Penulisan Sejarah Keluarga

Sebagai Langkah Membangkitkan Kesadaran Sejarah Masyarakat[1]

oleh: Reza Oky Iswiranto[2]

Keluarga merupakan bagian penting dalam proses tumbuh dan berkembangnya seseorang. Keluarga dapat mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku seseorang dalam mengambil keputusan dan menjalani hidup. Sehingga, keluarga merupakan salah satu bagian yang dapat dikaji dalam penulisan sejarah. Kajian mengenai sejarah keluarga menjadi menarik karena dalam penelitian mengenai sejarah keluarga akan melibatkan aspek kedekatan emosional seseorang. Aspek kedekatan emosional tersebut merupakan langkah awal dalam proses untuk membuat masyarakat tertarik terhadap penelitian sejarah. Sehingga memungkinkan dapat dibangkitkannya kesadaran sejarah pada masyarakat karena tema yang dipilih begitu dekat dengan penulisnya.

Pendidikan Keluarga

Pendidikan merupakan salah satu bagian yang berpengaruh besar terhadap seseorang. Dengan adanya pendidikan, segala potensi dari seseorang dapat dikembangkan. Tidak hanya itu, pendidikan juga mengembangkan aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan seseorang. Maka, segala kebijakan yang diambil ataupun langkah-langkah serta pemikiran dari seseorang dapat ditelusuri, salah satunya dengan melihat rekam jejak pendidikannya.

Dalam melihat pendidikan yang dialami oleh seseorang, tidak hanya ditinjau dari pendidikan sekolahnya saja. Namun, lebih luas lagi mengenai lingkungan pendidikan yang dialami oleh seseorang. Mengenai lingkungan pendidikan, Ki Hajar Dewantara sudah mengemukakan betapa pentingnya tiga pusat pendidikan yang disebutnya Sistem Tripusat. Sistem Tripusat dalam pendidikan meliputi alam atau lingkungan keluarga, lingkungan perguruan (sekolah) dan lingkungan pemuda (masyarakat). Dimana, ketiganya harus bersinergi dan mempunyai tugas masing-masing dengan tujuan untuk pendewasaan seseorang.[3]

Dibutuhkan sinergi atas Sistem Tripusat dikarena tugas masing-masing yang berbeda. Dalam lingkungan keluarga yang merupakan pusat pendidikan yang pertama dan terpenting mempunyai tugas untuk mendidik budi pekerti dan laku sosial. Kemudian, lingkungan perguruan yang bertugas untuk mengusahakan kecerdasan pikiran dan memberi ilmu pengetahuan. Sedangkan, lingkungan pemuda yang membantu menuju kecerdasan jiwa dan budi pekerti.[4] Dari ketiga lingkungan pendidikan tersebut, Ki Hajar Dewantara menggarisbawahi bahwa lingkungan yang terpenting dalam proses pendewasaan seseorang dan untuk menanamkan karakter seseorang adalah lingkungan pendidikan.

Berdasarkan penjelasan dari Ki Hajar Dewantara, tidak salah kiranya, jika dalam melihat perilaku, karakter ataupun langkah dalam pengambilan kebijakan dan pernyelesaian masalah dari seseorang, dilihat dari pendidikan di lingkungan keluarganya. Dalam hal ini, sangat memungkinkan untuk mengembangkan kajian mengenai penelitian sejarah baik mengenai kebijakan, karakter ataupun proses penyelesaian masalah, dilihat dari latar belakang pendidikan, khususnya lingkungan keluarga dari seseorang.

Kesadaran Sejarah dan Penulisan Sejarah Keluarga

Pekembangan penulisan sejarah keluarga di Indonesia, jarang yang menghubungkan suatu peristiwa yang melibatkan seseorang dengan sejarah keluarga (kehidupan keluarga). Padahal, Kuntowijoyo telah menjelaskan bahwa dalam melakukan pendidikan yang berkaitan dengan penalaran ilmiah sejarah dapat dimulai dari membiasakan untuk menulis tema-tema sejarah yang berupa diplomasi, militer, kriminalitas, kesehatan masyarakat dan keluarga (satuan).[5] Tema sejarah mengenai keluarga menjadi menarik karena dapat menguraikan latar belakang pengambilan keputusan dari seseorang, dilihat dari hubungannya dengan kehidupan dan lingkungan keluarganya.

