Kekerasan Seksual Mahasiswi dan “Kamu Juga Menikmati ‘Kan, Mbak?”

Seorang mahasiswi Fisipol UGM menjadi korban kekerasan seksual saat mengikuti program KKN

Gambar ilustrasi dari Pexels Lina Kivaka.

Oleh: Rizaldi Nur Muhammad (artikel dan poster) dan Irfandy Aditya (editor artikel).

Nama baik, oh nama baik~

Pagi hari seperti biasa, Joni ngopi-ngopi di Warmindo Mang Ucup langganannya. Satu-dua-seruput kopi dibarengi kepulan ududnya di tangan kiri dan hengpon iPun di tangan kanan. Kali ini Joni agak serius saat melihat layar iPun miliknya. Joni dikagetkan dengan salah satu artikel Balairungpress milik Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jurnalisme Universitas Gadjah Mada (UGM) berjudul “Nalar Pincang UGM atas Kasus Perkosaan”. Astaga, UKM jurnalisme UGM menjelek-jelekan unversitasnya sendiri. Mahasiswa macam apa kalian ini.

Baru setengah jalan membaca, Joni kembali memesan secangkir kopi karena bacaan cukup panjang dan “seru”. Kopi kedua dihidangkan terlalu lama dan bacaan pagi itu selesai sudah dibaca Joni. Kegeraman terpancar dari muka Joni yang baru saja selesai membaca artikel tersebut. “Jancuuu* koon, diperkosa kok suruh dadiin pengalaman wae”.

Hal Umum Yang Dirasakan Penyintas Kekerasan Seksual

Sudah jatuh tertimpa tangga pula, mungkin peribahasa yang cocok untuk para penyintas kekerasan seksual. Rasa empati kita sulit ditonjolkan ketika seseorang BERANI bercerita secara eksplisit, “Aku diperkosa… “ Lantas, mengapa harus ada perasaan BERANI untuk bercerita? Karena sebagian besar dari kita menganggap cerita kekerasan seksual hanyalah sebuah lelucon tongkrongan belaka. Namun, sebenarnya yang dirasakan para penyintas ini adalah sakit yang mendalam dan sedalam-dalamnya.

Tidak jarang kita menemui penyintas kekerasan seksual bercerita seperti, “Aku tuh takut untuk bercerita karena takut mereka nyalahin aku, takut dituduh fitnah, takut dituduh aku yang kode-kode, takut malah dianggap menikmati juga.” Jangan heran jika para penyintas tidak siap untuk langsung berbicara, sebab mereka harus memikirkan beberapa kemungkinan pertanyaan skeptis yang malah menyudutkan penyintas. Pada akhirnya para penyintas kekerasan seksual lebih memilih bungkam.

Jika ada temanmu yang bercerita perihal pelecehan atau kekerasan seksual terhadap dirinya, dengarkan dulu, tunjukkan empatimu.

Yang Terjadi di KKN UGM

Rupanya kejadian ini sudah cukup lama. Penyintas baru “mengizinkan” dipublikasi melalui Balairungpress, UKM jurnalisme UGM. Sekali lagi, untuk #SpeakUp penyintas ini sudah melalui tahap yang berat dan panjang untuk sampai pada keputusan, “Baiklah, aku akan berbicara.”Desas-desus sudah berseliweran sejak pertengahan Desember 2017.

Memparafrasakan laporan Balairungpress, sekelompok mahasiswa UGM sedang mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (selanjutnya disingkat KKN) di Pulau Seram, Maluku. Korban bernama Agni (bukan nama asli), seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) angkatan 2014, sedang ingin membicarakan program KKN di suatu tempat yang cukup jauh dari pondokannya. Namun, lokasi yang Agni tuju dirasa terlalu jauh, sehingga membuatnya terpaksa mampir di pondokan pria. Tidak lama, turunlah hujan. Di pondokan ada 4 pemuda, 2 dari 4 orang tersebut adalah teman Agni, sisanya adalah akamsi[1].

Setelah hujan reda, Agni sungkan untuk pamit kepada pemilik rumah yang dijadikan pondokan pria karena hari terlampau malam — mendengar banyak babi hutan yang berkeliaran di sana. Kemudian, Agni memutuskan untuk menginap. Tersisa 3 pemuda kala itu, HS (inisial nama) dan 2 pemuda akamsi. Singkat cerita, 2 pemuda akamsi kembali kerumah masing-masing. Tersisalah HS yang saat ini diduga pelaku kekerasan seksual.

HS mempersilahkan Agni untuk tidur di satu-satunya kamar pondokan yang disediakan tuan rumah. Tidurlah mereka berdua di kamar itu. Pada awalnya, mereka tidur berjauhan, lambat laun HS mendekati Agni lalu melancarkan aksi kekerasan seksual dengan meraba-raba bagian sensitif wanita hingga memasukan jari ke lubang kemaluan Agni.

Banyak alasan mengapa kita perlu mendampingi para penyintas kekerasan seksual, baik mendukung secara moral maupun material.

