© Unsplash

Aku Bukan Tuhan

Tanpa ku sadari, aku telah berubah, dan melangkah semakin jauh. Awan gelap itu berada di sebrang sana dengan langit oranye yang mulai menjadi samar. Aku melambaikan tangan pada pemandangan itu. Pada masa lalu. Tangis dan peluh menjadi satu. Apakah aku sudah melangkah terlalu jauh?

Sering kali, bisikan asing itu hadir di malam-malamku. Dia meneriakiku bagai seorang pengecut.

“ KAMU HANYA MELARIKAN DIRI SAJA!!!”

Tapi aku rasa, aku pantas bahagia. Dengan melangkah sejauh ini, dengan sepasang kaki yang belum benar-benar sembuh, aku bertahan. Bisikan itu salah!

Sialnya, bisikan lainnya hadir mengendap-ngendap di dalam mimpi burukku. Dia menertawaiku seperti anak kecil. Lama sekali ia tertawa.

“ Kamu pikir dengan seperti ini kamu punya kesempatan. Kamu bukan Tuhan. “

Mimpi buruk itu terlalu sering hadir. Meresahkan.

Apakah langkahku ini tidak ada tujuannya? Sering kali aku mengintip takdirku sendiri karena aku terlalu mudah curiga dengan hal-hal yang tidak ku pahami.

Aku tidak tahu semua.

“ Apa kamu merasa jadi Tuhan?”

Aku tidak paham kemauan Tuhan. Aku hidup hanya mengikuti arus. Aku bukan Tuhan, hanya eksistensi yang mengerti akan manusia. Aku hanya memahami satu hal; hati seseorang itu bisa terlihat dengan jelas.

Apa yang telah kami bagi terus berjalan seiring berjalannya waktu. Terus seperti itu. Pada akhirnya, lukaku pun sembuh.

Aku terus menjalani hidup seperti biasa, bahkan jauh lebih bahagia. Wajah yang nampak di setiap pandanganku. Suara yang seolah telah ku dengar seumur hidupku.

Pada akhirnya aku masih takut.

Jika suatu saat nanti, teman perjalananku ini akan hilang begitu saja.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.