YANG MENGUBAH DAKWAH MENJADI LIMBAH

Dakwah adalah aktifitas menyeru manusia pada sebuah tujuan. Dalam konteks agama, dakwah menjadi metoda untuk menyebarkan kebaikan dan konsekuensinya: menyeru untuk tidak 'menyembah' apapun kecuali 'Tuhan’.

Dalam sejarah agama mana pun, dakwah selalu berkaitan dengan relasi kekuasaan, pemberontakan (rebelion), pembebasan, dan perbudakan. Tema-tema besar dakwah itu, seiring laju waktu, malah bersekutu dengan kepentingan industri.

Yang sering dilupakan adalah bagaimana Ibrahim (Abraham) merangsek masuk ke dalam istana Nimrod (Sang Tiran) untuk mengobrak-abrik isinya, menghancurkan patung-patung sembahan dengan sebilah kapak. Tidakkah kita sadar, apabila pemberontakan Ibrahim tersebut terjadi di masa sekarang, hendak kita sebut apa? Vandalisme? 'Anarkis’? Teroris? Gerakan makar? Kriminal? Sebutan itu persis yang diucapkan pihak Nimrod. Tapi perbuatan Ibrahim tersebut ditanamkan pada kita sebagai perbuatan Heroik atas nama Dakwah. Sayangnya, kita lebih tertarik memilih alur lain demi memuaskan fantasi berketuhanan; Ibrahim dibakar api yang menjadi dingin. Mukzizat.

Juga soal Musa yang membangkang pada orang tuanya sendiri (tiri), Ramses II. Musa meninggalkan istana untuk berkerumun dengan akar rumput dan menemukan solusi pembebasan untuk masyarakat kala itu. Musa menjadi buron, bergerilya mengajak masyarakat pergi dari tanah Ramses II. Kejadian ini tercatat di beberapa Kitab Suci. Eksodus besar-besaran bangsa Mesir demi membebaskan diri dari Tiran. Lalu kita sebut apa jika perbuatan Musa terjadi saat ini? Pengkhianatan? Bid’ah politik? Kutu Loncat? Ingat, Musa ditanamkan pada benak kita bahwa ia adalah Pahlawan. Sayangnya, kita lebih memilih alur lain untuk disimak demi fantasi berketuhanan; ‘membelahnya lautan’.

Lalu Yesus. Ia adalah pemberontak Israel yang dengan lantang menolak membayar pajak pada Pontius Pilatus. Anak pengrajin kayu yang miskin itu memilih berbelas kasih pada kaum miskin kota. Yesus menjadi incaran rezim yang sedang berkuasa. Nyawanya terancam. Ia harus bergerilya menyebarkan dakwah agar kaum miskin kota tidak membayar pajak dan menolak tunduk pada Pilatus. Malang bagi Yesus, beberapa sahabatnya memilih menjadi intel bagi Pilatus demi sekarung koin emas. Yesus ditangkap dan disalibkan, kejahatan pembangkangan pada Raja adalah lebih keji dari pembunuh yang saat itu dibebaskan. Sialnya, kita lebih memilih alur lain demi berketuhanan; menginvestigasi apakah benar yang mati di kayu salib itu Sang Mesiah.

Pun soal Muhammad, tokoh kharismatik yang melakukan resistansi militan di tengah bandit-bandit klan Arabia kala itu. Ia diuntungkan berada dalam satu klan yang disegani, ia memanfaatkan itu untuk tameng politik humanitariannya merangkul banyak klan untuk keharmonisan di Arabia. Tapi gelagatnya membuat Abu Jahal kesal. Ia mendapat ancaman serius bersama para sahabatnya. Muhammad memilih mengungsi ke Medinah, sebuah kota yang kemudian menjadi landasan praktek sosialisme paripurna melalui Piagam Madinah. Piagam Madinah ini adalah demokrasi langsung antar klan di sana tanpa menjadikan Muhammad sebagai Raja atau Presiden. Ia tetap berdagang di pasar. Praktek anarkisme ini sudah dilakukan jauh sebelum Rojava dibentuk serupa oleh Milisi Kurdi. Naas, kita memilih alur lain demi fantasi kebertuhanan; tentang bagaimana memanjangkan janggut dan jilbab.

Lalu saat ini jika ada gereja, masjid, dan vihara yang menyuarakan penentangan pada pemerintah akan segera diinteli dan dianggap sekte sesat. Hal itu jangan dianggap aneh, sebab pola Dakwah dahulu pun begitu.

Dakwah sekarang yang keluar dari corong-corong Towa cuma berkutat tentang sabar dan kesempurnaan. Fiqih-fiqih yang ada dan dikuasai MUI tidak menembus pada pola kerja industri terhadap produksi dan kesejahteraan karyawan. Apabila itu bisa dilakukan, maka pemboikotan produk-produk yang tidak mendukung kesejahteraan karyawan bisa terlaksana. Rezim keserakahan bisa tumbang.

Semisal pabrik sepatu Nike yang mengupah karyawannya tak sebanding dengan harga sepasang sepatu Nike itu sendiri. Ini perbudakan. Jika dakwah menyerbu hal-hal tersebut maka akan ada fiqih pengharaman bagi yang menggunakan sepatu Nike dengan alasan kemanusiaan.

Serupa lubang knalpot dan corong asap pabrik, Dakwah yang kita cerna hanya berupa onani kejenuhan kita pada pesta-pora merayakan dunia yang mencemari pikiran. Satu sisi aktif ngaji, satu sisi aktif melongok diskon tas Channel dan Hugo Boss dengan militansi yang sama seperti pejuang YPG mengusir ISIS. Kontradiktif.

Atau jangan-jangan memang ada sebagian orang yang sengaja menjauhkan Dakwah-dakwah profetik di atas agar masyarakat tetap terbuai dalam pemberhalaannya pada Negara dan menjadikan dakwah serupa limbah?


Azher, Ciluncat, 21 Agustus 2016