Diam Saat Diperkosa Bukan Pilihan

Kasus kekerasan seksual tidak terjadi di Indonesia saja. Kasus ini mengingatkan saya dengan kasus yang tidak lama ini sedang populer di Amerika. Menurut laporan Washington Post, Debbie Wesson Gibson, menjadi korban kekerasan seksual dari seorang calon senat Alabama, Roy Moore. Kejadiannya saat ia berusia 17 tahun—saat ini ia berusia 34 tahun—dan 17 berikutnya Debbie Wesson Gibson akhirnya berani berbicara terkait kasus kekerasan seksual yang menimpanya.

Jadi, mengapa para penyintas tidak buru-buru melawan saat terjadi kekerasan seksual atau tidak langsung melaporkan terjadi tindakan tersebut?

Istilah tonic immobility bisa menjadi gerbang utama untuk menjawab pertanyaan diatas — yang selalu jadi pertanyaan skeptis. Tonic immobility merupakan kondisi saat tubuh terpapar ancaman ekstrim yang mengakibatkan terhambatnya motorik tubuh (Möller, A. et al., 2017). Tonic immobillity secara umum terjadi pada hewan, tetapi baru-baru ini peneliti menemukan kondisi tubuh serupa dengan hewan yang terjadi pada manusia ketika terpapar ancaman ekstrem.

Penelitian dilakukan kepada 298 wanita di Stockholm yang telah mengunjungi klinik darurat kekerasan seksual terhadap wanita. Hasilnya, 70% dari 298 wanita mengalami significant tonic immobillity, sementara 48% dari 70% ini mengalami extreme tonic immobility. Dapat ditarik simpulan bahwa tonic immobility adalah reaksi yang umum saat terjadinya kekerasan seksual. Simpulan ini mematahkan dugaan bahwa perlawan dengan menendang dan berteriak BUKAN reaksi umum saat terjadinya kekerasan seksual. Jadi, jika kamu terlanjur berkata, “Lah, kok ga nglawan aja sih?” Lebih baik tarik perkataan tersebut.

Merujuk pada penelitian tahun 1992 yang didukung oleh National Institute of Drug Abuse dimuat dalam Rape In America, hanya ada 22% korban kekerasan seksual yang melawan dan berteriak; 78% pelaku kekerasan seksual dilakukan oleh orang TERDEKAT. Jika 78% ini dijabarkan kembali ditemukan; 9% dilakukan oleh suami atau mantan suami; 11% oleh ayah kandung atau ayah tiri; 10% oleh pacar dan mantan pacar; 16% oleh kerabat lainnya; dan 29% nonkerabat lainnya seperti teman dan tetangga.

Melihat dua penelitian tersebut, kita dapat memikirkan bagaimana kondisi seseorang yang sedang diperkosa adalah kondisi yang mengerikan.

Kumat Para Aparat Hukum

Agni terus berusaha mencapai keadilan. Sayangnya, bukan keadilan yang ia dapatkan, melainkan “serangan balik” kepada dirinya. Agni mendapati nilai C pada matkul KKN. Setelah dikonfirmasi alasan dia mendapat nilai C, pihak kampus turut menyudutkan Agni dari kasus kekerasan seksual ini.

Agni tidak sendiri. Menyalahkan korban kekerasan seksual menjadi hal lumrah. Kasus kekerasan seksual dipandang sebelah mata, bahkan pada level penegakan hukum. Pada 19 Oktober 2017, BBC Indonesia melaporkan hasil wawancara dengan Kapolri Jendral Tito Karnavian. Dikutip dari BBC Indonesia, “Dalam percakapan dengan BBC Indonesia, Jenderal Tito mengatakan bahwa Indonesia saat ini ada di persimpangan jalan, sebagai negara demokratis yang menjunjung tinggi kebebasan, membuat terkadang polisi dihadapkan pada dilema antara menegakkan hukum dengan menjaga KETERTIBAN SOSIAL. Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian menyatakan dalam kasus kekerasan seksual, terkadang polisi harus bertanya kepada korban, apakah merasa baik-baik saja setelah diperkosa dan apakah selama kekerasan seksual merasa nyaman.”

Yang terdekat, ada kasus yang diduga pemerkosaan oleh seorang pemuda berinisial N terhadap siswi SMP di Kabupaten Garut berinisial F. Menganggap kasusnya tidak menemui kejelasan di kepolisian, pada 26 April 2018, keluarga korban dan tokoh masyarakat sekitar menghamipir KPAID Kabupaten Tasikmalaya untuk melapor dan meminta pendampingan.

Jika aparat penegak hukum tidak mampu memberikan perhatian terhadap pelapor kekerasan seksual, kita menjadi satu-satunya yang mereka harapkan untuk memberikan perhatian.

Referensi

Möller, A. et al. (2017). Tonic immobility during sexual assault — a common reaction predicting post-traumatic stress disorder and severe depression. Department of Clinical Science and Education, Karolinska Institute: Stockholm.

National Victim Center & Crime Victims Research and Treatment Center. (1992). Rape in America: a Report to the Nation. Department of Psychiatry and Behavioral Sciences, Medical University of South Carolina: Charleston.

Catatan Penulis

[1] Akamsi a.k.a. Anak kampung sini.