Kepada Gadis Misterius

Akhirnya, aku pun harus menuliskannya.

Aku ingat. Walau tak tahu persis kapan waktunya. Aku ingat bahwa ada seseorang yang pernah berkata; Hal paling buruk yang bisa menimpa dirimu adalah dengan membohongi dirimu sendiri. Dan, yang buruknya lagi adalah hal itu bisa menimpa semua orang ; bahkan yang bijaksana sekalipun.

Kemarin, aku sedang duduk. Seperti yang kau tahu — aku sedang beradaptasi dengan lingkungan baruku. Sebenarnya, kota ini terlalu ramai buatku, sampai-sampai kepalaku hampir meledak, saking ramainya kota ini.

Jadi hari ini kuputuskan untuk berbaring di kamar saja. Memilih untuk tidur siang, sambil mendengarkan — tunggu, aku sedang memikirkan kira-kira lagu apa yang cocok didengarkan sebagai pengantar tidur. Awalnya, aku ingin memutar lagu ‘Latch’ — nya Disclosure ft Sam Smith, namun tepat diatasnya ada sebuah lagu yang membuatku mengerutkan dahi. Sebenarnya, tak ada yang aneh dari lagu ini, namun entah kenapa lagu ini membuatku selalu mengingatmu.

Aneh, kenapa lagu ini masih saja ada di playlist-ku? Oh, Maaf aku lupa menyebutkan judul lagunya. Lagu ini dinyanyikan oleh musisi kesukaanmu — Maroon 5, yang dimana vokalisnya hampir dipuja-puja oleh semua gadis di dunia, saking tampannya.

Aku pernah menyukai Maroon 5 — namun, itu sudah lama sekali. Kalau tidak salah aku mulai mendengarkannya sejak aku duduk di kelas 3 SMP. Dan sekarang aku lebih jarang mendengarkan musisi kesukaanmu itu, bukan karna tidak menyukainya lagi namun akhir-akhir ini orientasi musikku cenderung ke arah musik yang lebih tidak ramai seperti; Folk Jazz dan terkadang Blues.

Lady Killer; itulah judulnya. Nilai bahasa inggrisku tidak terlalu bagus-bagus amat, namun jika di artikan ke dalam bahasa Indonesia berarti ; Wanita Pembunuh atau bisa jadi Pembunuh Wanita (Bisakah kau beritahuku mana yang benar? )

Kau pasti heran mengapa aku menuliskan surat ini untukmu, kan? Maksudku, kau pasti bertanya-tanya, apa tujuanku menuliskan surat ini untukmu?

Aku punya beberapa alasan yang bagus mengapa aku menuliskan surat ini untukmu.

Pertama. Aku saat ini sedang dalam proyek menulis buku pertamaku. Jadi, menulis surat buatmu bisa melatihku merangkai kata-kata dengan lebih sempurna. Biar kuberi tahu satu hal; Menulis itu sangat susah sekali. Aku mengerjakan bukuku hampir dua tahun, dan kau tahu apa? Sampai sekarang buku itu belum juga selesai. Aku berencana menyelesaikannya akhir tahun ini. Doakan saja.

Kedua. Menulis surat untukmu, seperti belajar sesuatu yang baru. Entah mengapa — menurut pendapatku — kau itu bagaimana orangnya? Sedikit unik, mungkin bisa dibilang begitu. Aku sering memperhatikanmu, walaupun kita jarang sekali berbicara namun aku bisa melihat ke dalam matamu — tentu saja aku melihatnya dari jauh karna kau itu orangnya sedikit galak. Bisa-bisa saja kau membunuhku jika aku ketahuan memperhatikanmu.

Ini hanya pendapatku saja — jadi, bisa saja benar dan bisa saja kemungkinan besarnya salah. Walaupun aku orangnya sering bercanda dan terkesan tak mau tahu, namun diam-diam aku sering memperhatikan semua orang yang kukenal — termasuk kau. Menurutku — kau ini orangnya cukup konsisten. Terbukti dari kisah asmaramu. Aku tak ingin menyinggungnya, karna itu urusan pribadimu — namun dari situ aku bisa melihat bahwa konsistensimu cukup bisa diancungi jempol.

