Kapas Abu Langit

Dunia berputar di porosnya.

Bulan pun begitu, namun, ia juga mengelilingi dunia.

Dunia pada saat yang bersamaan ikut balapan rotasi bersama Venus dan juga Mars. Mereka mengelilingi matahari sebagai titik pusatnya.

Aku berada di dunia. Membayangkan ini semua dari balik dinding-dinding kamar 3x4 meter persegi dan ditemani oleh alunan piano dari pemutar musik.

Teringatku obrolan kemarin malam. Dalam obrolan tersebut ada pembicaraan mengenai perempuan, tuhan, dan gebetan. Aku sesekali nimbrung. Namun, diantara obrolan itu langit malam yang memayungi kami begitu cerah. Terlihat gumpalan kapas abu-abu melayang dengan perlahan di atas sana.

Sayangnya aku tak dapat menikmati keindahan langit malam itu. Penglihatanku terhalang oleh penyakit jarak pandang mata yang semakin parah. Yang bisa kunikmati adalah semilir angin malam sambil rebahan menatap langit.

Betapa indahnya dunia ini, meskipun konflik antar negara dan daerah masih pecah dibelahan dunia lain, namun, keindahan dunia masih saja tetap memukau. Di sudut-sudut belahan dunia lain kupu-kupu warna-warni bersliweran dan hinggap di bunga-bunga taman. Rerumputan hijau terbentang luas seperti permadani Persia. Air di sungai-sungai begitu jernih dan bersih. Engkau bisa melihat pantulan bayanganmu di permukaannya. Tidak ada asap dan polutan. Yang ada hanyalah udara segar yang merasuk ke paru-paru.

Malam itu, hanya secuil yang bisa kurasakan dari keindahan dunia. Sembari membaringkan badanku di atas permukaan trotoar yang dilapisi tikar, aku menikmati semilir angin malam. Nyiur melambai perlahan. Ku pejamkan mata sejenak untuk merasakan lambaian semilir angin di tubuhku. Begitu ramah seperti gerakan molek penari Jawa.

Anganku telah jauh sampai-sampai aku tak sadarkan diri. Aku terlelap di atas lantai keramik yang dingin. Dengan posisi leher yang tidak normal, aku bisa terlelap. Aku pun terbawa ke alam lain. Lautan imajinasi aku arungi dengan perahu kayu jati.

Aku terbelalak. Bunyi notifikasi gawai berkumandang.

“ALAMAKJANG!!!”

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.