Aku sering menggambarkan diriku ini bagaikan bunga matahari.

“ Coba kamu bayangkan, menjadi bunga matahari itu menyenangkan. Ditemani banyak yang hijau-hijau, segar. Belum lagi, kalau jadi bunga matahari bisa tinggal bebas di hamparan kebun yang luas, bisa menatap matahari terbit di pagi hari, memandang langit biru kapan saja, dan bisa merasakan sentuhan angin yang sejuk. Bunga matahari tidak takut gelap, siang hari selalu ditemani matahari, malam hari selalu ada cahaya bulan. Kalau hujan turun, bunga matahari malahan kesenangan karena bisa menari-menari bersama hujan sambil minum air”.

Bunga matahari itu periang, iya, sama seperti diriku. Aku ini memang memiliki watak yang periang, mungkin kamu akan selalu menemuiku tersenyum ramah jika berpapasan denganku. Aku ingin seperti bunga matahari, aku ingin bisa melihat langit biru nan indah setiap hari, bisa merasakan sejuknya angin di daerah subtropik yang panas, dan selalu mekar. Tidak peduli seberapa panasnya hari yang akan dilalui, bunga matahari akan selalu tetap seperti itu. Oranye dan berseri-seri.

Aku ingin sekali jadi bunga matahari. Bunga matahari seperti mengajarkan ketegaran dalam hidup. Mengajarkan bahwa kita harus selalu mendongakkan kepala menatap Sang Mentari, menyongsong hari esok, seberat apa pun perkara hidup yang kita hadapi dalam hidup kita.