aku selalu berprasangka baik pada usahaku untuk mencapaimu.

ya, kamu, si gemintang yang berbinar meski aku, langitmu, kelam dan temaram; putih bagi hitamku, sinar bagi gelapku. kamu, satu-satunya pelita yang ingin aku cengkeram, genggam, hingga telapak tanganku hangus menghitam.

karena perjalanan ini tidak semudah itu — dan tidak jarang hati pun berteriak meminta sedikit rehat, bukan sekali dua kali kaki menjerit ingin mengakhiri pencariannya. sering sekali tuanmu ini membuang mukanya padamu.

padahal, kamu selalu di sana, selalu merona marah ketika aku melarikan diri.

iya, kamu, mimpiku,

maka jangan lelah untuk selalu meraihku. karena aku pun ingin menggenggammu.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.