Semua orang berhak untuk bermimpi!

By the Swan River in Perth, Western Australia

Saya ingin berbagi pesan dan nasehat untuk anak-anak muda di luar sana khususnya yg di desa, dari keluarga dengan latar belakang ekonomi kurang mampu, dan broken-home.

Jangan pernah menyerah dalam menggapai mimpi. Jangan merendah diri karena kita terlahir di desa dan keadaan yang pas-pasan. Bermimpi itu adalah hak semua orang.

Saya dulu sering dibilang orang aneh bahkan banyak di lingkungan keluarga saya yang tidak percaya akan mimpi saya. Ya mimpi yg sepertinya hanya patamorgana dan tidak pernah ada di kamus orang desa, khususnya keluarga saya, yang mana hampir tidak ada dari kami yang tamat SMA, bahkan yg tamat SMP pun terbilang langka.

Acap kali saya kehilangan semangat karena boro-boro mendapatkan dukungan materi, dukungan moral dan penyemangatpun tidak ada. Bahkan beberapa dri mereka mematahkan semangat saya. Tapi ya sudahlah, saya pun tidak pernah menyalahkan mereka karena mungkin keterbatasan ekonomi, pengetahuan dan pola pikir mereka.

Menyelesaikan pendidikan SMA pun saya harus bersusah payah, bekerja paruh waktu demi untuk bertahan hidup dan menabung, juga untuk berbagi degan kedua adik saya yg masih kecil. Malang sekali nasib kami ditinggal cerai orang tua dan terlunta2 bagaikan parasit bagi keluarga yg lain.

Saya bahkan harus tinggal dg orang lain yg bisa membiayai sekolah SMA saya saat itu, bantu2 di rumah dan warung makan, bahkan kerja cari batu d tambang emas pun saya lakoni.Ya tidak terlalu buruk, sebliknya banyak life-skills yg saya peroleh dari pengalaman itu; saya jadi bisa memasak, mengerjakan pekerjaan rumah dan berdagang. Saya tidak pernah merasa malu, karena yg ada dipikiran saya saat itu hnyalah sekolah. Saya hrus tamat SMA. Alhamdulillah semua itu tercapai.

Bisa kuliah S1 itu bagaikan pungguk merindukan bulan, bahkan untuk membayangkannya pun saya takut. Saya sering merasa terkucil n sedih saat teman2 SMA saya ngobrol tentang rencana kuliah mereka setelah tamat SMA. Saya merasa minder meskipun saya selalu juara kelas n sering memenangkan berbagai lomba. Saya sering menangis dan berharap andai saja orang tua saya masih bersama, pasti mereka akan menguliahkan saya. Tapi smua itu hanya sekedar harapan yg pupus.

Namun berkat kerja keras dan keuletan menabung serta ikut lomba, saya bisa masuk kuliah dg uang saya sendiri. Andai saja saat itu informasi beasiswa dapat diakses semudah sekarang, mungkin perjuangan saya tidak akn sekeras dulu. Datang meminta bantuan ke pemerintah daerah pun tidak berbuah manis. Hanya menambah sakit hati dan malu karena menengadahkan tangan utk meminta.

Masa2 kuliah terasa sangat berat karena saya harus bekerja paruh waktu tiap hari dengan menjadi tenaga pengajar di lembaga kursus Bahas Inggris, kadang saya juga mengambil upah mencuci baju teman. Seringkali saya hampir cuti kuliah karena tidak bisa membayar SPP, beli buku, bayar tempt tinggal, dan untuk makan. Bahkan beberpa kali saya merasakan yg namanya “kelaparan” karena tidak bisa beli makan, bahkan 1 bungkus indomie tak mampu saya beli. Tapi Tuhan tidak pernah diam, rezeki saya diturunkan lewat pekerjaan yg tidak terduga dan teman-teman yg baik dan supportif. Terimakasih kawan, saya rindu kalian.

Tapi tidak akan ada hasil yang mengkhianati kerja keras. Kalaw kita berjuang pasti bisa, yakinlah bahwa Tuhan tidak akan membiarkan orang-orang yg berusaha keras berjalan sendiri dan tidak menuai hasil. Saya akhirnya bisa lulus kuliah dg hasil yg memuaskan. Lulus dg predikat cum laude, termuda, dan tercepat; 3 penghargaan saya raih sekaligus. Pertama kalinya dlm sejarah pendidikan di Universitas Palangkaraya. Senang, lega, serta tangis haru semua bercampur aduk saat itu.Saya cubit tangan saya utk memastikan itu bkan mimpi, eh emang benar kenyataan ternyata karena terasa sakit.

Masuk di dunia kerja tidak begitu menjadi permasalahan bagi saya karena saya sudah terbiasa bekerja sejak kecil dan karir saya Alhamdulillah berjalan mulus smpai hari ini. Saya bisa bekerja di salah satu proyek International Labour Organization (ILO), menjadi tenaga pengajar di Australia, di LSM Internasional di bidang pembangunan berkelanjutan dan terakhir di Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Tidak pernah berhenti berkah dalam kehidupan anak Dayak Bakumpai yg satu ini, saya berhasil mendaptkan beasiswa S-2 ke Australia dan akan berangkat pada awal tahun 2017.

Me in 2014

Bermimpilah setinggi langit, kejar mimpimu, bekerja keraslah demi mimpi2 itu. Jadilah insan yg berguna bagi keluarga dan lingkungan sekitar.

Salam,

Randi Julian Miranda
Anak Desa dengan Mimpi Setinggi Angkasa.