TIRAN KESHALEHAN

Ada yang menarik dari ambisi sebagian orang untuk menjadi shaleh. Mereka menciptakan musuh-musuh keshalehannya sebagai anti-tesa perlawanan. Semacam meminjam Dialektika; non-shaleh/kafir/bid’ah/dll., harus ada untuk mengukuhkan eksistensi keshalehan.

Metoda dialektika ini persis digunakan Marx untuk menentukan klas-klas masyarakat, yang mana ditolak oleh para Anarkis sebagai metoda perjuangan. Maka tak heran, ketika jatuh Revolusi Spanyol, ketika itu kaum Sosialis (termasuk Anarkis) menjatuhkan Borjuis di sana, mereka menjadi Tiran baru. Tapi lalu kolektif Anarkis malah dituduh pengkhianat karena belok bergabung membantu para Borjuis lagi. Ini hal yang menarik, iaitu metoda perjuangan Anarkis adalah soal siapa-menindas-siapa, siapa-ditindas-siapa. Sederhana.

Sejarah tersebut menjadi modul yang baik untuk memahami Tiran keshalehan ini. Apa itu Tiran Keshalehan? Suatu kondisi di mana Keshalehan malah menjadi penindas dan pemegang kontrol wacana atas manusia lain di luar hukum kesepakatan. Sudah jelas bahwa agama menjadi alat legitimasi bagi mereka.

Tiran ini, sialnya, disponsori Negara yang merawat kekerasan untuk menguasai dan menumbuh suburkan ketakutan di dalam diri individu sebagai warga.

Gelombang Tiran ini ditandai dengan paradoks besar iaitu soal ilusi keshalehan yang diraih secara instan. Misal, sebuah akun di medsos yang men-share kutipan ayat suci secara literal, kemudian dua jam berikutnya akun tersebut posting menu minum mewah di Starbucks. Apa yang salah? Tidak ada, itu haknya. Masalahnya adalah bahwa kutipan literal ayat suci tersebut hanya menumbuhkan persoalan moral etik, bukan moral logis.

Moral etik itu memahami bahwa kejujuran itu soal etika. Sedangkan moral logis memahami bahwa kejujuran itu soal kelurusan logika.

Di mana perlakuan Tirannya? Jawabannya akan kita temukan saat muncul satu atau beberapa isu soal sekte sesat, syi’ah, ahmadiyah, LGBT, pornografi, atau bahkan relasi hubungan suami-istri dan pencarian jodoh.

Juga, ada feminitas yang salah kaprah dalam fenomena Tiran Keshalehan ini. Soal beberapa istri yang memposting quotes-pic, “rezeki suami adalah rezeki istri bla bla bla…” atau “suami, cintailah istrimu karena bla bla bla…” adalah satu dari sekian banyak bentuk Tiran Keshalehan. Mereka berlindung dibalik romantika agama. Ini artinya ada intimidasi pada objek lain bernama suami agar melakukan apa yang diperintahkan agama sebagai bentuk keharusan. Jika boleh kasar, para istri ini mengidap “kege’eran spiritualitas palsu".

Lain lagi dengan para perempuan pencari jodoh yang memposting quotes-pic, “carilah pria yang bisa menjadi imam bla bla bla…”. Hal-hal itu juga adalah Tiran Keshalehan instan yang menjadikan logika sebagai manusianya cacat. Yang terlintas dari benak kita adalah kenapa tidak sekalian saja cari jodoh di Pesantren?! Atau menikah dengan Ustad?!

Lebih jauh, Tiran Keshalehan ini mewujud lagi sebagai Hakim atas manusia lain. Di mana isi otaknya dikemas seragam agar memerangi syi’ah dan komunisme. Tiran ini cacat secara akademik. Kenapa bisa cacat secara akademik? Ini karena belenggu doktrinasi moralnya diset tidak boleh dipertanyakan. Oleh siapa? Nah, hal ini yang perlu ditelusuri lagi. Siapa pihak-pihak yang membikin orang-orang mendadak menjadi Tiran, seolah sorga bisa didapat hanya dengan klik-share dakwah, dan orang lain yang di luar keyakinannya adalah salah dan harus tetap salah.

Bukankah ini Tiran? Mengutuk orang lain salah demi diri mendapat pahala sorga.

Agaknya Marx sedikit meleset soal kekacauan yang terjadi di atas bumi adalah murni bermotif ekonomi. Variabel lain pun muncul di sini, iaitu Moral. Surplus moral.

Alih-alih berkhianat, seperti para Anarkis yang membantu, katakanlah, mantan borjuis spanyol saat itu bukanlah sebuah kejahatan. Melawan tiran baru, tiran proletariat, di Spanyol saat itu sama persis dengan melawan Tiran Keshalehan. Orang-orang shaleh yang dikenal karena tertindas di bumi….

….kini menindas.

Sorban palid. Sorban palid.


ciluncat, 3 maret 2016

zher