Semalam, dia akhirnya sadar kalau aku bukan kekasih terbaiknya lagi.

Dia merasa kecewa padaku. Dia merasa aku mengacuhkannya teramat sangat beberapa minggu belakangan ini. Bisa terlihat dari setiap kalimat yang dia lontarkan malam itu, dia merasa kehadirannya sudah tidak berguna lagi di dalam hidupku. Dia merasa kehadirannya sudah menjadi pengganggu di dalam hidupku. Ego-nya hancur.

“ Kamu kenapa jadi kaya gini?” Kesedihan begitu kental di dalam satu kalimat berisi berjuta rasa penasaran di dalam kepalanya.

Kekasih yang selalu setia berada di sampingnya akhirnya terasa begitu jauh dari jangkauannya.

Dan hatiku terasa sakit mendengar seluruh kalimat yang dia lontarkan malam itu. Pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan-pernyataan keputusasaan yang sudah berkali-kali aku dengar membuat hati ini selalu terluka.

Bukankah semua perempuan di dunia ini selalu ingin diperjuangkan? Selalu ingin diberi kepastian?

Aku ragu untuk terus melangkahkan kakiku di dalam cerita ini.

“ Kalau ragu, tidak usah dilanjutkan.” Dan dia meyakinkanku beberapa kali dengan kalimatnya itu.

Sungguh, hati kecilku masih tidak rela melepaskannya, tapi aku terlanjur kecewa untuk mempercayainya lagi.

Tidak, kali ini dia tidak mengulang kesalahannya tentang orang ketiga (Ya, dulu memang beberapa kali dia menghadirkan sosok orang ketiga itu secara langsung maupun tidak langsung), tapi lebih tidak bisa mempercayai janjinya yang ia katakan dahulu ketika meyakinkanku untuk menjadi ‘sepasang untuk selamanya’. Aku masih ingat betul, kenangan indah kami yang dipenuhi rasa jatuh cinta sampai kami kepayahan jika tidak bisa bertemu satu hari saja. Setiap hari dia terus meyakinkan hatiku untuk memilihnya. Tetapi beberapa bulan belakangan ini, hariku terasa paradoks, dia membuatku semakin tidak yakin. Pertanyaan-pertanyaan mengenai masa depan dan ingatan-ingatan masa lalu saling bertabrakan.

Pupus sudah harapanku.

Pagi itu, ketika aku membuka mata, rasanya salah jika aku menyalahkannya atas keraguanku itu. Atas ketakutan-ketakutanku itu.

Dia tidak sepenuhnya salah.

Kami hanyalah sepasangan kekasih yang sibuk saling mengisi kekurangan kami dibandingkan mengisi hari-hari kami dengan kebahagiaan. Dan aku tidak sesabar itu. Keadaan-keadaan, timing, dan kenyataan terus menenggelamkan kami pada keterbatasan-keterbatasan dan tembok-tembok yang belum mampu kami hancurkan bersama.

Sudah sejak enam bulan lalu aku terus bertahan dengan semuanya, dan aku pun tau, Dia juga melakukan hal yang sama. Kami bertahan dengan cara kami masing-masing.

