merapalnamamu
Sep 5, 2018 · 1 min read
Para tahanan politik Tragedi 1965. (Foto: Joop Morieed via tribunal1965.org)

MARAH, MERAH, DARAH.

Marah,

Merah,

Darah.

Kepala — kepala yang terpisah.

Jasad — jasad yang mencari arwah.

Arwah — arwah yang berjalan tanpa arah.

Anak yang kehilangan orang tuanya.

Orang tua yang merindukan anaknya.

Suami yang meninggal-kan istri.

Istri yang menangis-i jasad sang suami.

Buruh bertanya, “Merah mengapa mereka marah?”

.

.

.

Merah diam seribu bahasa.

Merah tak lagi menari,

tak lagi berseni,

tak lagi menjawab pertanyaan buruh dan petani.

Marah kali ini berapi,

tertawa dan mencari.

Menyambangi tiap rumah,

mencari wanita untuk puaskan birahi.

Dan para laki — laki dipaksa menggali kuburnya sendiri.

Peluru menyasar ke segala arah.

Parang yang diayunkan dengan terarah.

Sungai dan tanah mendadak merah.

Malam itu jeritan terdengar bersahutan bersama darah yang tertumpah.

“Merah,

Mengapa engkau berdarah?” tanya petani.

.

.

.

Merah masih juga diam,

tubuhnya basah, tergeletak mati di tanah…

Ingat65

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade