Kudapan Hari Raya

Idul Fitri merupakan salah satu hari di satu tahun yang aku rasa hebat. Sangat hebat. Berkepala-kepala manusia berkeliling kesana kemari mengharap belas kasih sesama, tidak jarang juga musuh bebuyutan berjabat mengagetkan. Adapula jutaan rupiah pundi-pundi peningkatan omzet pedagang di pasar, serta semangat juga optimisme yang tertoreh di tengah himpitan polusi hasil emisi. Semua dilakukan (semoga) semata-mata untuk menyambung silaturahmi. Hebat betul.

Kenapa ya? Seberapa penting sih menyibukan diri satu hari penuh kesana kemari, belum lagi menyadur kata-kata dan membiakan (is this even a word?) melalui beragam jenis media. Apakah harus mengemis maaf ke seluruh penjuru dunia? Digerujuki berkah ya kalau bersenda gurau menyinyiri sanak famili yang kasat maupun tampak?

Don’t get me wrong, bukan berarti merupakan tindakan yang tidak mulia memang untuk meminta maaf atas seluruh kesalahan yang kita — mahluk Tuhan yang ternista kedua setelah yang Dia ciptakan dari api — telah sengaja maupun tidak sengaja perbuat. Bukan berarti menyia-nyiakan waktu pun tenaga memang bersilaturahmi “haha hihi” jutaan detik lamanya. Tidak kok.

As some particular kind of people wrote on the Internet, “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah”. Mungkin, apabila kita diferensiasi dan kita adaptasi ke hari raya (jangan lupa juga untuk menyisipi cocoklogi!), apakah meminta maaf lebih mulia dibandingkan memaafkan? Apakah kemudian peribahasanya bisa diasimilasi menjadi “Memaafkan lebih baik daripada meminta maaf”, bisa?

Kalaupun pendapat diatas akan menghasilkan momok “telur dan ayam” yang tidak ada ujungnya, kesimpulanku sih tetap aku lebih memilih memaafkan. Bermaaf-maafan menurutku sangatlah dekat urusannya dengan apa yang kita ikhlaskan. Setinggi apa keberanian kita untuk menyerahkan kembali duduk perkara dunia, sepenuhnya ke Tuhan (ya ini juga berlaku untuk kalian yang merasa Odin adalah Tuhan kalian). Sekuat apa kepercayaan kita akan apa yang diajarkan kepada kita, well at least to me, bahwa seluruh manusia itu setara di dunia. Dengan memaafkan, saling memaafkan, sebelum ada yang meminta maaf, apakah intisari aktivitasnya berbeda? All racism aside, bukankah bermaaf-maafan tidak membutuhkan suatu kepercayaan? Let alone any special occasion?

Seperti betapa enaknya kue nastar di hari raya, dan betapa sama enaknya pula kue nastar di hari-hari biasa.

Eniwei, minal aidin yah. Maafkan seluruh kesalahan saya. Saya maafkan kok, if any of you are wondering. Tapi gak saya lupakan :).

Like what you read? Give Reza Andhika a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.