Pasangan Jagad Raya
Segala sesuatu yang menjadi takdir kita tak begitu saja hadir dalam hidup. Ada pesan yang tentunya ingin disampaikanNya kepada kita. Entah itu pujian atau ujian, apakah kabar gembira atau sebuah teguran. Keduanya bisa jadi satu kesatuan.
Ketika kita sakit contohnya, kebanyakan di antara kita ada yang melebelinya dengan musibah atau ujian. Itu tidak salah. Namun, sejenak kita semestinya meraba diri. Melihat kembali perjalanan yang baru saja kita tempuh. Bisa jadi sakit yang kita dapatkan saat ini adalah sebuah bentuk teguran dariNya.
Saat kaki kita sakit misalnya, coba kita ingat kembali -selain kita obati fisiknya-, sempat digunakan untuk melangkah ke mana kaki itu? Adakah langkahnya yang mungkin membuatNya sedikit kesal? Atau saat bibir atau lidah kita mendapat sariawan, adakah setiap kata yang sempat terucap menjadi sebuah belati bagi pendengarnya? Atau bahkan mungkin lisan itu lupa menyampaikan kebenaran?
Di lain kondisi, misalnya kita diberikan “anugerah” berupa materi yang melimpah, gelar akademik yang berderet di belakang nama kita, jabatan yang bertingkat. Namun dengan semua itu, kita justru lupa siapa diri kita, kita lupa memberikan hak para mustahik, kita merasa tinggi bahkan merendahkan orang lain. Apakah hal itu menjadi anugerah bagi kita?
Sabar dan syukur. Pasagan di jagat raya yang menjadi kunci ketenangan dalam hidup. Sabar bukan berarti berdiam diri begitu saja. namun, hisablah diri kita, kemudian tobatilah, lalu bersyukurlah. Mengapa? Karena itu adalah bentuk kepedulianNya. Ketika sakit yang hadir sebagai ujian, itu tandanya kita akan sampai pada level selanjutnya, ketika itu adalah teguran, itu berarti Dia ingin kita memperbaiki diri selagi Dia membuka pintu taubat seluas-luasnya. Bukankah itu adalah sesuatu yang harus kita syukuri?? Maka, saat kita menempuh prosesnya, benarlah sakitnya akan menjadi penggugur dosa baginya.
Bersyukur dan bersabar, dua hal yang Allah sandingkan sabagai salah satu indikator seorang muslim. Bersyukur adalah bukti dari sabarnya kita atas setiap ketetapanNya atas diri kita. Sabar adalah wujud syukur atas apa yang diberikanNya kepada kita.
Bersyukur atas apa yang mungkin kita pandang musibah dan bersabar atas apa yang kita nilai itu anugrah... Mengapa? Karna kadang kita rabun terhadap apa yang kita lihat, netra kita terbatas memotret hikmah. Kadang pula nalar kita terlalu sempit mendefinisikan apa itu musibah dan anugerah.
Maka bersyukur dan bersabarlah terhadap apa yang diberikanNya... Keduanya satu paket, tidak bisa dipisahkan. Keduanya akan menuntun kita menjadi insan yang mulia.
[]
Wallahuálam
