Akhir-akhir ini, aku sering melakukan kesalahan-kesalahan yang berakhir pada rasa penyesalan yang cukup membuatku depresi. Ini adalah hal baru bagiku sekaligus akan menjadi pengalaman yang tak akan pernah bisa aku lupakan di dalam hidupku jika kisah ini memang ditakdirkan untuk menjadi sebuah kenangan.

Terlalu banyak kebetulan-kebetulan yang hadir, dan sebagiannya adalah sebuah kebetulan-kebetulan yang sulit ku terima. Aku benci hari perayaan, aku benci bulan Februari, aku benci bulan Januari, dan aku benci air mata ketika ia selalu datang karena tiga hal tersebut. Aku tidak pernah membenci apapun sebelumnya, dan memiliki perasaan seperti ini sangatlah tidak membuatku nyaman.

Seluruh isi kepalaku hanyalah sebuah kekosongan, aku terlalu takut untuk berpikir. Terlalu takut untuk memikirkan hal-hal yang bahagia yang pada kenyataannya mungkin itu hanyalah sekedar mimpi, terlalu takut untuk memikirkan hal-hal yang buruk karena takut itu akan menjadi kenyataan. Rasa sepi selalu menyerang dikala rindu itu hadir. Barangkali rasa sepi itu akan terasa lebih perih lagi ketika mengalami kegagalan dalam mengendalikan perasaan dan rencana. Bagiku, cinta adalah tentang berbagi. Aku terbiasa berbagi, lalu aku terpaksa menjadi sendiri. Tak berdaya. Tidak memiliki kesempatan untuk berbagi. Aku adalah orang yang selalu ingin memberikan segala sesuatu dengan penuh, dan kini aku terpaksa untuk menahan segalanya untuk tidak mengisinya dengan penuh.

Aku tidak memiliki pilihan.

aku tidak memiliki kesempatan itu.

Atau mungkin, aku memang tidak layak memiliki keduanya. Pilihan dan kesempatan.

Hari perayaan, bulan Januari, dan Februari. Tiga hal yang tidak memberiku sedikit pun langkah untuk mencintai. Kemana aku harus berbagi ketika aku tak ingin membaginya kepada orang lain selain kau?

Ini sungguh menyakitkan untukku. Kau adalah orang yang sangat berhak menerima apa yang dapat ku bagi. Lebih buruknya lagi, kali ini aku merasa seperti sebuah bencana yang terus bersembunyi di dalam bayang-bayangmu.

Maaf, malam ini hanya kesedihan yang mampu ku tuliskan dalam tulisan ini. Aku egois, Ya? Aku harap kau tidak membacanya seperti beberapa tulisanku yang sudah kau lewatkan kemarin-kemarin.

Sudah ku pastikan, atas nama 306 hari yang telah hadir pada kita, aku rela menukarnya untuk membuat kita tetap ada. Atas nama kebahagiaan.

Tak ada kabar baik hari ini. Aku hanyalah kebebasan yang sepi.

Aku mencintaimu. Selalu mencintaimu.

Like what you read? Give Ranti Dwi Lestari a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.