Keping Semesta
Nov 6 · 3 min read

[Review] Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati

Pertama kali membaca buku ini sekitar dua tahun yang lalu. Peninggalan salah satu sahabat yang akhirnya memilih kembali ke Kota Padang, tanah kelahirannya, dan menetap di sana.

Berhubung akan ada penilaian terkait literasi sekolah, yang salah satu indikator penilaiannya adalah jumlah review buku yang dibaca, baik siswa, kepala sekolah, guru, tenaga administrasi sekolah, hingga orang tua siswa, maka kali ini saya akan mencoba menuliskan review tentang buku ini.

***

Judul buku : Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati

Transform Our Life, Help Other, Stay Positive

Penerbit : PT. Elex Media Komputindo

Cetakan pertama : Agustus 2012

Bahasa : Indonesia

ISBN : 978-602-00-3102-6

Halaman : 210 halaman

Review :

"Aku lebih memilih mati secara berarti daripada hidup tanpa arti" - Corazon Aquino

Setiap manusia dianugerahkan 24 jam yang sama dalam sehari, tetapi hasil yang diciptakan tak semua sama, tergantung bagaimana seseorang itu "mengolah bahannya". Ada yang memilih memadatkan usianya dengan karya, namun ada pula yang menguapkannya dengan berleha-leha. Ada yang memilih aktif menjadi pemain, ada pula yang merasa cukup dengan menonton. Lalu mana yang kita pilih?

Tidak ada yang abadi, maka semua akan bertemu dengan batas akhir. Akan seperti apa ending dari kehidupan kita, tentu bergantung dari perjalanan kita selama ini. Jalan mana yang kita pilih, tentu akan membawa kita pada ujungnya masing-masing.

Sebagaimana judulnya, buku ini dibagi ke dalam tiga bagian besar yaitu Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati. Setiap bagiannya terdiri dari beberapa bab yang mengacu pada tema stiap bagian. Keseluruhan bagiannya menjadi sebuah alur yang berkesinambungan.

Bagian pertama diberi tajuk Hidup sekali. Pada bagian inj penulis mengingatkan bahwa kita hanya diberi kesempatan hidup sekali. Setiap orang "bebas" menggunakan kesempatan tersebut semaunya. Namun penekanan pada bagian inu adalah bagaimana hidup tidak mengalir begitu saja, karena akan sangat rugi jija hidup yang hanya sekali ini tidak bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Berarti, tajuk yang disematkan pada bagian ke dua. Pada bagian ini digambaran bagaimana memanfaatkan hidup dengan sesuatu yang berarti. Berkontribusi untuk sesama, berkarya, atau mengabdi sepenuh hati dengan niat menjadi orang yang bermanfaat. Menjadi sebaik-baik umat.

Terkahir yaitu "Lalu Mati". Ujung dari semuanya adalah kematian. Namun, bagaimana kematian itu menjemput kita nanti, sebenarnya akan tergambar dari bagaimana hidup yang kita jalani. Apakah akan berkahir dengan baik, atau malah sebaliknya? Semua tergantung pada pilihan kita sendiri, bagaimana kita menghabiskan modal waktu yang telah diberikan.

Buku ini sangat menginspirasi saya, pun banyak orang lainnya. Walaupun terkesan berat dan serius, namun sebenarnya buku ini dikemas dalam bahasa yang sederhana. Selain itu, buku ini juga disajikan dalam bentuk kisah-kisah ringan yang sarat makna. Sehingga memudahkan kita memahami bagaimana menjadikan hidup yang singkat ini berarti sebagai bekal untuk menghadapi kematian yang pasti menghampiri.

***

Tuhan Maaf Aku Masih Kotor

Tuhan, Maaf hatiku masih kotor

Takwaku sering longsor

Imanku Masih Pengkor

Syukurku sering ngeloyor

Ikhlasku masih bocor

Jiwaku masih kopyor

Angkuhku masih bongsor

Kalo doa kaya orator

Padahal ibadah jarang setor

Menilai sesama kayak auditor

Sedangkan diri sendiri tak pernah di monitor

Dalam kebaikan jadi pengekor

Dalam kejelekan jadi pelopor

Maafin tuhan, ternyata kami masih kotor

***

Salah satu lembar yang menjadi catatan adalah bagian berikut ini.

Bandung, 06 November 2019

ReinaKhansa

    Keping Semesta

    Written by

    Hanya ingin meninggalkan jejak dalam seuntai kata,melukis rasa dalam guratan pena... himpunanpena.wordpress.com