DEMAM

Saya tidak sangka, perempuan yang 2 bulan lalu saya tuangkan alkohol lokal ke gelasnya itu adalah yang sedang bersama saya. Perempuan yang memetik gitar klasik itu, dua bulan lalu, sering membuat saya gugup. Perempuan itulah yang bersepeda melindas aspal seperti ia melindas struktur sosial yang banal; tentu butuh energi sekuat dollar di pasar modal.

Dua bulan yang lalu, waktu ia duduk berhadapan dengan saya, menemani saya mewarnai di Kedai milik seorang kawan - ia membaca. Menit-menit sepi yang sebetulnya berbicara bahwa saya tenang dengannya. Dua bulan lalu itulah Desember 2016, saat ia bersemangat mengajak beberapa kawan, termasuk saya, untuk mendaki bukit.

Saya tidak ingin menceritakan bagaimana dengannya mendaki bukit; bagaimana kami masing-masing memanggul seikat kayu bakar. Bagaimana kami terlibat proyek film pendek yang tak jelas kapan selesainya. Bagaimana kami duduk di depan api unggun. Juga, bagaimana kami yang mengalami kecelakaan romansa 10 detik di bawah tenda. 
Saya tidak ingin menceritakan itu, teks tak mampu menampung sensasinya.

Perempuan itu lalu marah; menyumpahi biro-agen asuransi yang hendak nebeng menambang komisi pada sebuah charity. Ia yang pasti marah karena solidaritas para pekerja seni itu mau dikencingi rasio model 'jejaring adalah komoditi', seperti rasio patriarki yang mengobjektifikasi perempuan sebagai properti. Marahnya memuncak mengeluarkan anjing dan tai dari mulutnya untuk dilemparkan pada muka si agen asuransi. Hal yang menurut saya tepat dan berakhlak tinggi untuk memperlakukan para gedibal yang menganggap pertautan jiwa ditakar serendah profit transaksi.

Tapi, lihat, ia sedang berubah menjadi permaisuri istana saat menghadapi, bahkan cuma, semangkok bubur ayam. Waktu akan berjalan lambat menemaninya makan. Berbanding terbalik saat ia bicara dan berjalan secepat quickcount ala CSIS dengan metoda sampling. Bibir dan lidahnya terbentuk dari RPM dapur pacu RX-King. Bila ia berjalan, bumi akan berputar lebih cepat seperti ia berjalan di atas threadmil. Malam dilipat, siang dilumat. Jarum jam akan patah mengejarnya.

Ya, begitulah ia, perempuan yang lalu ngambek di tengah diskusi filsafat karena saya lambat merespon untuk segera mengajaknya pulang. Lalu mengirim saya SMS, "mau nyusul atau engga?". Saya menyusulnya. Mengelus-elus punggung tangannya untuk menjelaskan kebingungan saya tentang berada dalam 2 kondisi yang saya sukai karena tak bisa dilakukan bersamaan lalu menyusul yang lainnya lagi di waktu yang berbeda. Meski saya tahu, ia masih ngambek secara emosional; terlihat dari caranya menyindir saya tentang konsistensi, sambil ia makan Bebek Betutu dengan, sudah pasti, lambat.

Lalu ia, perempuan yang tak mau dimiliki siapa pun, termasuk saya, yakin bahwa institusi pernikahan adalah sebuah manual destruktif personal. Tentang bagaimana ia melihat pernikahan sebagai sebuah kontrak sosial yang bergeser menjadi kontrak moral, yang menjadikan hidup se-linear arah anak panah pada targetnya. Dan mati menancap. Cinta tak se-analog itu.

Lain yang ini, tentang belakangan ia punya hobi menggenggam tangan saya. Hobi murah-meriah yang dilakukan seorang ilustrator jempolan yang makan di warung-warung pinggir jalan. Hobi yang dilakukan dengan senang hati dan menambah dopamin bagi perempuan yang tidak minta ditraktir makan selayak misoginis lain dalam relasi suami-istri.

Mari perhatikan saat ia sedang bicara soal pertentangan klas, soal feminisme dan isu gender, soal sosio-kultur indonesia, atau soal psikoanalisa yang ia hajar terang-terangan; kecantikannya bertambah. Tetap dengan bicaranya yang cepat sambil diselingi senyum lalu bilang "Rehza...", lalu lanjut berapi-api mengeluarkan serapahnya pada semua yang pernah membuatnya depresi. Sekarang ia masih bersama saya. Sejak dua bulan lalu. Sejak rambutnya yang panjang sepinggang itu dibiarkannya terurai lalu sesekali diikat. Sejak saya dan dia ketawa pada paradoks idealisme masing-masing.

Ya, ia sekarang masih bersama saya. Tidak tahu besok atau lusa. Sementara yang mengikat kami bukan cincin, alih-alih mas kawin, tapi cuma dua tangan yang menggenggam sambil jalan; diayun ke belakang, diayun ke depan. Mungkin akan ada persimpangan di ujung jalan, saat itu saya harus maklum jika masing-masing akan menempuh jalan yang berbeda, tinggal lepas genggaman dan ketawa senang karena telah memberi dan menerima kasih selama ini. 
Lalu jika setuju-arah maka kami cuma nyanyi 'Que Sera Sera'.

Sedang di mana saya? Kondisinya panas dan dingin serta-merta. Oh, Mungkin saya sedang dilandanya.


ciluncat — zher, 16februari2017

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.