Maafkan aku, Sayang, kakiku sudah tidak mampu melangkah lagi bersamamu. Sungguh, aku mencintaimu teramat sangat, bahkan aku mencintai ibumu dan anakmu. Cinta ini terlalu dalam untuk kalian.
Sayang, aku dulu selalu berdoa agar Tuhan menakdirkanku menikah dengan lelaki yang kucintai. Bahkan aku menambahkannya, ‘ Yang ku cintai dan mencintaiku’, aku ingin keluarga yang penuh dengan cinta dan kasih karena saling mencintai. Semenjak kehadiranmu, selalu terselip namamu dalam doaku. Tentu saja, agar Tuhan menjodohkanmu denganku.
Sudah tiga puluh bulan kita bersama, ku pikir doaku akan terkabul suatu hari nanti. Harapan itu masih terus menyelimutiku setiap hari, hingga malam itu tiba, malam dimana kau mengatakan, “ Aku sudah lelah bermimpi. Aku sudah malas berharap”. Selimut yang selalu menghangatkanku pun entah hilang kemana, seseorang mungkin telah membuangnya pada tempat sampah. Hatiku terasa dingin.
Semenjak tiga bulan lalu, aku mengganti seluruh kalimat doaku kepada-Nya. Aku berdoa agar aku dan kau selalu diberi jalan terbaik dan hati yang ikhlas untuk menjalani setiap jalan yang Tuhan berikan. Termasuk untuk ikhlas jika kemungkinan terburuk terjadi suatu hari nanti.
Sayang, semuanya gelap. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan hubungan ini. Ah tidak, sebenarnya aku tau kenapa, kau pun tau kenapa, kita berdua jelas-jelas tau. Dan juga, kita berdua jelas-jelas tau harus berbuat apa untuk menyelamatkan ‘kita’. Kau tau sendiri, Sayang, kau dan aku tak pernah sepaham, tapi selalu sepakat, entahlah apa itu yang kita sepakati. Dan lagi-lagi, kesepakatan-kesepakatan itu selalu kita langgar.
Kau ingat kan, tentang tiga hal yang kita sepakati tempo lalu? Kau dan aku sepakat pada permintaanku dalam hubungan ini. Dan kita pun sepakat untuk suatu hal yang kita bahas pada tempo hari yang lebih lampau lagi, tentang permintaanmu padaku, ‘ Bahagiakan dirimu, Sayang. Nikmati hidupmu. Tidak usah memikirkanku”.
Semua permintaanku dan permintaanmu adalah sebuah benang merah yang panjang. Jika kau sadar…… Sejauh ini, semua kesepakatan itu sudah aku tepati semampuku. Kali ini aku berusaha keras untuk menuruti maumu, dan menjalankan 3 hal yang ku pinta padamu. Kali ini aku tidak mengingkarinya.
The woman is the reflection of her man. Begitupun sebaliknya.
Kita hanya berputar-putar pada lingkaran itu-itu saja. Apakah kau sadar?
Semakin hari aku semakin tidak memahamimu. Semakin hari, aku semakin kehilangan banyak hal tentangmu. Dan mata itu, matamu tidak pernah memandangku dengan tatapan yang sama. Mata itu sudah berubah. Mata dengan penuh kekosongan.
Dan pagi itu aku sadar, kau tidak sepenuhnya salah. Entah di bagian mana yang salah, yang pasti, aku menemukanmu tidak bahagia bersamaku. Mungkin karena keluhan-keluhanku padamu, atau aku yang terlalu memanjakanmu. Entahlah……
Maafkan aku, Sayang, tak seharusnya kau mengetahui ini semua melalui tulisan ini. Seharusnya semua kalimat-kalimat ini keluar dari mulutku langsung. Aku tiba-tiba berubah menjadi pengecut. Aku terlalu takut jika semua ini menyakiti perasaanmu atau membuatmu marah padaku.
Sekarang aku percaya bahwa jarak dan waktu akan menjawab semuanya. Aku sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku selama ini.
Maafkan aku, Sayang. Aku membuatmu bertanya-tanya selama satu bulan belakangan ini karena tingkahku yang mengacuhkanmu sedikit demi sedikit. Membuatmu tidak nyaman dengan melangkah mundur dengan perlahan dari hari demi hari. Maafkan aku yang sudah tidak bisa ber-sabar lagi. Aku bukan kekasih yang baik.
Maafkan ketidak sempurnaaku dalam mencintaimu.
Terima kasih telah mencintaiku sepenuh hatimu.
Semoga Tuhan selalu menjagamu dan keluargamu. Berjanjilah untuk selalu kuat dan hidup, setidaknya hidup demi anakmu.
Selamat Tinggal.
Aku yang masih mencintaimu,
Ma Cherie