15 ribu yang Berkesan

Randra Iqbal
Nov 5 · 4 min read
Foto ini diambil sebelum hujan deras membasahi tubuh kami

“15 ribu untuk perjalanan kamu dari pagi sampai sore hari”

Memang benar, materi tentang negosiasi dan rencana perjalanan teruji pada hari ini. Hari dimana kami dibagi beberapa kelompok untuk menyelesaikan suatu misi dan tugas. Semua diawali pada pagi hari, sekitar jam 10, berbelanja dengan uang 10 ribu rupiah per orang, membuat kami memutar otak agar semua itu cukup untuk perbekalan.

Semua tugas diberikan, adalah tugas berupa clue atau teka-teki tentang sebuah tempat dimana kita harus menyusuri tempat tersebut, dan selama perjalanan tak lupa kamera tidak lepas dari genggaman untuk menangkap setiap momen yang ada.

“Merekam peristiwa”, adalah clue pertama yang diberikan pada kami, emm setelah berpikir sejenak, kami memutuskan untuk berjalan ke sebuah tempat dibawah Jembatan Pasoepati, seiring perjalanan kami bercerita atau bahkan bertanya mengenai hal yang personal dengan kelompok kami, ini bertujuan agar kami bisa saling mengenal dekat satu persatu anggota kelompok kami.

Sesampainya disana, kami tak menemukan apa-apa, tak ada seorang pun yang kami kenal, duduk ataupun bersantai di rumput sintetis, Taman Film. Kami terus meyakini bahwa itu adalah tempat yang benar dan terlebih hal itu diyakinkan oleh yerikohartanto bahwasannya tebakan kami telah tepat. Setiap orang yang yang ditemui, kami tanyakan apakah dititipi sesuatu kertas ataupun teka-teki, namun itu semua nihil.

Kurang lebih 45 menit kami mencari, kemudian ada sebuah notif line, ternyata konfirmasi yang diberikan tentang tempat tersebut salah, omaygat. Lantas terbesit pikiran untuk naik gocar saja, lebih mudah dan efisien, lalu kami teringat, uang kami hanya 15 ribu, bahkan untuk makan besar saja tak cukup. Akhirnya kami memutuskan untuk jalan ke arah Baltos.

Tuhan memberikan kami jalan, kami bertemu dengan salah seorang teman dari Kharits, rekan satu timku, ternyata ia mau pulang, dan beruntungnya ia membawa mobil! Lantas tanpa berpikir panjang, kami pun langsung meminta tolong untuk mengantarkan kami ke sebuah tempat, Taman Fotografi.

Taman fotografi masih disebrang, kami harus berjalan sekitar 100 meter dari tempat kami diantar, benar saja, sampainya disana tiga orang keluarga DK sudah menunggu. Istirahat sebentar, kami pun mulai menceritakan foto yang telah kami dapatkan selama perjalanan. Aku bercerita mengenai gambar yang aku potret, sebuah perkataan dari Nelson Mandela, pejuang persamaan hak kulit hitam dan kulit putih.

It always seems impossible until it’s done — Nelson Mandela

Sebuah perkataan yang menyadarkan bahwa tidak ada hal yang mustahil, yang ada hanya rasa pesimisitis kita terhadap kemampuan diri sendiri. Setelah itu kami diberikan clue yang mengkomandoi kami untuk berjalan kembali, menyusuri terik matahari ditengah hingar bingar Kota Bandung, Taman Lansia.

Foto ini diambil ketika saya berjalan menuju Taman Lansia

Ada hal yang sangat menarik yang saya menjumpai sesaat setelah saya mengambil gambar ini. Oh iya, namanya Adit, 5 tahun usianya. Dia suka banget sama permen, tercermin dari ia selalu menjilat nya selama perjalanan keliling kota. Ketika saya berbicara dengan ayahnya dan bertanya alasan apa yang membuatnya mau memilih liburan naik kuda dibandingkan menghabiskan waktu di mall. Jawabannya sederhana, “ Karena aku ingin mengenalkan alam pada anakku supaya kelak dia akan menjaganya.”

Sesampainya di Taman Lansia, kita disambut oleh keluarga DK, ada Kak Faizah Khairunnisa dan Kak suaralam yang ternyata sudah memulai sesi sharing nya sejak 15 menit yang lalu, wah ternyata aku ketinggalan cukup banyak cerita menarik. Kak Abdan menceritakan pengalaman dia menyusuri perbatasan di entikong dan Kalimantan Barat, tak mau kalah Kak Caca juga menceritakan pengalaman hampir di begal ketika melakukan ekspedisi ke Pulau Nias, pengalaman dari kakak-kakak itu menyadarkan kami, bahwa ekspedisi tidak akan berjalan dengan mulus yang sesuai dengan harapan kami, tapi satu hal yang terpenting, bagaimana kita menyikapi ujian kami nanti dengan lapang dada dan sabar.

Tak lama hujan rintik disertai suara petir semakin menjadi, air mengucur bak tangisan yang tak terbentung, kami memutuskan untuk meneduh sejenak di mushola sambil melanjutkan obrolan hangat kami.

Senja, sebelum hujan datang

Jembatan kosong, Taman Lansia diresmikan pada tahun 2014 oleh walikota Bandung. Banyak fasilitas yang diberikan, salah satunya sebuah jembatan dibawah pohon rindang ini, yaa untuk sekedar bersantai dengan segelas kopi hangat yang menambah kesenduan senja Kota bandung.

Setelah hujan reda, kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju tempat terakhir, yaitu kampus kami, ITB, sambil menikmati suasana sore Kota Bandung yang sejuk sehabis diguyur hujan.*Foto di awal cerita

Sampainya di kampus, kami pun bercerita dan tertawa bersama dengan hal-hal menarik dan lucu yang kami alami bersama. Perjalanan Ekspedisi yang berkesan untukku~

#DiseminasiKhususAMI2020
#AkuMasukITB2020
#AMI100TahunITB
#MenjelajahiNegriBersamaAMI

    Randra Iqbal

    Written by

    Instagram : randraiqbal

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade