TENTANG PASANGAN HIDUP DAN KOMODITAS

Hujan runtuh ke Bandung, di sekitar Setrasari. Saya berteduh, menepi ke sebuah kedai bir, tepat di kanan jalan. Sambil memastikan baju tak banyak yang menjadi basah, Depeche Mode—Somebody masih menyala di balik headset; “…someone who’ll stand by my side and give me support…”.
Saya ambil duduk, memesan SanMiguel kecil. Teringat bertahun lalu seorang teman perempuan berkisah di tempat ini soal kesedihannya berpisah dengan pacarnya yang konon masih menyimpan 1 foto mantannya di handphone.
Saat itu, ia sudah tidak mampu lagi mempercayai semua pria. “Semua pria memang begitu!”. Sambil terus menangis, sambil terus menegak bir. Saya duduk bersaksi di seberangnya.
“Bukankah semua pria begitu? Artinya, sia-sialah perjuanganmu mencari pria yang kamu harapkan", Saya tidak tahu dengan berkata itu apakah semakin mematahkannya atau menguatkannya.
Ia bersikeras percaya bahwa pasti ada satu pria baik yang diciptakan tuhan untuknya. Sambil terus meresistasi, “semua pria sama saja!”. Saya duduk manggut, lebih karena soal menghargai keyakinannya. Saya menatap sekitar, meyakinkan diri bahwa tidak ada satu pun orang lain yang menyaksikan saya dan teman saya ini sedang bertengkar hingga menangis, atau lebih buruknya dianggap sedang merencanakan aborsi.
Saya berusaha menenangkan dia dengan bertanya adakah pria lain yang sampai sekarang masih mencintainya. Ia menjawab ada, sekitar 2–4 pria yang masih sering ngobrol melalui chat Whatsapp.
Saya menghisap rokok agak dalam mendengar jawabannya waktu itu, menuangkan bir lebih banyak ke gelas dan meneguknya dengan cepat. Mendengarnya masih melayani chat dengan pria-pria yang menyukainya sangat mengganggu pikiran saya untuk adil. Ah, dia berkelit, “Saya kan tidak ngobrol mendalam dengan mereka. Lagi, mereka bukan siapa-siapa". Saya sudah bisa menebaknya.
“Lalu, kenapa kamu tidak coba menjalin hubungan dengan salah-satu dari mereka?”, tanya saya.
“Tidak ada dari mereka yang saya sukai!”.
Saya menyimpulkan bahwa yang tidak bisa hindarinya adalah kenangan. Dia mengaku keperawanannya diserahkan pada pria yang ia tangisi dan masih menyimpan foto mantan di handphone.
Saya ingin sekali mencampuri urusan pribadinya itu untuk keluar dari zona transenden “keperawanan”. Zona ilusi yang dikhotbahkan para moralis demi menjadikan perempuan sebagai objek bisnis mahar melalui institusi pernikahan. Perempuan, sebagai tubuh dan ideologi, bagaimanapun tetap suci. Tapi, itu hak berkeyakinannya, saya tidak mengizinkan diri mengurusinya.
Pria yang menyakitinya itu secara finansial mapan, memanjakan teman saya itu dengan perhatian dan brand-brand supermewah. Mereka melakukan substitusi; You get what you give.
Saya merefleksi sekali lagi tentang transaksi jual-beli, ketika supply dan demand ini hadir di bumi. Asmara tak ubah semacam pasar libido, dan komoditas industri menjadi alat tukar yang sah. Bisnis. Itu mengapa erotika selalu nyempil pada Gucci dan label mahal lain. Mungkin supaya laki-laki menjadi gedibal kapital yang bekerja keras akibat zona ilusi keperawanan ala moralis dan tubuh perempuan ditunggangi industri.
Aktifitas naluriah diatur. Sebagian orang kayaraya. Kutukan.
Malam itu, saya antar dia pulang. Besoknya saya dapat kabar, dia mau menjalin hubungan saja dengan salah-satu yang menyukainya. “Urusan perasaan saya bisa menciptakan alasan-alasan yang bisa membuat saya bahagia, meskipun perasaan cinta secara natural belum ada".
Ya, saya setuju, teman, seperti alasan-alasanmu yang kamu buat melalui filsafat untuk mencintai hidup agar kamu tak mengakhirinya dengan benci.
……………………….
Hujan sudah reda, saya bergegas meneguk SanMiguel hingga habis. Hisapan terakhir rokok putih dan mematikannya di asbak seng.
Menuju parkiran, memasang headset dan helm. Melaju pulang sambil berharap dia sehat dan bahagia. Lalu Depeche Mode—Somebody melanjutkan baitnya yang tersisa;
“…I want somebody who cares
For me passionately
With every thought
And with every breath…”
Azher, Ciluncat — 24 April 2016