Bekerja Cepat dan Efektif dengan Design Sprint

Reza Fikri Aulia
Apr 28, 2018 · 3 min read

Pernahkah Anda mengumpulkan user stories selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan? Performa produk tidak sesuai harapan karena tidak menjawab kebutuhan pengguna? Product requirement yang berubah-ubah dari klien? Dan berbagai permasalahan lainnya ketika membangun sebuah produk. Design Sprint membantu Anda untuk bekerja secara efektif dalam waktu yang relatif singkat, melihat seberapa besar peluang, dan mengurangi resiko kegagalan dari produk Anda. Terdengar menarik dalam teorinya, tetapi bagaimana kita melakukannya?


Design Sprint merupakan proses yang dilakukan selama lima hari untuk membantu menjawab permasalahan bisnis melalui design, rapid prototyping, dan user testing. Dipopulerkan oleh GV (Google Ventures), dalam metode ini selama lima hari tim memikirkan secara intens seperti apa produk yang akan dibuat.

Selama Design sprint, tim melakukan brainstorm ide dan fitur, memilih mana yang akan digunakan dan dieksplor, kemudian membuat prototype dan melakukan test terhadap real-user. Design sprint memangkas apa yang seharusnya dilakukan selama satu bulan menjadi hanya dilakukan dalam satu minggu saja. Sangat efektif!


Apa saja yang kita butuhkan?

Dalam prosesnya, kita membutuhkan ruangan besar dengan whiteboard, spidol, Post-It Notes, kertas, dan stiker label warna-warni. Selanjutnya, kita membutuhkan orang-orang yang tepat seperti Product Owner dan beberapa stakeholder. Kita juga harus memastikan bahwa key decision-maker dilibatkan. Tim kita harus terdiri dari UX Expert, Tech Expert, dan fasilitator yang mampu mengarahkan diskusi.

Bagaimana kita melakukan Design Sprint?

Day 1: Understand and Define

Pertama-tama kita harus memahami permasalahan dan bagaimana cara memecahkannya, dan mengidentifikasi goal. Diskusikan ide, analisis kompetitor, dan lakukan review analytics. Definisikan fokus dari klien dan tim dan kita dapat mulai pada Main User Journey.

Day 2: Diverge

Pisahkan keseluruhan User Journey dan mulai fokus pada persoalan kecil yang dapat mengakibatkan perbedaan yang besar, kemudian pecahkan permasalahan yang kita temui pada hari pertama. Setiap orang akan memiliki solusi yang berbeda-beda, jadi bekerjalah secara individu. mulailah menggambar sketsa dan menuliskan perbedaan ide pada notes. Jangan menggantung pada satu ide spesifik, kuncinya adalah pada mengumpulkan opsi yang berbeda sebanyak mungkin.

Day 3: Make a Decision

Hari yang paling sulit, karena kita akan memutuskan seperti apa prototype yang akan dibuat. Dengan banyaknya ide, kita harus mereview, mengkritisi, dan memilih elemen mana yang akan dibawa ke langkah selanjutnya. Mintalah keseluruhan tim untuk memilih opsi terbaik dengan menggunakan stiker untuk mengetahui fitur paling disukai dalam grup, dan desain keseluruhan yang paling disukai. Kemudian susun storyboard baru dengan konsep yang telah disepakati dan User Interface yang berfungsi sebagai blue print untuk hari berikutnya.

Day 4: Prototype

Dengan storyboard yang telah disepakati, UX Designer melakukan pekerjaan pembuatan prototype (yang berfungsi). Waktu untuk mengerjakan prototype ini cukup singkat. Oleh karena itu, prototype tidak perlu terlihat bagus, branded, dan berfungsi sempurna. Dengan membuat mockup kasar saja, kita sudah dapat memaksimalkan waktu untuk mendapatkan bagian terpenting dari desain untuk direview oleh pengguna tanpa membuat usaha yang sia-sia untuk membuat sesuatu yang pada akhirnya bisa dibatalkan.

Day 5: Validate (Test and Review)

Sekarang saatnya kita membagikan prototype kepada real-user untuk mendapatkan feedback. Kita melakukan “test rig” yaitu dengan melakukan perekaman saat user berinteraksi dengan prototype dan membagikannya kepada semua stakeholder sehingga mereka dapat mengetahui apa yang dipikirkan oleh real customer, dan melihat bagaimana mereka berinteraksi.


Design Sprint Explained in 1 Minute

Mengapa proses ini menguntungkan?

Semua prosesnya sangat cepat dan efisien, artinya kita tidak membuang-buang waktu dan tenaga. Dengan setiap orang terlibat dalam proses ini, dari tim UX hingga key decision-maker, akan membuat semua orang sadar mengenai apa yang sedang dikerjakan dan akan memungkinkan mereka untuk membagikan opini dan ide.

Tidak ada output yang buruk dari design sprint. Dengan hanya 5 hari, kita dapat memperoleh user feedback secara nyata tanpa perlu melakukan proses peluncuran produk yang memakan waktu cukup lama.

Dapat dikatakan saat ini Design Sprint merupakan proses yang sukses dan banyak diterapkan di berbagai perusahan IT modern.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade