Loanwords Melipur Lara

Gambar latar dari Bandcamp Jigsaw Records.
Ibarat memasak makanan; beda tangan; beda rasa.

Oleh: Irfandy Aditya (artikel) dan Rizaldi Nur Muhammad (poster).

Kabar hengkangnya Matt Mondanile dari Real Estate mungkin menjadi latar belakang yang sesuai untuk tulisan ini. Jelas, saya kecewa terhadap kelakuannya. Namun, yang lebih buruknya dari sisi band adalah usainya era “keemasan” Real Estate buat saya, yakni era album Atlas (2014). Julian Lynch dirasa pilihan yang pas untuk mengisi posisi Matt Mondanile, apalagi ia sempat berkontribusi memainkan klarinet pada lagu “Navigator”. Akan tetapi, Julian Lynch sebagai gitaris Real Estate cukup meragukan, dalam lanskap sound Real Estate. Ibarat memasak makanan; beda tangan; beda rasa. Itulah yang sedang terjadi pada Real Estate, paling tidak sejak album In Mind (2017). Singkatnya, saya gagal berpaling dari Atlas dan sesekali bersama kenangan-kenangan yang mengiringinya.

Menyaksikan skena lokal, tidak banyak band dengan lagu yang bisa saya rasakan laiknya mendengarkan Real Estate. Sampai akhirnya, saya menemukan video penampilan Kaveh Kanes membawakan “Father’s Bridge” ketika membuka showcase Mondo Gascaro di Jogja pada akhir tahun 2017. Respons saya saat video terputar dan lagu memasuki intro: mulut mengaga dan bersumpah serapah. Sejenak saya bermenung, “Apakah ruh Atlas telah berpindah ke Kaveh Kanes?” Lantas saya bergegas mengulik diskografi Kaveh Kanes, barangkali “Father’s Bridge” sempat tercecer sebagai single atau terselip di antara hamparan kompilasi arus pinggir. Rupanya, “Father’s Bridge” belum pernah dirilis resmi. Artinya, saya harus merasakan langsung paparan lagu itu pada gig Kaveh Kanes terdekat — terwujudlah impian ini pada acara Musik Bagus Day, Februari 2018.

Tujuh bulan berikutnya, datanglah kabar baik dari Kaveh Kanes. Mereka merilis digital album kedua berjudul Loanwords — dirilis sebulan lebih cepat daripada versi fisik. Betapa bahagianya ketika tau “Father’s Bridge” dimasukkan ke daftar lagu Loanwords, temponya pun terdengar melambat dibandingkan dengan versi live di Jogja. Setiap kali mendengarkan ritme “Father’s Bridge”, saya kembali mempertanyakan pikiran pada paragraf sebelumnya. Nuansa Atlas, khususnya lagu “Past Lives” sangat terasa di sela-sela notasi “Father’s Bridge”. Otomatis, ia menjadi lagu favorit saya di Loanwords. “Birds of Paradise” memperkuat pertanyaan sebelumnya, meski belum sepenuhnya eksak. Melodi gitarnya mengingatkan saya dengan gaya permainan Matt Mondanile era Atlas. Satu lagi, outro “How so?” seakan mereferensikan saya untuk kembali mendengarkan “The Bend” pada Atlas. Tiga dari sembilan lagu pada Loanwords tersebut cukup menjawab pertanyaan saya sendiri:

Kemungkinan kecil Atlas akan kembali, tetapi kini Loanwords siap menemani.

Selamat menjalur darat bersama Loanwords, teman-teman!