Perkara Perkakas
Saya lupa kalau saya punya hal yang satu itu.
Barangkali karena saya lebih memilih untuk abai (?)
Menjadi abai dengan kesadaran penuh — implikasinya jadi pemaksaan.
Tunduklah pada pikiran, katanya.
Pikiran saya memang cukup fasis — ia terbuka pada yang datang padanya, tapi saat kuasa lain hendak membantu kontrolnya— tidak, sekali kali tidak ia izinkan.
Tunduklah pada pikiran, katanya.
Yang ditahan tak tahan,
perkakas lantas melakukan revolusi.
Perkara.