Bijaksana itu pilihan, Dewasa yah mau gak mau..
“Belajar maksimal sudah, berdoa sudah, sekarang waktunya pasrah ke Tuhan untuk hasilnya.”
Yakkkk, betull.. Tulisan tersebut sering sekali anda baca ketika ada teman yang mau ujian, sidang, skripsi, atau mungkin kalau mau interview kerjaan, semuanya menunjukkan kebijaksanaan yang sungguh — sungguh indah..
Pertama — tama saya membahas kata Bijaksana bukan dewasa, karena sebenarnya dua kata tersebut memiliki makna yang berbeda, bijaksana tidak mengenal umur, namun dewasa harus diikuti angka — angka yang dipercaya menunjukkan kematangan, walau saya tidak pernah percaya dengan kata kedewasaan. Yah dewasa mau gak mau harus diterima, usia 30an pun sudah dianggap dewasa walau belum bijaksana. Hehe
Apa orang tua yang memaksa anak — anaknya untuk menikah hanya karena tuntutan umur, atau barangkali sudah merasa mendapat mantu atau menantu yang pas bagi mereka, bisa dianggap bijaksana atau malah dewasa? Hmm.. Saya rasa anda sudah cukup bijaksana untuk menjawab..
bijaksana/bi·jak·sa·na/ a 1 selalu menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya); arif; tajam pikiran; 2 pandai dan hati-hati (cermat, teliti, dan sebagainya) apabila menghadapi kesulitan dan sebagainya:
dewasa1/de·wa·sa/ /déwasa/ a 1 sampai umur; akil balig (bukan kanak-kanak atau remaja lagi): tarif pangkas rambut untuk orang — berbeda dengan tarif untuk anak-anak; 2 Tern telah mencapai kematangan kelamin; 3 ki matang (tentang pikiran, pandangan, dan sebagainya):
Oke kembali ke kalimat pembuka, kalimat tersebut menunjukkan kebijaksanaan, di social media kalimat ini mudah ditemukan, di segala bentuk, entah postingan nya bentuk foto buku — buku pelajaran yang difoto acak — acakan lalu diberi caption seperti itu, atau hanya berupa post status biasa.
Namun entah kenapa, saya merasa aneh, bila beberapa hari, minggu, atau bulan kemudian ketika ia mendapatkan undangan, bahan pakaian, atau apa lah untuk temannya nikah, postingannya berbeda menjadi seperti ini,
“Yaaa ampun dapat undangan dari….. plus bahan juga, makasih yah aku mau kok jadi bridesmaid kamu, Selamat yah sayang, Ya Tuhan dia udah nikah aja, aku kapan dong #KodeGarisKeras”
Gimana — gimana? Hmmm.. Kok bijaksana untuk pasrah standard nya ganda yah, kenapa kalau urusan karir, seseorang bisa pasrah dan bijaksana, tapi kalau sudah urusan jodoh, rasanya saraf kebelet di lamar terlalu tinggi yah?
Dan anehnya lagi, ketika membahas hal — hal tentang hidup, atau yah kalau bahas current issue, seperti LGBT, mungkin social — politik, biasanya orang — orang ini kembali bijaksana, dengan mengutip tulisan — tulisan motivator, (bahkan untuk termotivasi saja harus mendengar orang lain)..