Dalam mengadakan penulisan sejarah tentu digunakan tahap-tahap yang sesuai dengan metodologi sejarah. Menurut Kuntowijoyo, terdapat lima tahap dalam melakukan penulisan sejarah antara lain pemilihan topik, pengumpulan sumber, verifikasi, intepretasi dan penulisan. Selain itu, diperlukan juga rencana penelitian yang akan menjadi acuan peneliti dalam melakukan tahapan penulisan sejarah.[6] Salah satu yang menjadi menarik untuk dicermati dalam usaha membangkitkan kesadaran sejarah (atau pada awalnya menumbuhkan kesenangan dalam melakukan penulisan sejarah) adalah tahap pemilihan topik.

Dalam pemilihan topik, seseorang yang akan menulis dapat memilih topik berdasarkan kedekatan emosional dan kedekatan intelektual. Kedekatan emosional merupakan aspek subjektif dalam diri seseorang. Sejarawan yang memilih topik berdasarkan kedekatan emosional akan memiliki keyakinan bahwa penulisan sejarah yang akan dilakukan berharga, baik untuk dirinya sendiri ataupun untuk masyarakat. Selain itu, dapat mempermudah dalam pencarian dan penyelesaian penulisan sejarah. Sedangkan, kedekatan intelektual akan membantu seseorang untuk memperoleh konsep dalam penulisan sejarah karena seseorang yang akan melakukan penulisan sudah mempunyai kompetensi yang sesuai dengan bidang keahlian yang ditekuninya.[7]

Kesadaran sejarah yang dapat diartikan sebagai suatu pemikiran dan sikap dari seseorang untuk memahami keberadaan dirinya sebagai manusia, anggota masyarakat dan sebagai suatu bangsa[8] dapat dibangkitkan melalui penulisan sejarah keluarga. Masyarakat dapat gugur gunung untuk melakukan penulisan sejarah di keluarganya masing-masing. Setiap orang pasti mempunyai pengalaman yang berbeda antara satu dengan yang lainnya mengenai kehidupan keluarganya masing-masing. Melalui topik sejarah keluarga inilah dapat dimasukan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran sejarah pada masyarakat.

Tema mengenai penulisan sejarah keluarga mempunyai kelebihan dimana seseorang akan dekat dengan tema yang akan ditulisnya. Sehingga aspek kedekatan emosional dalam pemilihan topik penulisan sejarah membuat seseorang yang menulis mempunyai kepercayaan diri bahwa tulisan sejarah yang akan dihasilkan berharga. Tugas dari para mahasiswa ataupun sejarawan adalah mengarahkan agar dalam melakukan penulisan sejarah keluarga, seseorang akan mempunyai konsep dalam tulisannya. Sehingga, akan lebih menyempurnakan produk penulisan sejarah yang dilakukan oleh masyakarat karena dari aspek emosional dan intelektual ataupun metodologinya dapat terpenuhi.

Penulisan Sejarah Keluarga dalam Proses Pendidikan di Sekolah

Pada bagian ini akan membicarakan mengenai peran dari sejarawan pendidik (dalam hal ini guru sejarah) untuk membuat peserta didik terpacu melakukan penelitian sejarah keluarga dalam pembelajaran sejarah di kurikulum 2013. Posisi mata pelajaran sejarah di dalam kurikulum 2013 dikatakan oleh Sardiman bahwa terjadi sebuah revolusi akademik yang menempatkan mata pelajaran sejarah sebagai mata pelajaran strategis dalam kurikulum 2013. Mata pelajaran sejarah menjadi mata pelajaran wajib untuk sekolah menengah, sehingga jam pelajaran sejarah juga bertambah di setiap kelas per minggu. Kemudian, sebagai salah satu konsekuensi dari hal tersebut, guru sejarah diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran sejarah pada peserta didik.[9]

