Aku dan waktu senjaku

Setiap senja aku Tenggelam di pikiran pikiran fiksi tentangmu. Di bawah langit yang rusak dan tua mencoba mengait benang akalku menuju surga. Ijinkan aku mengusap debu di wajahmu. Aku tidak meminta kau membuka pintu. Aku hanya ingin kau membuka jendela dan melambaikan tanganmu. Agar singa dalam hatiku tidak menerkamku dengan puing puing keputus-asaan. Kuhabiskan sebotol waktuku hanya untuk mencuri harta yang kau sembunyikan di dalam rumahmu. Harta yang paling diinginkan semua pria di tanah gersang ini

Senja adalah lukisan teromantis dari tuhan. Saat sepasang burung camar bercinta di atas kepalaku. Memori-memori manis menari-nari dengan riangnya. Seakan ingin mengajaku terbang dengan sayap yang kau jahitkan untukku. Aku tidak suka berharap banyak. Tidak banyak hal yang kusukai di dunia yang palsu ini. Tetapi kupastikan senyummu adalah hal terakhir yang ingin kulihat sebelum senja menghilang.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.