Delillah.. 
Kini aku menyesal telah membiarkan kamu pergi begitu saja
Tak ada satupun yang ku miliki
Mungkin jika dulu aku menahan kepergianmu, setidaknya sekarang aku masih memilikimu
Satu hal yang bisa ku miliki untuk selamanya
Nyatanya, kini aku benar-benar sendirian
Sepi…. 
Bahkan perasaan iri itu kini telah menguasai diriku
Beruntungnya mereka yang bisa dengan bebas memiliki sesuatu yang berharga untuk diri mereka
Aku ingin… 
Aku ingin seperti itu…
Menyedihkan
Rasanya seperti tidak ada satu pun tempat untukku
Atau apapun itu untuk menyelamatkanku
Tidak ada pilihan
Tidak ada satu kalipun ku lihat sebuah tangan di atas sana yang hadir, Delillah.. 
Tangan yang akan menyelamatkanku keluar dari sini
Suatu hari, uluran tangan yang ku tunggu-tunggu itu hadir
Senyumku mengembang di dasar jurang ini 
Akhirnya… Pikirku.
Sayangnya, tangan itu dengan cepat menghilang 
Karena harus menyelamatkan yang lain selain aku
Aku menghela napas panjang
Udara di dalam sini semakin menipis, semakin sesak
Delilah, untuk setiap napas yang tersisa
Doakan aku untuk setiap langkah yang akan ku ambil 
Entah keajaiban apa yang akan datang
Doakan aku seperti halnya aku mendoakanmu setiap hariku
Aku menyayangimu

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Ranti Dwi Lestari’s story.