Salah satu Kompetensi Dasar (KD) dalam mata pelajaran sejarah di kelas X yang dapat digunakan dalam penerapan penulisan sejarah keluarga yaitu “memahami dan menerapkan konsep berpikir kronologis (diakronik) dan sinkronis, ruang dan waktu dalam sejarah”.[10] Dalam KD tersebut, peserta didik dapat dipacu dengan menerapkan langsung konsep-konsep tersebut dalam penulisan sejarah keluarga. Sehingga, dengan adanya penerapan langsung peserta didik dapat lebih mendalami materi konsep berpikir sejarah yang disajikan dalam bentuk penulisan sejarah dengan tema sejarah keluarga. Ruang lingkup yang dapat diambil ialah mengenai pendidikan di lingkungan keluarga, kejadian-kejadian yang pernah dialami ataupun mengenai genealogi atau garis keturunan (trah).

Pentingnya Sejarah Lisan dalam Penulisan Sejarah Keluarga

Dalam melakukan pengumpulan sumber untuk penulisan sejarah keluarga dapat dilakukan dengan metode sejarah lisan. Sejarah lisan merupakan metode yang dapat dipakai untuk mengumpulkan data-data yang akan disusun untuk menulis sejarah. Dalam sejarah lisan, hal yang harus diperhatikan adalah proses pengumpulan sumber yang dapat dilakukan dengan wawancara, menyalin dan menyunting. Selain itu, sejarah lisan juga dibedakan dengan tradisi lisan yang diwariskan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya, baik berupa kejadian, nilai-nilai moral, keagamaan, adat istiadat, peribahasa, mantra ataupun nyanyian.[11]

Kuntowijoyo menjelaskan bahwa sejarah lisan dapat dimanfaatkan dalam penulisan sejarah keluarga. Dimana disebutkan dalam penulisan sejarah keluarga, sejarah lisan akan mempunyai dua arti yaitu untuk meneliti kelembagaan keluarga sebagai unit sosial ekonomi dari waktu ke waktu. Selain itu, dapat diartikan sebagai sejarah trah yang melihat perkembangan dari waktu ke waktu sampai kepada cikal bakal trah. Kemudian, dalam proses wawancara dapat dilakukan penggalian dari narasumber mengenai kondisi masa kecil ketika proses pembentukan kepribadiannya dimulai.[12]

Sebagai contoh dari penerapan sejarah lisan yang juga dapat mengungkap tradisi lisan dari seseorang adalah penulisan biografi atau otobiografi. Misalnya penulisan mengenai otobiografi dari G.R.Ay. Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Koesoemawardhani atau yang lebih dikenal dengan Gusti Nurul oleh Ully Hermono. Metode yang digunakan adalah sejarah lisan selain dilengkapi dengan dokumen foto yang mendukung peristiwa yang diceritakan oleh Gusti Nurul. Otobiografi Gusti Nurul memuat kehidupan masa kecil hingga dewasa yang terjadi di Keraton Mangkunegaran, tidak hanya itu dalam otobiografi tersebut juga menceritakan Romo dan Ibu dari Gusti Nurul serta peristiwa yang pernah dialaminya dengan Belanda.[13] Otobiografi tersebut juga mengungkap tradisi lisan dikeluarga Gusti Nurul.

Tradisi lisan yang mengandung nilai-nilai moral prinsip yang diturunkan dari Gusti Kanjeng Ratu Timur (Ibu dari Gusti Nurul) yang berupa sikap tidak ingin dipoligami oleh suami. Diungkapkan bahwa G.K.R. Timoer memberikan nasihat kepada Gusti Nurul yang kemudian juga disampaikan oleh Gusti Nurul kepada anak perempuannya yang bernama Mita sebagai berikut. “Siji, Kowe aja gelem dimaru, Loro, Nek seumpomo bojomu omahe neng kolong jembatan kowe kudu melu, Telu, Nek duwe omah dewe, adhimu wedok ora kena melu seomah”. Nilai-nilai moral dan prinsip itulah yang diwariskan ke generasi keluarga Gusti Nurul. Bahkan, ketika Gusti Nurul akan dilamar oleh Sukarno dan Sri Sultan H.B. IX pun tidak diterima karena memegang prinsip tersebut.[14]

