Tak ada yang salah dari perubahan seseorang.

Yang salah adalah kenapa kita malah mempertanyakannya.

Times change, people change.

Kalau saya pikir kembali kutipan itu mulai sekarang, saya jadi seperti ‘dibangunkan’ oleh suatu hal. Kutipan itu bukan kalimat untuk menyadarkan kita. Eksistensinya bukan untuk, “Hei, Nak, seseorang berubah seiring dengan waktu; maka tak perlulah berlarut-larut dalam kesedihan!” tapi kalimat ini ada sebagai fakta.

Ya, orang memang berubah sebagaimana waktu terus berjalan. Lalu?

Adik satu-satunya saya diterima di SMA favorit di kota, dan seiring dengan waktu saya merasakan perubahannya; serta bagaimana itu berefek juga pada saya. Ia cenderung lebih sering bepergian, memonopoli hak kepemilikan motor, selalu pulang malam, bangun terlambat, gabung kepanitiaan ini-itu, pergi ke sana-sini, menghilang pula di hari Minggu (memangnya berada di sekolah enam hari kurang, ya?).

Selera humornya berbeda, aliran musik favoritnya berbeda, ia menjadi orang yang benar-benar lain … oh, tahukah kamu tipe anak di sekolah yang dikenal satu angkatan? Penyebar poster malam untuk event sekolah, menjadi MC dadakan pada hari H festival, notifikasi pesan masuk selalu berbunyi terus dari ponselnya tiap dua detik? Yah, tipe anak seperti itu —iya, saya berani jamin jenis anak yang seperti itu selalu ada di semua sekolah; setiap langkahnya seolah diikuti lampu sorot ke mana-mana —itulah adik saya.

Yang sekarang. Bukan yang dulu.

Kenapa?

Bertanyalah pada diri sendiri.

Tepatnya kemarin, saya mengucapkan sebaris kalimat pada adik saya yang sudah saya pendam sejak sangat lama: “Dek, sekarang jadi menyebalkan.”

Oh, sayangnya tak ada drama selepas itu karena adik saya hanya menjadikan rumah sebagai transit. Ia perlu mengambil baju ganti di lemari kamarnya dan pergi lagi menginap di rumah teman. Sehingga yang ia katakan padaku sebagai balasannya hanya, “Mmm. Maaf?” dengan tanda tanya yang membuatnya harus menaikkan intonasi suara. (Dan itu menjadikan maknanya berantakan, tak ada maaf sungguh-sungguh di sana.)

Saya tak membalas dan ia pun tak mempermasalahkan. Maaf ya, barangkali kekesalan (kekecewaan) saya tak selevel dengan problema event atau beban tanggung jawab yang ia punya. Jadi ia berangkat dan saya hanya mendengar suara mesin motornya menjauh.

Saya mempertanyakan. Kenapa?

Apa wajar setiap orang berubah?

Tapi apabila berubah sedrastis ini … rasanya aneh. Rasanya jadi asing. Rasanya konversasi yang lumayan berfaedah di antara kami berdua hanya saat adik saya datang ke kamar dan pinjam karet penghapus. Lainnya tidak.

Saya sering sekali menghabiskan waktu dengan kedua orang tua saya tanpa adik, bahkan pernah selama sebulan penuh aplikasi galeri saya hanya berisi swafoto antara saya dan ibu-ayah. Kami pergi ke warung, kami ke rumah eyang, merayakan ulang tahun tante, menemani ayah memenuhi janji dengan rekannya, terlalu banyak.

Rasanya saya jadi anak tunggal saja.

Pernah sekali kami makan berempat, dan nyaris selalu percakapan jenaka yang saya buat hanya mengundang tawa ibu-ayah saja. Atau saat di mobil, adik saya tertawa tiba-tiba sambil memandangi layar ponselnya dan ibu saya memaksa untuk menceritakan apa yang terjadi, selalu berakhir dengan kami bertiga tak yakin pasti bagian mana yang lucu dari rentetan kalimat itu.

Tapi, mendadak saya jadi terpikir pertanyaan yang ironis. Saya mengakhiri untuk mempertanyakan diri saya dan menemukan rumusan masalah baru; sebenarnya apa yang terjadi, sih?

Adik saya yang berubah,

atau saya yang tidak berubah?

… Lalu?

Dan jawabannya:

sayalah yang tidak berubah.

Pada dasarnya, seseorang memang akan berubah.

Times change, people change.

Kalimat itu sebenarnya berkata: “Hei, Nak, seseorang berubah seiring dengan waktu; jadi kenapa kau tidak?”

Kutipan tersebut ada sebagai fakta. Sebagai paksaan. Eksistensinya bukan untuk menyadarkan kita jadi menerima perubahan seseorang, namun untuk mencambuk kita agar berubah karena waktu terus berjalan.

Begitu kita menyadarinya, seolah-olah kalimat itu hidup —karena itulah yang selalu terjadi pada setiap kata-kata apabila kita berhasil dengan murni memaknainya —dan berputar-putar terus di kepala kita.

“Hei, hei, hei. Waktu tak berhenti. Janganlah seperti jalan di tempat, Nak;

kenapa kau tak berubah?”