Saya Belajar Berdedikasi Dari Nyi S. Iman Sudijat dan Almarhumah Nyi Alip

Hari ini, saya mendapatkan pelajaran besar mengenai keberhargaan narasumber dalam sejarah.

Ya, saya berniat menggunakan sejarah lisan sebagai sumber dalam penelitian yang akan dilakukan. Sehingga, mulai dari sekarang, mulai mencari-cari narasumber yang mengalami dan hidup saat peristiwa terjadi.

Dua tokoh wanita di Taman Siswa, selain tentunya Nyi Hadjar Dewantara (Soetartinah), dapat dikatakan adalah Nyi S. Iman Sudijat dan Nyi Alip. Kedua tokoh tersebut merupakan siswa dan ikut dalam kepengurusan Taman Siswa, pada saat itu (1922–1945). Sehingga, tak dapat disangkal lagi, bahwa beliau berdua adalah sumber lisan yang mumpuni.

Perjalanan saya hari ini, berniat untuk mengunjungi rumah beliau berdua. Maksudnya untuk sowan dan mengatakan niat penelitian mengenai Taman Siswa.

Namun, ketika sudah sampai di Rumah Nyi Alip. Ternyata beliau sudah dipanggil oleh Tuhan tahun 2014. Sehingga, saya meneruskan ke tempat Nyi S. Iman Sudijat untuk mewawancarai beliau.

Sampai di Rumah Nyi S. Iman Sudijat, alhamdulillah beliau masih sugeng. Namun, kondisi beliau yang tidak mumpuni untuk memberikan informasi dikarenakan sudah terbaring dan tidak lagi bisa mendengar.

Saya menjadi mengerti bahwa pekerjaan sejarawan dalam mencari sumber itu merupakan pekerjaan yang penting dan berpacu dalam waktu.

Doa saya terlantun kepada Almarhumah Nyi Alip, semoga bahkti beliau di dunia diterima oleh Tuhan.

Saya juga berdoa, agar Nyi S. Iman Sudijat mempunyai umur panjang dan dapat dimudahkan dan dilancarkan segala urusan beliau.

Akhirnya, saya belajar banyak dari beliau berdua bahwa ketokohan itu tak akan lekang oleh zaman. Beliau berkarya sudah sejak lama, namun dimasa tuanya pun masih banyak dicari orang karena pengabdian dan dedikasi yang telah dilakukan oleh beliau.

Gonjen, 12 Juli 2017

R. Iswiranto

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Reza Iswiranto’s story.