Aku Hidup Di Negeri Takdir

Negara ini adalah negara yang makmur. Teratur. Penuh dengan takdir-takdir baik, namun, sebagian besar warganya memilih bernasib buruk karena tidak dapat menanggung tanggung jawab dari takdir baik tersebut. Ini adalah negara ditaktor. Semua sistem sudah ada SOP-nya. Semua diatur sedemikian rupa. Hanya sepersekian kecil manusia yang menapaki tanah di negara ini menjadi seorang kriminal. Maka tak heran, jika rumah sakit jiwa jauh lebih banyak penghuninya dibandingkan penjara. Negara ini adalah negara yang lebih hebat lagi dibandingkan Amerika Serikat, negara adikuasa maha kuasa.

Kami yang tinggal di negara ini sejak lahir akan mendapatkan sebuah takdir mutlak tentang masa depan kami. Ada yang menjadi dokter, insinyur, guru, pembaca berita, pramusaji, penyelam, penjaga pantai, supir, bahkan menjadi presiden sekaligus! Itu mutlak, secarik surat pengantar dari pemerintah yang sudah dicap dan ditandatangi oleh presiden harus kami telan bulat-bulat oleh orang tua yang baru saja melihat buah hatinya terlahir ke dunia. Beruntunglah yang memiliki takdir sebagai penjabat, dokter, perawat, dan apapun itu bentuk pekerjaan kalangan kelas atas, terkutuklah untuk mereka yang sekedar bekerja hanya menjadi supir, tukang lap kaca, tukang sapu jalan. Raut wajah kekecewaan selalu lahir paling pertama pada sang ibu jika takdir yang tidak terlalu baik datang pada anak mereka. Tetapi bukankah pekerjaan apapun harus kita syukuri, bukan?

Kekurangan dari kebijakan yang hakiki itu adalah kami tidak boleh beralih profesi maupun berpindah perusahaan. Kami jadi tidak berkembang. Sampai mati, kami hanya akan mengerjakan pekerjaan yang sama. Tidak ada pengangguran, tidak ada bursa lowongan kerja seperti di negara lainnya. Kami adalah mutlak, sama halnya seperti pekerjaan kami. Tidak punya pilihan. Tidak ada mimpi. Kami hanya robot pekerja. Hal paling pelik sebagai akhir dari nasib robot pekerja ini adalah kematian. Bunuh diri dianggap sebagai pilihan terbaik.

Aku adalah salah satu warga yang mendapatkan takdir yang biasa-biasa saja. Ya, menurutku sih begitu. Setelah lulus kuliah, aku bekerja di sebuah perusahaan periklanan ternama di salah satu kota di negara ini. Perusahaan tempat ku bekerja adalah salah satu perusahaan tersohor di bidangnya. Lima orang kenalanku begitu iri dengan takdirku. Lagi-lagi, buatku ini adalah hal yang biasa saja.

Begini, ku ceritakan sedikit tentang perusahaan tempatku bekerja. Pertama, seluruh karyawan disini adalah manusia-manusia penuh topeng. Kedua, kami semua seperti itu karena gaji yang kami terima terbilang kecil. Mengapa? Dua atasan kami adalah dua orang manusia rakus yang selalu mengambil hak kami. Mereka korupsi. Yang laki-laki yasudahlah, yang perempuan justru merupakan masalah besar bagi kami. Dia adalah mahkluk paling menjijikan yang pernah ku temui. Perempuan gila kerja yang kini baru sadar akan dunia. Setiap hari belanja pakaian dan sepatu branded. Setiap datang harus dipuji. Jatah makan siang kami sering kali dia makan. Setiap mau pulang, kami harus berpamitan padanya (perusahaan mana yang punya boss seperti ini?). Setiap hari haus pujian tentang penampilannya yang norak itu (jika kami tidak memuji, dia sering marah-marah di kantor). Perempuan dengan kehidupan sex yang berantakan tetapi selalu penuh pencitraan seolah-olah keluarganya bahagia. Inilah alasan kami mengapa harus menggunakan topeng di depan atasan kami. Berpura-pura memihaknya. Demi kelangsungan kehidupan kami di kantor.