Dari yang kutahu — tentu saja dari buku-buku yang kubaca — bahwa wanita itu lebih menggunakan perasaannya ketimbang logikanya. Seperti umumnya wanita, kau juga seperti itu. Namun bukan berarti kau mengesampingkan logikamu. Jika memakai angka statistik, kau menggunakan emosi 51% dan 49% nya lagi logikamu, jadi kau orangnya bisa dibilang cukup bijak.

Aku juga sering memperhatikanmu berdiri di depan pintu kelasmu. Dan kutebak, kau juga sering memperhatikan orang-orang. Jadi kupikir kau juga punya sifat ingin tahu. Menyenangkan namun sedikit berbahaya, bukan?

Yang anehnya lagi adalah aku sedikit takut terhadapmu. Menurutku, kau seperti punya kekuatan di dalam dirimu yang berbahaya jika sampai diusik. Namun, semakin aku tidak mengetahuinya semakin aku ingin mengusiknya. Sampai sekarang aku masih bisa menahan diriku untuk tetap terus mengabaikannya, dan aku tidak tahu sampai kapan. Jika aku tiba-tiba menanyakan nomor teleponmu, berarti artinya rasa penasaranku sudah mencapai puncaknya. Semoga saja itu tidak terjadi.

Masih banyak yang belum kuketahui tentangmu. Kau seperti misteri yang tak bertepi — seperti layaknya lautan luas — tak ada yang tahu apa yang ada di dalammu — Bulan saja bisa tenggelam ke dalammu. Dan anggap saja aku hanyalah seorang penyelam — dan artinya, butuh waktu setidaknya dua puluh tahun lagi untuk mengenalmu dengan baik.

Dan yang ketiga, alasan utama kenapa aku menulis surat ini adalah karna tiba-tiba saja aku memikirkanmu, tentu saja karna ke-tidak-sengaja-anku mendengarkan lagu itu. Aku cukup menyukaimu. Sebagai seorang wanita, tentu saja kau cukup menarik. Tapi, aku menyukaimu bukan karna perasaan cinta atau apapun yang berbau romantisme omong kosong — aku baru saja patah hati, jadi semua hal yang menyangkut romantisme membuatku mual akhir-akhir ini.

Aku menyukaimu lebih ketimbang ketertarikan mental dan intelektual. Memang, kita belum pernah duduk sambil bertukar pikiran. Tapi, aku yakin akan ada saatnya, itupun jika kita masih berumur panjang. Lagipula, kita semua sedang sangat sibuk, belakangan ini, kan?

Aku tidak bermaksud sama sekali, untuk merayumu dalam surat ini. Karna aku bukan seorang pujangga dan aku juga tidak mencoba mengubah pandanganmu terhadapku. Tujuanku menulis surat ini adalah agar kau tetap melihatku seperti orang yang kau kenal. Bocah periang yang cukup menyebalkan.

Dan terakhir, karna juga aku cukup peduli terhadapmu — aku ingin agar kau tetap menjadi dirimu sendiri. Jangan pernah berubah. Karna aku mengenalmu juga seperti dirimu, bukan orang lain. Tetap lah konsisten dan lakukan apa saja yang menurutmu benar, baik itu menggunakan logika atau perasaanmu. Dan tetaplah menjadi ingin tahu, itu bagus tapi jangan berlebihan. Karna asal tahu saja aku sudah pernah kena batunya karna terlalu ingin tahu. Kurasa kau cukup tahu batasan yang wajar ketimbang diriku. Karna dilain sisi kau orang yang cukup berhati-hati dan aku cukup ceroboh dalam bertindak.

Seperti yang kubilang; Hal yang paling buruk yang bisa terjadi dengan diri kita adalah membohongi diri kita sendiri. Dan aku tidak mau hal yang buruk terjadi padaku. Jadi, aku ingin jujur bahwa aku cukup menyukaimu.

Semoga impianmu tercapai, apapun itu.

NB: Kau boleh membalas surat ini, atau sekedar membacanya atau abaikan saja.

Pengamat nomor satumu.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Randi Arif Ananda’s story.