Membangunkan Luka di Jogjakarta
- Hari itu langit Jogja sedang mekar. Kita
berdua duduk di kelopak bunga matahari,
memunggungi keresahan kekasihmu
dan membiarkan puisi ini bermula.
2. Pertama kali bersemuka dengan keasingan,
kau banyak menyembunyikan kegugupanmu
di balik kanvas. Aku meredam degub jantungku
dalam sajak yang berserakan di atas meja.
3. Terik siang hari datang menyingsing.
Aku meneguk kata-kata dan menyisakan
sejumput rasa pahit di tepian gelas kaca. Dari
sela jemarimu kata-kata telah habis terbakar
dan kau mulai memanggil-manggil masa lalu.
4. Samar-samar aku mendengar detik runtuh
dari atap kedai, lantas ia jatuh menghantam
lantai tempat kita membaringkan luka. Kau
sempat ingin menyapu puing-puing, tapi deru
waktu terus mengusir kita pergi.
5. Pukul 5 memaksa kita menuju kepulanganmu.
Langit mengantuk dan jalanan keruh. Aku seperti
merasakan kesunyian akan segera datang selepas
genggamanmu yang malu-malu.
6. Jogja membuat kita lupa betapa berbahaya
membangunkan luka yang lelap dalam kelambu.
Mulutnya bakal merengek dan memuntahkan
perih yang lain, sedang kelak kita akan terus bertanya
siapakah yang mampu menyembuhkannya lebih dulu.
Akankah kau
atau aku?
