Membiasakan

Dalam sebuah wawancara seleksi, salah seorang ditanya oleh pewawancara, ‘apa yang menjadi tujuanmu?’

Dan seseorang itu bukanlah aku. Aku tidak berkesempatan untuk diwawancarai. Tapi, jika kemudian aku ditanya tersebut, aku akan menjawabnya dengan satu kata, membiasakan.

Iya, membiasakan. Aku pun baru kepikiran beberapa hari yang lalu.

Karena bisa dimulai dengan biasa, dan biasa diawali dengan terpaksa. Biasa. Merupakan satu proses diantara bisa dan paksa.

Membiasakan menulis. Sebuah peradaban ditandai oleh warisan-warisannya. Mengembalikan peradaban pada peradaban Islam, perlulah kontribusi dari para pelakunya, sesama muslimnya.

Menulis perlu riset. Bahan bacaan, hasil diskusi, bahkan survey. Aku yakin, sedikit atau banyak, akan ada yang meresap pada masing-masing penghayatan. Usaha mengetuk hati, jika boleh aku bilang. Allah yang memberikan hidayah, tapi kita yang berusaha mencarinya.

Barakallah, selamat membiasakan, ratih, teman-teman semua. Semoga Allah mudahkan :)

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.