monolog

Penat! Kepalaku rasanya mau pecah. Tas dan sepatu berserakan di depan pintu, badan kurebahkan di sofa tanpa cuci kaki lebih dulu. Mataku menatap langit-langit, setengah berharap kesunyian akan meredakan kepenatanku.

Punya segudang mimpi itu sama seperti latihan mengangkat beban berat, menurutku. Apalagi bagi seorang wanita. Harus berkompromi dengan impian yang kadang dibatasi oleh batas-batas imajiner dari realitas yang ada. Setiap kali aku menatap kaca, aku mempertanyakan setiap sisi mimpi dan usahaku untuk mencapainya. Kala semuanya terlihat terlalu sulit, keinginan untuk menyerah tidak sekali dua kali datang menghantui. Tidak merasa lebih baik dengan menatap langit-langit, aku berjalan menuju balkon, berharap benakku bisa lebih bebas bergerak dan lepas dari penat.

Ibukota memang punya berbagai sisi yang kontras. Dari dekat, nada klakson luar biasa menyebalkan, ribuan pengguna jalan yang tidak tertib tidak pernah ada habisnya, kesabaran bukan hal yang bisa ditawar. Tapi dari jauh, dari balkon kecil apartemen tempat aku berdiri, kesemerawutan Jakarta menjadi penghiburku satu-satunya. Ribuan titik lampu bertebaran dimana-mana, mengisi kelamnya malam yang kosong tanpa bintang. Lucunya, satu-satunya yang menenangkan benakku malam ini, adalah penyebab kepenatan itu sendiri.

Handphoneku berbunyi beberapa kali. Nama beberapa temanku terpampang di layar notifikasi, niatnya sama, mengajakku jalan-jalan dan menghibur diri. Tapi sepenuh hati, aku mengenal bagian diriku yang ini, kala penghiburan diri berarti tenggelam dalam sunyi dan diriku sendiri. ‘Sorry, I have some work to do’ adalah caraku berdalih dari niat baik teman-temanku. Yang butuh kulakukan malam ini adalah mematikan dering handphone dan menikmati kesendirian yang aku pilih.

Tidak ada yang salah dengan memilih untuk menyendiri. Bagiku ini adalah meditasi, seperti sebuah proses mengenal dan sepenuhnya paham pada setiap sisi dari pikiran, jiwa dan hati. Malam ini, aku butuh ruang untuk tenang, kemudian berdialog dengan bagian-bagian diri yang tidak pernah kubuka sepenuhnya pada orang-orang sekitar. Proses ini, adalah proses yang membantuku untuk mendewasakan diriku sendiri.

Topik dialog malam ini, adalah tentang pilihan dan impian. Aku berusaha menyortir pilihan dan komplikasinya terhadap impian, berusaha menciptakan gambaran visi dan konsekuensi atas pilihan-pilihan yang akan aku ambil.

Impian terbesarku, adalah sepenuhnya memiliki pekerjaan yang selaras dengan passionku. Menurutku, tidak ada yang lebih membahagiakan dari semangat dan perasaan berdebar saat mengerjakan sesuatu yang memang menjadi minatku. Tapi namanya juga dunia, suara sumbang berbunyi sana-sini. Kemungkinan bahwa passionku memiliki keinginan tidak bisa membawaku untuk memiliki kesejahteraan hidup yang cukup, sampai sekarang masih menjadi bayangan yang tidak pernah ingin aku setujui kebenarannya.

Impian lainnya, adalah berkeluarga. Berbagai ekspektasi pada pasangan hidup adalah salah satu faktor yang menahanku untuk menambatkan hati pada siapapun saat ini. Bahkan pilihan untuk menjadi wanita karir atau sepenuhnya ibu rumah tangga tidak sekali dua kali aku pikirkan. Masih jauh, memang. Tapi benakku tidak bisa berhenti memikirkan pilihan apa yang akan aku ambil.

Mengenai pasangan hidup, kata teman-teman dekatku, ekspektasiku kadang terlalu sulit dipenuhi. Memang tidak sederhana, menemukan seseorang yang bisa bebas aku ajak diskusi, bebas berbicara tentang berbagai hal, mendorongku tanpa memaksaku. Memberikan dukungan tanpa menghakimiku. Saling menemani tanpa membatasi ruang gerakku. Memahami bahwa dirinya dan aku merupakan benak yang berbeda, jadi tidak ada gunanya memaksa satu sama lain untuk menguasai benak satu sama lain.

Malam ini, aku menemukan sesuatu. Di sebelah cangkir teh dengan asap mengepul, dialog malam ini menghasilkan sebuah titik kesadaran yang bisa kembali menghidupkan api semangat dan mengusir jauh-jauh kepenatan dan putus asa yang menganggu.

Aku, sebagai seorang wanita, harus memperlihatkan eksistensiku, untuk jadi lebih baik. Tidak peduli pilihan apa yang akan aku ambil, aku tidak bisa terus menuntut, berharap dunia akan berkompromi dengan semua pilihan dan impianku. Tidak berhenti pada ekspektasi yang aku ciptakan sendiri, tidak merasa terkekang oleh batas-batas imajiner yang terbentuk pada realitas. Niat, usaha, dan doa. Gagal berkali-kali, terbentur ratusan kali, supaya lebih diri lebih kuat lagi. Ya, setiap usaha memiliki keberhasilannya masing-masing.

Sesi dialog diri malam ini selesai. Kuseruput habis teh dalam cangkir, beranjak mandi dan berganti baju. Sambil bercermin, aku bergumam. Aku siap untuk kembali.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.