BUAT DIAN…

courtesy tribunnews.com

Saya adalah anak TK yang sedang mengendarai sepeda mountain bike berukuran medium, melaju di pematang sawah yang memisahkan rumah orang tua saya dengan sekolah TK. Saya perlu berbangga diri, sebab hanya saya, anak TK yang sudah menguasai sepeda jenis itu tanpa roda bantuan di ban belakang. Setidaknya, cuma saya di sekolah yang bisa.

Saya berangkat tidak diantar oleh orang tua seperti kebanyakan anak lainnya. Pernah satu hari Mama mengantar ke sekolah. Sampai di sekolah, saya masuk kelas. Mama tidak. Di dalam kelas saya melakukan gerakan tangan supaya Mama yang sedang melihat saya dari kaca jendela kelas segera pulang.

“Mama, pulang aja!” Saya berbicara dengan suara pelan namun gerakan mulut yang cukup tegas agar mama dapat paham tanpa perlu mendengar.

Hari-hari sekolah seperti biasa. Saya adalah satu dari 3 anak yang tidak ditunggui orang tuanya. Hanya dibekali makanan dalam wadah makan plastik dengan menu nasi, telur dadar, dan sayuran. Saya juga adalah anak yang dibekali uang sebesar Rp. 50,- (Lima Puluh Rupiah). Saat itu saya belum paham mengenai nilai uang yang selalu saya bawa dan belanjakan di warung depan TK tanpa meminta kembalian atau merasa bersalah karena ternyata uangnya tidak cukup, sampai si Ibu pemilik warungnya menagih pada Mama (jika Mama diam-diam menjemputku) untuk jajanan yang saya bayar kurang.

Satu hari yang biasa dengan matahari yang masih terbit di Timur, kawan saya, Dian, meminta bekal makanan yang saya bawa. Dian adalah anak dengan kecenderungan down syndrome. Saya memberi Dian sesuai dengan yang dia minta, sampai setelah itu Dian meminta lagi. Waktu itu saya kesal. Saya sendiri tidak ingat apa motif yang pasti tentang kekesalan saya pada Dian; Saya memukul perutnya.

Dian adalah perempuan. Rumahnya beda blok dengan saya.

Kemudian Bu ‘Ai, guru kami di TK menegur saya tanpa membentak.

“Resa, ga boleh mukul Dian. Itu ga bagus. Jangan diulang ya?!” Kata bu ‘Ai.

Saya mendengar bu ‘Ai dengan teliti. Saya lupa kalimat pasti tegurannya bagaimana, yang saya ingat Dian menangis di bangkunya sambil memegang perut. Kesakitan.

Itu adalah kali pertama dalam hidup saya memukul manusia secara sadar.

Hari-hari berikutnya, saya dan Dian seperti tanpa masalah. Kami bermain ayunan, berbagi makanan, lari-larian, dan banyak kegembiraan hingga lulus TK.

— — — —

Saya adalah seorang mahasiswa sebuah PTN di Bandung. Masuk berbagai macam diskusi dan kalangan, sampai satu hari saya mengenal seorang kakak tingkat di kampus. Dia adalah Taufik (Opik). Opik adalah kakak kandung Dian. Ya, Dian teman TK saya itu. Kebetulan dia adalah mahasiswa Sosiologi Agama yang menjadi panitia diskusi. Saya memperhatikan Opik.

Saya jadi ingat Dian dengan melihat Opik. Saya duduk di pojok warung, memperhatikan Opik dan diskusi dari jauh. Oh iya, di kampus saya, diskusi sering dilaksanakan di ruang terbuka, di bawah 2 pohon beringin yang rindang. Dekat dengan warung kopi dan gorengan.

Saat itu saya tidak memperhatikan diskusi dengan baik. Pikiran saya tertuju pada Dian. Lebih tepatnya perasaan bersalah saya pada Dian. Mungkin Dian tidak menyimpan dendam pada saya. Mungkin juga dia lupa wajah saya. Atau tidak mengenali saya jika pun bertemu. Saya tahu Opik, dia tidak tahu saya.

Saya merasa Opik tidak tahu hal yang terjadi pada adiknya waktu TK, bahwa ada anak laki-laki brengsek yang memukul perutnya. Saya merasa begitu karena Dian tidak bisa mengutarakan pengalamannya dengan baik. Saya tahu itu. Ada keterbatasan Dian yang tidak bisa ia lakukan seperti orang kebanyakan.

Hari itu saya ingin mengaku pada Opik, bahwa saya adalah orang yang pernah memukul adiknya saat TK. Tapi saya kira itu bukan perkenalan awal yang baik. Atau malah, Opik akan merasa hal itu sebuah kewajaran kenakalan anak TK. Saya urungkan niat dan memilih tetap merasa bersalah pada Dian.

Diskusi berakhir. Kami bubar.

— — — —

Saya adalah ini yang sedang menanggung perasaan bersalah. Perasaan bersalah yang tak kunjung reda sejak TK hingga sekarang, seolah saya tak memerlukan Nabi, Malaikat, dan Tuhan agar dapat balasan setimpal. Saya cukup sadar, dan mampu menghukum diri sendiri.

Saya adalah ini yang sedang berusaha mengingat wajah Dian dengan rambut Demi Moore-nya. Berusaha mengingat raung kesakitan dia. Kini saya sedang merasa saya adalah Dian.

Mungkin Dian sedang gembira di suatu entah. Atau sedang sehat di mana betah. Mungkin Dian tidak pandai bercerita tentang pengalamannya. Mungkin Dian tidak dendam. Mungkin Dian tidak peduli lagi.

Saya cuma yakin, dia tidak lupa satu hari saat dia pertama kali dalam hidupnya dipukul seseorang sehingga menangis.

Saya menyesal, Dian. Keluasan ‘Maaf’ adalah hakmu. Saya tak pantas memintanya darimu. Memang tidak perlu dimaafkan.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.