita pun, misalnya bulutangkis, memang didukung penuh oleh perusahaan rokok.
Banyak dari kita yang memang mengawali dan mendapat manfaat dari perusahaan rokok. Bahkan beberapa kota di Indonesia menjadi maju karena memang terdapat pabrik rokok.
Walaupun memulai langkah yang kurang baik, boleh dong kalau kemudian berupaya untuk jadi lebih baik.

Hasil bumi tembakau
Indonesia punya alam yang baik untuk tanaman tembakau. Ini kenapa tembakau bisa tumbuh subur dan memang kenapa banyak perusahaan rokok di negara kita. Awalnya saya bertanya, kalau memang perusahaan rokok yang sekarang besar mengawali perusahaan mereka dengan berjualan rokok, setelah besar kenapa mereka tidak beralih ke industri lain yang masih memanfaatkan bahan baku tembakau.
Tapi kemudian saya membaca bahwa nikotin yang ada dalam tembakau juga menjadi bahan baku dari banyak obat penghilang nyeri, anti depresan dan bahkan pereda ketagihan (rokok).
Saya tidak tahu mungkin memang beberapa perusahaan rokok besar sudah juga melakukan investasi lainnya sebagai perusahaan obat yang juga memanfaatkan tembakau. Keberadaan perusahaan rokok jadinya memang menjadi bagian dari circular economy yang mereka coba lakukan.’Dibuat sakit untuk menjadi konsumen lagi’, mungkin kesimpulan kasarnya seperti itu.

Tapi buat saya, paling tidak untuk saat ini, yang jadi soal adalah ketika tembakau menjadi rokok dan kemudian dibakar. Karena akibat dari bakaran ini yang kemudian membahayakan lebih banyak orang. Bukan hanya perokok sendiri, tapi juga orang-orang di sekitarnya.
Artinya kalau perusahaan rokok bisa fokus saja untuk menjadi perusahaan pengolahan tembakau, yang hasil akhirnya bisa menjadi selain rokok, tentuk dampaknya akan lebih baik.

Dampak positif vs negatif
Pada setiap Model Dampak atau Impact Model pasti ada dampak positif & negatif. Prinsip yang perlu kita pegang adalah fokus pada dampak positif dan sebisa mungkin menekan dampak negatif.

Apabila dampak dari bakaran tembakau lebih merugikan daripada pengolahan nikotin menjadi obat, maka sudah seharusnya kita menekan penjualan rokok di Indonesia.
Kita sudah seharusnya tidak lagi bergantung dari perusahaan rokok. Perusahaan rokok perlu pivot menjadi perusahaan pengolahan tembakau. Perokok harus dengan kesadaran tinggi akan akibat terhadap diri sendiri dan lingkungan ketika memilih untuk menjadi perokok. Dan hal ini bisa ditunjang dengan harga rokok yang mahal, sehingga pilihannya juga tidak semudah sekarang.

Kalau harga rokok mahal dan kesadaran atas pilihan merokok juga tinggi, maka jumlah perokok akan rendah dan terlebih lagi jumlah perokok pasif akan sangat turun. Ini kemudian akan membawa ke resiko sakit jadi turun, sehingga kualitas kesehatan di Indonesia akan naik.
Hal ini bisa membuat fokus kita bisa kemudian tidak lagi di kesehatan tapi di pendidikan dan kemiskinan.

Impact Model:
Harga rokok mahal atau rokok terbatas → jumlah perokok turun → jumlah perokok pasif turun → resiko sakit turun → kualitas kesehatan lebih baik → dana kesehatan masyarakat ditujukan untuk faktor lain

Apakah saya benci dengan perusahaan rokok? tidak. Saya percaya setiap bisnis punya peran. Yang dibutuhkan adalah mengenai perusahaan rokok yang lebih bertanggung jawab.
Tanggung jawab terhadap usia perokok. Masih ditemukan iklan rokok di bioskop. Walaupun untuk film dewasa (yang beberapa tetap ditonton remaja), iklan rokok itu seharusnya tidak boleh. Tidak boleh ada upaya perekrutan perokok baru.
Berarti jumlahnya akan turun? betul, karena memang ini dibutuhkan untuk kualitas kesehatan yang lebih baik. Apakah perokok akan benar-benar hilang? tidak. Bagaimana pun ada pihak yang tetap saja merokok dan menerima segala resikonya.

Jadi memang yang jadi fokus adalah jumlah rokok yang dikonsumsi secara bebas dan asap yang berdampak ke bukan perokok.

Tulisan di atas dengan penuh rasa hormat kepada semua perusahaan rokok atas kontribusinya untuk Indonesia. Dan rasa hormat kepada teman-teman saya yang memilih menjadi perokok. It’s ok. Semua kan pilihan. Dan saya memilih masih berteman dengan mereka dan menghargai pilihannya.

Written by

Co-Founder & co-CEO of Think.Web. Branding & Marketing Consultant. Impact maker. Sport lover. Triathlete. Ironman finisher.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade