The way we talk to our children becomes their inner voice
Orang tua kerap tidak menyadari atau lupa akan ucapan atau tindakan mereka yang bisa berdampak buruk terhadap perkembangan anaknya. Memberi label negatif salah satu contohnya. Anda sebaiknya berhati-hati dalam memberi label atau ciri atau cap kepada anak mengenai perilaku, sifat, atau bentuk fisiknya. Label negatif sendiri biasanya akan diberikan ketika anak dinilai bodoh, malas, nakal, gendut, dan lain sebagainya. Padahal, label negatif itu sangat berdampak buruk terhadap rasa percaya diri anak.
Masalah utama pada dunia pendidikan saat ini adalah tingginya tingkat depresi pada anak-anak. Kuatnya tekanan dari orang tua yang terlalu terfokuskan pada pencapaian akademis anak di sekolah sangat berefek buruk pada rasa percaya diri. Alhasil, anak yang gagal mendapatkan nilai bagus di sekolah akan merasa gagal dan menilai dirinya sendiri bodoh. Bayangkan, apabila anak terus menilai dirinya seperti itu hingga ia beranjak dewasa. Ketika seorang anak terus mendengar label negatif yang diberikan orang tuanya, maka ia akan mulai mempercayai label itu, dan bahkan akan cenderung bersikap sesuai label yang ia terima.
Things to do:
Sebaliknya, label positif akan menjadi satu sumber support yang luar biasa efeknya kelak jika anak itu sedang dalam kondisi yang sedang down atau stress. Ketika orang tua selalu memberikan label positif pada anaknya, maka otomatis sang anak akan menilai dirinya dari sisi positif dan akan terus melakukan hal-hal yang juga positif. Namun, label positif yang berlebihan juga bisa membuat anak menjadi pribadi yang angkuh dan rentan terhadap stress ketika ia mengalami kegagalan.
Maka, ketika anak bersikap baik, anda tidak perlu ragu memujinya. Apabila anak berbuat salah, anda bisa menegurnya secara halus tanpa harus memarahinya. Pastikan untuk menjaga ucapan dan perilaku anda ketika sedang marah. Kids are very impressionable! Ketika anak berbuat salah, maka sebaiknya anda menyemangatinya agar ia bisa memperbaiki kesalahannya dan tidak lagi mengulanginya.
Ketika memberi label negatif pada anak maka kata-kata yang keluar dari mulut anda biasanya memiliki arti yang buruk. Anda bisa mengganti kata-kata itu dengan kata-kata yang lebih baik atau yang lebih halus. Contohnya, kata bodoh diganti dengan kurang bisa atau belum mampu. Anda juga harus menjelaskan kepada anak mengenai kata-kata itu adalah agar ia tidak mengulanginya lagi di kemudian hari.