Senyum Perpisahan

Kenapa kita masih bisa tersenyum di waktu kita akan berpisah? Padahal kita tidak pernah tahu kapan kita akan bertemu selanjutnya. Apa karena tuntutan kamera-kamera di depan kita ya?

Adakah senyum itu adalah ekspresi yang tulus? Yakni tulus melepaskan kepergian seseorang yang sudah sekian lama mengisi hari-hari kita, menempati ruang di hati kita. Tulus melepaskan dia yang sudah berbagi kehidupannya untuk kita dan pergi untuk melanjutkan hidupnya sendiri. Apakah demikian arti senyum yang melengkung di wajah-wajah kita?

Atau mungkin, senyum adalah sebentuk ekspresi optimisnya kita dalam menjalani hidup dengan segala rahasianya. Yang meski kita tidak tahu kapan, atau di mana, kelak pasti kita bertemu lagi. Kelak akan ada saatnya kita bertemu dengan membawa cerita masing-masing, membawa kisah masing-masing, dan kita punya waktu cukup panjang untuk membahasnya dalam satu cengkerama.

Atau jangan-jangan, senyum itu hanya topeng untuk menutupi betapa rapuh hati kita sebenarnya? Begitu angkuhnya kita dengan ego masing-masing sampai-sampai tidak ingin terlihat lemah, tidak ingin terlihat cengeng, sehingga kita lebih memilih tersenyum untuk bersandiwara daripada jujur dengan derai air mata.

Senyum itu satu lengkungan dengan sejuta makna, dan hanya yang melengkungkan senyuman itulah yang tahu persis apa maknanya. Semoga senyum perpisahan kita adalah senyum yang lahir dari hati-hati yang tulus melepaskan, dari jiwa-jiwa yang ikhlas merelakan, dari akal-akal yang mengerti benar bahwa perpisahan terjadi untuk mengajarkan satu hal, yaitu menghargai setiap detik yang kita habiskan bersama, menghargai setiap kesempatan saat kita dipertemukan.

Surabaya, ba’da isya
 20/3/2016

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Regin Iqbal Mareza’s story.