Fantasi Masa Depan

Ada sebuah fantasi yang selalu menyerang aku saat dihujani kewajiban akademik mahasiswa.

Persamaan nasib ditempa berjamaah oleh sistem pendidikan kampus hanya berlangsung sementara dan mungkin hanya sekali saja. Kapan lagi aku mendapat teman persamaan nasib dalam menimba ilmu? 20 tahun lagi juga tidak ada yang tahu, teman kuliah sekarang akan menjadi apa.

Coba dipikir.

Mungkin saja kamu menjadi petinggi perusahaan multinasional, duduk manis di lantai 27 gedung kantor pencakar langit sambil mengamati teman kuliah sendiri mengorganisir tuntutan di depan lobby perusahaanmu yang diduga melakukan pelanggaran hukum.

Gimana?

Mungkin juga teman kamu sedang sibuk mengusut kasus penggelapan uang yang atasan kamu lakukan di perusahaan tersebut. Sedangkan kamu serbasalah karena atasan kamu itu yang berjasa atas promosi kamu.

Dilema.

Bukan tidak mungkin pula jika temanmu ada yang supersukses, jadi pengusaha terkenal semacam sandi agak kuno, tapi sudah lupa sama siapa dia rutin menitip fotokopi catatan dan soal. Padahal itu kamu.

Kacang lupa kulit.

Atau mungkin gebetanmu yang akhirnya cuma menjadikan kamu sumber akademik tanpa memiliki perasaan lebih, sekarang masih single dan berjuang mencari pekerjaan di kantor kamu. Padahal kamu adalah pihak HR yang jadi recruiternya.

Canggung.

Temanmu, aktivis kampus berjiwa pahlawan murni yang sering dihujat karena tidak solutif, mungkin saja di masa mendatang berhasil membuat organisasi pengembangan masyarakat yang diimpikannya sejak kuliah. Dan kamu adalah pihak yang mengurus CSR ke organisasi dia.

Senang bercampur kaget.

Oh, mungkin juga temanmu yang sangat pasif di kampus itu menjadi penulis handal. Bukan penulis novel chimpy, tapi penulis sekaliber Pram Mudi Ya. Ternyata kacamata pandangnya yang unik terhadap dunia baru bisa tertuang, setelah berulang kali kamu cap gagal untuk survive di dunia kerja, hanya karena ia gagal diterima di Bandung Consultant Group sedangkan kamu diterima.

Malu.

Begitu kamu menyadari semua itu, kamu mulai merenung. Berjalan menuju mobil pemberian kantor dan mengemudikannya ke apartemen menengah ke atas milikmu. Setelah sampai, kamu merebahkan badan di kasur dan menyalakan tv. Namun kemudian kamu tertegun.

Ternyata pengganti Najwa Shohib di acara Mata itu, adalah cintamu yang tak kunjung sampai saat kuliah. Senyumpun menutup harimu, serta sebuah kalimat terlintas di kepala:

"Acak sekali ya dunia ini."

Yah entahlah akan jadi seperti apa, kemungkinannya tidak terbatas. Aku sendiri hanya bisa berfantasi sampai semua menjadi basi. Mungkin ini bisa kujadikan satu novel sendiri. Yah sudahlah, aku hanya seorang mahasiswa teknik industri yang bermimpi tinggi.

Let's enjoy the present.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.