Kami adalah kumpulan para aktris dan aktor yang seharusnya menerima penghargaan grammy award. Setiap hari harus bermuka dua kepada si Babi Betina sialan itu. Permasalahan kedua, gaji si Babi Betina dan Keledai Jantan itu tiga kali lipat gaji kami, sedangkan gaji kami hanya sebesar tai kuku mereka. Kami tidak ada pilihan, kami tidak mau menjadi pengangguran.

“ Kapan kami akan naik gaji, Bu?” Tanya salah seorang rekan kerjaku.

“ Coba kamu tanya HRD (Keledai Jantan) aja,” Jawab si Babi Betina.

Temanku pun langsung menanyakan perihal kenaikan gaji kepada HRD kami.

“ Pak, kapan kita naik gaji? Tunjangan kesehatan kapan dapetnya, Pak? “

“ Coba tanya sama manager kamu,” Jawab si Keledai Jantan.

Kami seperti bola pingpong yang pada akhirnya memutuskan untuk keluar dari area permainan.

Sudah tiga tahun aku bekerja di perusahaan ini. Tidak ada perkembangan yang signifikan, hanya adaptasi pada pendapatan dan lifestyle yang menjadi kesimpulan dari kehidupan sehari-hariku. Yang kaya semakin kaya, yang miskin ya tetap miskin. Lain cerita untuk beberapa rekan kerjaku yang memiliki paras cantik di perusaahaan ini. Beberapa memutuskan menikah dengan laki-laki kaya untuk melarikan diri, sebagiannya lagi memilih untuk menjadi simpanan penjabat-penjabat kaya untuk bertahan hidup. Miris.

Pada hari rabu siang yang cerah, kami para karyawan memilih untuk membuat aksi demo mogok kerja untuk mempertahankan kenaikan gaji. Hal ini tersulut karena ketika inspeksi dari pemerintah perihal gaji kami, si Keledai Jantan berhasil mengotak-atik data perusahaan. Gaji kami berhasil dimanipulasi. Kami tetap terpuruk. Rabu itu kami mendatangi direktur kami di kediamannya. Kami tidak pasrah, pantang menyerah.

“ MANA HAK KAMI? KAMI INGIN NAIK GAJI!” Teriak kami di depan gerbang rumahnya yang luasnya menyerupai rumah penjabat-penjabat negara.

Tak lama kemudian, Direktur kami muncul di hadapan kami menggunakan kursi rodanya bersama si Babi Betina dan Keledai Jantan itu. Dia melambaikan tangannya kepada kami. Nah ini harapan kami. Lelaki tua ini harapan kami. Kami pun langsung berubah sunyi, menghargainya yang sudah berkenan hadir di hadapan kami.

“ Semuanya, Pak Direktur bilang sebaiknya kalian pulang. Beliau akan mengabulkan permintaan kalian,” Kata si Babi Betina dengan gaya sok bijaksananya. Palsu!

Tak lama kemudian, semua bodyguard pak direktur mengusir kami. Dari kejauhan ketika kami semua perlahan-lahan melangkah menjauhi area pekarangan rumah Pak Direktur, aku melihat si Babi Betina tersenyum menyebalkan seolah-olah itu adalah isyarat yang buruk. Benar saja, seorang bodyguard bilang semua teriakan kami barusan itu tidak terdengar apa-apa oleh pak Direktur. Beliau tuli karena dimakan usia.

Bajingan! Hal yang dapat ku pahami dari negara yang (konon) katanya makmur ini hanya tentang takdir dan kekuasaan. Takdir di negara ini hanyalah permainan para penguasa. Kami hanya bisa pasrah.

Benar saja, sudah tiga bulan semenjak aksi demo kami, tidak ada kemajuan apapun. Gaji kami masih sama, mungkin tingkat adaptasi kami pada kenyataan lebih berkembang. Selama si Keledai Jantan sibuk liburan bersama keluarganya dan si Babi Betina sibuk bersosialita sana sini bersama genk babinya, kami pun sibuk bekerja sambil melakukan hal-hal yang menyenangkan di kantor. Kami masak, kami membuka kelas yoga, bermain kartu Poker, tidur siang, bermain Nitendo Wii, membuka kelas menyulam, membuat mini teater, workout, sampai kami sering sekali mengubah kolam ikan di kantor kami menjadi kolam renang dadakan. Jika si Babi Betina datang, kami langsung kembali ke meja kerja kami masing-masing, pura-pura sibuk mengerjakan pekerjaan yang sudah selesai.

“ Selamat sore, Bu! Hari ini cantik sekali menggunakan Dress merah,” Itulah passwordnya. Keadaan kantor kami terhindar dari badai omelan dari wanita menopause itu.


Pagi ini keadaan kantor sungguh kacau. suara dan Lampu sirine memenuhi pandanganku. Aku menerobos kerumunan orang yang bergerumul memadati pintu masuk kantor. Police line terpasang di beberapa bagian kantor.

“ Maaf, tidak boleh ada yang masuk ke dalam!” Seorang polisi mencegah kami yang begitu beringas ingin masuk karena penasaran dengan apa yang terjadi di dalam.

“ Say, kayaknya ini soal korupsi. Kata si Cecep (office boy kami), polisi datang membawa surat penangkapan buat si Keledai Jantan,” Rekan kerjaku berbisik kepadaku. “ Mampus! Makan tuh duit hasil korupsi!”

Aku hanya manggut-manggut menanggapinya yang terus mengoceh di sampingku. Ada raut kegembiraan dan kepuasan di binar matanya. Jelas, dia adalah seorang marketing handal di perusahaan kami, tetapi fee yang seharusnya ia terima selalu dipotong oleh perusahaan.

Lima belas menit kemudian, si Keledai Jantan pun menunjukan batang hidungnya. Tangannya diborgol dan digiring bersama dua polisi muda untuk dibawa ke kantor polisi. Seluruh karyawan kami bergemuruh dan mencacinya. Si Keledai Jantan memasang wajah penuh kebingungan dengan apa yang terjadi padanya pagi ini. Wartawan sibuk mengambil foto-foto dan merekam setiap gerak-gerik yang dilakukan oleh si Keledai Jantan.

Semua bersorak. Ini adalah awalan baru untuk kami.

“ Tinggal si Babi betina nih yang harus kita singkirkan!” Teriak Hendarto, rekan kerjaku di bagian kreatif.

“ Kemana nih si Babi Betina kok gak muncul batang hidungnya? Mungkin dia takut ketangkep juga tuh!”

Semua yang ada di area depan gedung kantor pun bergumuruh. Rasa-rasanya, Kemerdekaan itu sebentar lagi akan menghampiri kami dengan penuh. Kemerdekaan yang sudah lama kami nantikan.

Siang itu kantor diliburkan, polisi melarang siapapun masuk ke dalam gedung karena sedang ada penggeledahan. Semua kembali ke rumah masing-masing.


“ Non!” Cecep memanggilku ketika aku akan menaiki mobil bututku di basement.

“ Iya Cecep ada apa? “ Tanyaku.

“ Terima kasih, Non untuk uangnya. Anak saya hari ini sudah boleh pulang dari rumah sakit. “ Sambil tersenyum, terlihat matanya berkaca-kaca memandangku.

“ Sama-sama, Cep!”

“ Oh iya, Non. Seperti semesta memang sedang mendukung kita semua. Mayat si Babi Betina belum ada yang menemukan, tapi barang buktinya sudah lebih dulu ditemukan oleh polisi tadi pagi karena kasus korupsi itu,”

“ Memangnya kamu simpan dimana racun yang kemarin malam kamu masukin ke dalam minuman si Babi Betina yang sibuk lembur itu? Seperti yang sudah saya rencanakan kemarin kan?”

“ Saya simpan di laci meja kerja si Keledai Jantan, Non. Sebentar lagi polisi pasti menemukan mayatnya si Babi Betina di ruangannya,”

Aku hanya menganggukan kepalaku sambil tersenyum kepada Cecep.

“ Makasih ya, Cep!”

“ Saya yang terima kasih, Non!” Cecep bersujud di hadapanku, “ Saya gak tau lagi dapet uang dari mana kalau gak ada, Non”

Bandung, 25 Januari 2017
Show your support

Clapping shows how much you appreciated Ranti Dwi Lestari’s story.