Paparan diatas menjelaskan bahwa selain aspek penelitian sejarah dengan menggunakan metodologi sejarah lisan, dalam penulisan sejarah keluarga juga akan menubuhkan kesadaran bahwa terdapat nilai-nilai yang ditanamkan sebagai tradisi di dalam keluarga yang sudah diterapkan. Sehingga, diharapkan dengan adanya penulisan sejarah keluarga akan menumbuhkan kesadaran sejarah pada masyarakat ataupun kepada sejarawan yang menulis. Kesadaran sejarah yang dimaksud bukan hanya berarti parsial hanya sebatas menghasilkan produk yang berupa tulisan sejarah semata, tetapi juga diharapkan dapat mengambil hikmah dan nilai yang berguna untuk kehidupan yang akan mendatang.

Penutup

Penulis menyadari bahwa membangkitakan kesadaran sejarah kepada masyarakat tidak dapat dilakukan hanya dalam waktu sekejap. Perlu pembiasaan dan pembudayaan kepada masyarakat untuk mengakrabi sejarah dan penulisan sejarah yang dalam hal ini penulis menyebutnya sebagai bagian dari proses membumikan sejarah. Menarik masyarakat untuk minat (minimal melirik) kepada sejarah dapat dimulai dengan menggunakan aspek terdekatnya yaitu penulisan mengenai keluarga. Dalam kehidupan keluarga akan dijumpai penanaman nilai-nilai melalui pendidikan di lingkungan keluarga yang akan berpengaruh terhadap kondisi pemikiran dan karakter seseorang. Aspek kedekatan emosional terhadap keluarga dapat dimanfaatkan untuk melakukan penulisan sejarah. Masyarakat akan percaya diri dan menganggap berharga untuk melakukan penulisan sejarah keluarga dan membaca buku-buku yang dapat mempermudah melakukan penulisan sejarah, sehingga dengan sendirinya dapat diterpenuhinya aspek intelektual atau keahliannya dalam penulisan sejarah keluarga. Akhirnya, penulisan sejarah keluarga akan lebih bermanfaat dan mempercepat membumikan sejarah kepada masyarakat karena penulisan sejarah keluarga merupakan penulisan yang dari, oleh dan untuk masyarakat sendiri.

Referensi:

Amurwani Dwi L., dkk. (2014). Sejarah Indonesia: Buku Guru: Jakarta, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Darsiti Soeratman. (1989). Ki Hajar Dewantara. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Kuntowijoyo. (2003). Metodologi Sejarah Edisi Kedua. Yogyakarta: Tiara Wacana.

________. (2013). Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Sardiman AM. (2015). “Antara Sejarah dan Kurikulum 2013”. Makalah, disampaikan pada Kajian Sejarah Terpadu dengan tema “Tantangan Mata Pelajaran Sejarah dalam Kurikulum 2013”, Yogyakarta: HIMA Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta.

Ully Hermono. (2014). Gusti Noeroel: Streven Naar Geluk (Mengejar Kebahagiaan). Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Footnote:

[1] Disampaikan dalam Seminar Mata Kuliah Seminar Sejarah Program Studi Pendidikan Sejarah pada hari Senin tanggal 29 Mei 2017 di Ruang Ki Hajar Dewantara, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta.

[2] Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah, NIM. 14406241046, Angkatan 2014.

[3] Darsiti Soeratman, Ki Hajar Dewantara. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1989, hlm.6.

[4] Ibid., hlm.6–7.

[5] Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah Edisi Kedua. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2003, hlm.xii.

[6] Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2013, hlm.69–72.

[7] Ibid., hlm.69–72.

[8] Sardiman AM., “Antara Sejarah dan Kurikulum 2013” dalam Kajian Sejarah Terpadu, Yogyakarta: HIMA Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta, 2015, hlm.5.

[9] Ibid., hlm.6–8.

[10] Amurwani Dwi L., dkk., Sejarah Indonesia: Buku Guru: Jakarta, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014, hlm. 11.

[11] Kuntowijoyo, 2003, Ibid.,hlm.25.

[12] Ibid., hlm.33–35.

[13] Ully Hermono, Gusti Noeroel: Streven Naar Geluk (Mengejar Kebahagiaan). Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2014, hlm.v.vi.

[14] Ibid., hlm.216.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.