Why Laravel?

image source : http://gedelumbung.com/laravel-tutorial-membuat-package-dengan-workbench-di-laravel-4/

Kenapa dengan Laravel? Ya, disini saya akan sharing pengalaman pribadi saya mengenai penggunaan salah satu framework yang begitu mempesona para developer dan menjadi “most used” PHP framework pada tahun 2015 menurut survey yang dilakukan oleh Sitepoint.

Bagaimana tidak terpesonanya saya dengan framework yang satu ini, framework ini begitu indah ketika kita melihat kembali kode yang sudah kita ciptakan (walaupun keindahan style code tidak ditentukan dengan menggunakan framework ini), namun menurut saya “coding style” adalah sebuah seni yang begitu menawan.

Pertama kali mengenal Laravel yaitu ketika saya mendengar nama framework ini disebut oleh dosen mata kuliah pemograman web saya, lalu saya mencoba mencari tahu apa itu Laravel di google. Kesan pertama setelah melihat dokumentasi framework ini memang terkesan seperti “berat”, namun saya tetap mencobanya karena rasa keingintahuan saya yg begitu tinggi. Namun semua rasa “berat” itu hilang ketika saya mencoba fitur-fitur yang disediakan oleh framework ini. Dan hasilnya adalah “amazing”, ketika saya melihat kembali kode yang telah saya buat.

Artisans adalah kata yg digunakan oleh laravel framework di dalam pengunaannya, dimana kata memiliki banyak makna. Selain dari semua yang telah disebutkan diatas, terdapat banyak kelebihan yang lain yang menurut saya menjadi khas dari framework ini. Salah satunya ialah dimana framework ini memiliki dependencies terhadap versi PHP yang tinggi, dimana dengan seperti itu maka Laravel juga mengikuti perkembangan PHP dari versi ke versi yang ada. Dengan mengikuti perkembangan maka keamanan PHP itu sendiri juga menjadi update seperti yg diperlihatkan disini dimana “strongly recommended” untuk menggunakan versi yg lebih baru.

Jika menurut anda para pembaca juga tertarik untuk mencoba, silahkan dicoba dan baca dokumentasinya sebagai panduannya. Akhir kata semoga sedikit menjelaskan kebelihan dari framework ini. Terima kasih.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.