#BatikIndonesia Meleburnya Seni, Budaya dan Alam Dalam Sehelai Kain Batik

Batik Indonesia

Batik adalah seni, budaya dan alam.

Bicara tentang batik, ingatan saya terlempar pada beberapa bulan lalu. Ketika itu, jari ini tengah asyik menggeser status demi status di beranda Facebook. Hingga jari ini terhenti pada sebuah foto. Foto yang membuat saya tertegun lama. Di foto tersebut memperlihatkan seorang Ibu dengan tekun mengajarkan cara membatik pada seorang wanita asing. Antara haru dan bahagia bercampur satu saat melihatnya yang kemudian membentuk segaris senyum di wajahku. Membaca keterangan foto tersebut, si Ibu tengah menghadiri Eksibisi Internasional LNG 18 di Perth, Australia, dan mengisi stan Pertamina. Dalam hati saya membatin, “Batik dicintai oleh dunia.”

Sumber : Facebook Iqbal Aji Daryono — Foto yang membuat saya tertegun lama dan pada akhirnya mengukir senyum di wajahku

Tapi, ada satu hal yang mengusik pikiranku setelah menutup laman Facebook. Siapakah yang akan meneruskan tradisi membatik ini? Apakah batik tradisional bisa bertahan di tengah gempuran industri kain motif batik?

Batik tradisional vs kain motif batik (batik printing)

Di Indonesia kita mengenal 3 macam batik tradisional, batik tulis, batik cap dan batik cap campur tulis. Ketiga batik tersebut harganya memang tidak murah karena proses pembuatannya tidak sehari selesai melainkan berminggu bahkan bulanan.

Perkembangan zaman sekarang ini membuat segalanya menjadi mudah. Pun termasuk proses batik di dalamnya. Hadirnya batik printing di tanah air tak pelak membuat industri batik tradisional mengalami kelesuan dalam hal penjualan.

Batik printing hadir sebagai jawaban atas permintaan pasar yang menginkan batik dengan harga murah. Sejatinya batik printing ini bukanlah batik. Seniman batik menyebutnya, kain motif batik. Ini terkait dengan pakem utama sebuah batik di mana ada unsur tangan manusia dan bahan alami di dalamnya. Dan ini tidak ada sama sekali di kain motif batik.

Industri batik pun mulai bergeser. Harga murah dan pengerjaan yang cepat membuat kain motif batik ini menjadi primadona pasaran. Otomatis membuat industri batik tradisional omsetnya menurun drastis. Beberapa industri batik tradisional mau tak mau harus mengurangi produksi juga pengrajin karena terbatasnya permintaan.

Apakah hal ini akan membuat batik tradisional menghilang dari pasaran? Tidak! Batik tradisional ini tetap dicari. Ada sebagian kecil masyarakat yang menjadi kolektor batik tradisional. Ini seperti oase di padang gurun. Kehadiran mereka walaupun kecil tapi memberi angin sejuk untuk para pengrajin batik tradisional untuk terus membatik.

Geliat industri batik di tanah air

Industri batik di tanah air mengalami pasang surut. Khususnya di Pulau Jawa, sempat mengalami perkembangan pesat di era 70-an. Namun mengalami kemunduran yang disebabkan oleh krisis moneter di tahun 1997. Belum lagi ditambah tragedi bom Bali 1 dan 2 yang memperkeruh keadaan. Dan dilengkapi oleh bencana alam yang terjadi di Yogyakarta beberapa tahun silam.

Beberapa tahun belakangan ini, industri batik mulai menggeliat lagi. Salah satu industri batik yang tidak terlalu terpuruk dan lumayan berkembang adalah batik Pekalongan. Saat ini, industri batik Pekalongan memiliki 2608 unit usaha yang tersebar di kota Pekalongan. Pada umumnya hasil produksi dari industri Pekalongan adalah batik cap dan batik printing. Karena proses produksinya lebih cepat dan harga tidak terlalu mahal. Sedangkan untuk batik tulis hanya diproduksi berdasarkan pesanan karena fakto pembuatan yang lama dan harga relatif mahal.

2 Oktober 2009 merupakan awal sejarah baru untuk batik di tanah air. Di tanggal tersebut, UNESCO menetapkan bahwa batik merupakan warisan budaya dari Indonesia. Euforia pun melanda seluruh masyarakat. Kini, setiap tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai hari batik nasional. Barangkali, inilah yang membuat gairah industri batik kembali menggeliat.

Selain Pekalongan, batik Solo dan Yogyakarta kini mencuri perhatian wisatawan dalam dan luar negeri. Setiap akhir pekan, Kampung Batik Laweyan Solo tidak pernah sepi pengunjung. Bus-bus berjejer rapi di depan butik-butik batik. Jangan salah, di butik- butik tersebut hanya dijual kain batik tradisional lho.

Kini batik tak hanya dimiliki oleh pulau Jawa saja. Pulau Sumatera memiliki batik tersendiri dengan corak garis-garis mirip songket, ada juga batik jumputan khas Palembang. Dari wilayah tengah Indonesia, batik jumputan sasirangan mewakili tanah Kalimantan. Batik bentenan sekarang menjadi ciri khas fashion masyarakat Sulawesi Utara. Tak ketinggalan, batik Papua kini menjadi incaran masyarakat karena ke-khas-an motifnya. Lihatlah, perkembangan industri batik kini serentak di seluruh bagian Indonesia dari Sabang hingga Merauke.

Saat ini yang menjadi ancaman bagi industri batik tanah air adalah persaingan di tingkat internasional dalam hal harga dan hak paten. Dan industri yang sulit berkembang akibat iklim usaha yang kurang mendukung seperti peraturan, birokrasi, keamanan dan sosial politik.

Berlakunya perdagangan bebas membuat pengusaha batik untuk usaha kecil menengah khawatir. Karena tanpa adanya regulasi dari pemerintah, produk Cina akan terus membanjiri pasar batik di Indonesia. Dengan harga murah, produk Cina diburu oleh konsumen di Indonesia. Oleh karena itu para pengusaha batik tanah air harus jeli melihat peluang yang ada. Karena, walaupun harga mereka murah, tapi kualitasnya masih di bawah produk Indonesia. Dan untuk masalah motif batik, industri batik kita memiliki ciri khas tersendiri yang sulit untuk ditiru dan ada baiknya segera mempatenkan setiap desain motif yang telah ada.

Batik antara tradisi dan inovasi

Batik sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Betul?

Coba dilihat, instansi pemerintah maupun swasta kini mewajibkan karyawannya mengenakan batik di hari-hari tertentu. Batik pun sering digunakan untuk ritual adat ataupun pernikahan. Bahkan, dunia fashion pun turut larut dalam tradisi ini. Sebut saja nama besar Alm. Iwan Tirta yang selalu memasukkan unsur batik di tiap rancangannya. Barisan berikut ada Ghea Pangabean, Carmanitha, Alm. Ramli, Chossy Latu, Danar Hadi, Poppy Dharsono, Edward Hutabarat dan Anniesa Hasibuan, mereka adalah desainer-desainer yang membawa batik dikenal di dunia internasional.

Para desainer tersebut masih memegang teguh batik tradisional di setiap detail desain mereka. Bahkan tak tanggung-tanggung, mereka memiliki pengrajin tersendiri dan menciptakan corak terbaru sebagai bagian dari inovasi.

Tradisi dan inovasi dalam batik berjalan bersisian.

Inovasi dalam hal ini pengembangan corak dan penggunaan pewarna alami. Corak sekarang pun masih erat kaitannya dengan alam. Bisa dilihat dengan pemilihan bunga, tumbuhan atau hewan sebagai corak batik.

Penggunaan corak alam saya temui di salah satu butik batik di kawasan Kampung Laweyan Solo. Ketika memilih batik, saya pun bertanya tentang corak khas butik tersebut.

“Mbak, saya desain sendiri corak untuk batik di butik ini. Sekarang lagi tren corak bunga. Dan rata-rata, untuk corak tersebut saya pakai di batik tulis,” ujar Bapak pemilik butik Merak Manis.

Sungguh saya senang mendengarnya. Masih ada yang menyelaraskan tradisi dengan inovasi dalam selembar kain batik.

Sekarang pun inovasi batik tradisional ini melebur dalam produk fashion seperti tas dan sepatu yang lahir dari para pelaku UKM. Hal ini tentunya membawa angin segar bagi masyarakat yang ingin memiliki batik tradisional dengan harga terjangkau.

Kalau ada yang mengatakan bahwa kain motif batik adalah inovasi dari batik, itu salah besar! Perlu kita ingat bahwa kain batik itu memegang teguh pakemnya. Di mana ada sentuhan tangan manusia, alam untuk corak, bahan alami untuk menggambar dan mewarnai. Batik dan alam adalah satu entitas, itu tidak akan pernah kita temui di kain motif batik!

Batik tradisional apa akan terus ada atau tergerus gempuran kain motif batik?

Kembali lagi ke pertanyaan awal tulisan ini.

Siapakan yang akan meneruskan tradisi membatik ini?

Beberapa tempat yang sudah saya kunjungi, di situ saya melihat ibu-ibu berumur sekitar 40–50 tahun yang menjadi pembatik.

Apakah ada regenerasi?

Saya yakin ada! Pemilik usaha batik pastinya akan merangkul masyarakat sekitar untuk membatik. Dan perlu digarisbawahi, ternyata membatik ini menumbuhkan satu rasa yaitu kekeluargaan. Mereka merasa saling memiliki dengan adanya batik ini. Mereka tak sungkan meluangkan waktu untuk membatik.

Saya berandai, pemilik usaha batik mengadakan sebuah training kecil-kecilan untuk ibu-ibu rumah tangga yang ingin belajar batik. Di situlah akan hadir generasi penerus membatik. Mereka membatik karena kemauan dan masalah uang menjadi nomor dua.

Kelak, dari mereka akan hadir pembatik-pembatik yang tak pernah lelah menjaga tradisi batik tradisional.

Di mana peran kita untuk menjaga tradisi ini?

Banyak yang bisa kita lakukan untuk menjaga tradisi ini salah satunya paling mudah adalah mengenakan busana batik ketika menghadiri acara formal maupun semi formal.

Dengan sehelai kain batik, kita bisa membuat beragam desain busana sesuai keinginan kita. Tak cukup sampai situ, kita pun bisa menggunakan tas atau sepatu batik untuk sehari-hari.

Memang sih, harga kain batik tradisional itu tak murah. Tapi, kita tidak sedang membeli kainnya saja kan. Cobalah sesekali tengok ke pameran UKM, di sana banyak menjual produk-produk yang menggunakan kain batik tradisional. Atau buka Instagram dan kalian akan temukan beberapa online shop yang menjual kain batik, busana, tas hingga sepatu batik. Harganya? Murah meriah alias terjangkau kantong. Kualitas? Bisa diadu dengan brand terkenal.

Mencintai batik ada baiknya kita ajarkan sedini mungkin ke anak-anak. Lihatlah Jepang, mereka sukses mempertahankan budaya walaupun dibombardir oleh industri barat. Kenapa? Karena mereka telah menanamkan cinta budaya sejak kecil. Sehingga telah mendarah daging dan sulit untuk digantikan. Jika mereka bisa, mengapa kita tidak?

Kita patut berbangga dan berterima kasih pada para leluhur karena mereka berhasil memadukan unsur seni, budaya dan alam dalam sehelai kain batik. Satu warisan yang membuat bangsa kita memiliki identitas tersendiri di mata dunia internasional.

Jadi, jangan pernah mengaku cinta batik kalau masih menggunakan kain motif batik!

Sumber :

academia.edu : Analisis industri batik di Indonesia oleh Nurainun, Heriyana dan Rasyimah

ranny

Momblogger. Mom of A&K. Contributor and Editor at Rocking Mama. Bookaholic. Shoes and Bag’s lover. Movie freak. Prefer staying in at home. An Aquarian. Amateur Photographer.


Originally published at www.hujanpelangi.com on October 10, 2016.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.