BAGANSIAPI-API, RIAU (BROKENHOME STORY)
Ombak berdebur tanpa henti menerpa pesisir pulau Bagansiapiapi. Matahari mati-matian bertahan di garis horizon agar tak tergelincir ke belahan bumi yang lain, seakan-akan Ia ingin menyinari kami berdua selama mungkin.
Aku pernah ke banyak pantai, namun tak ada pantai yang seindah ini. Pasirnya memang sama putih, airnya pun sama jernih, matahari tentu saja sama, kondisi alam tak jauh berbeda dengan pantai-pantai lainnya, yang membuat pantai ini istimewa adalah sosok yang dengannya aku sedang berada di sini. Sosok berambut lurus, dengan poni menutupi matanya yang sedikit sipit, dan kulit yang aslinya kuning langsat sekarang menjadi sedikit coklat akibat kesenangannya dengan aktivitas outdoor.
Ia menikmati pemandangan pantai. Aku menikmati pemandangan di wajahnya, di matanya.
“Kau ga tau, Bang, gimana rasanya hidup jadi aku,” ucapnya dengan logat daerah yang masih kental. Pandangannya masih ke arah pantai.
Aku terdiam mendengarnya tiba-tiba berkata seperti itu. Dengan aksen imitasi aku menjawab, “Mungkin aku tahu. Aku memang ga terkenal seperti kau, tapi aku rasa aku memahamilah sedikit bagaimana menjadi sosok yang di kenal.”
Ia tertawa sambil menoleh ke arahku. Setengah mengejek ia berkata, “Ga sedangkal itu lah, Bang”
Kali ini aku tahu Ia sedang membuka dirinya lebih dalam lagi. Ia ingin menceritakan sebuah rahasia. “Hahaha, ya udah coba ceritakan dulu bagaimana rasanya jadi kau?” tanyaku mulai serius.
Ia kembali menatap pantai beberapa detik. Lalu mulai memainkan pecahan rumah keong di pasir. “Ga ada sih.
Biasa aja. Cuman kadang memang aneh kali. Aku tumbuh tanpa dua sosok orang tua yang harusnya jadi contoh dasarku dalam segala hal tentang hidup.” Aku bisa mendengar nada kerinduan dalam nadanya. Aku tak tahu apakah rindu akan orang tua atau kerinduan untuk membicarakan hal-hal mendalam seperti sekarang.
“Kaya apa ya,” lanjutnya, “kaya, sebagai manusia kan aku punya pikiran dan perasaan, tapi sebagai manusia, aku ga tau bagaimana cara mengeluarkannya karena aku ga pernah punya orang tua yang ngasih aku contoh bagaimana cara mengekspresikan sesuatu dengan baik.”
“Wow…” aku benar-benar terkejut. Sosok yang beberapa waktu lalu aku kenal lewat sosial media, yang aku pikir adalah sosok belia yang hanya memikirkan tentang kesenangan dan penampilan ternyata memiliki kedalaman berpikir yang baik.
“Ga usah lebay gitu loh reaksinya, Bang.” tegurnya, aku hanya tersenyum. “Pernah ngerasa gitu ga bang? Ada sesuatu dalam diri tapi ga tau bagaimana cara ngucapinnya atau mengeluarkannya lewat perbuatan.”
“Kaya apa persisnya?” pancingku.
“Kaya kau lagi sedih tapi kau ga benar-benar tahu caranya nangis. Lagi senang kau ga tahu caranya tertawa. Lagi marah tapi ga tau gimana cara ngomongnya. Mau nolak sesuatu ga tau gimana cara bilang ‘tidak’. Mau berdamai tapi ga tau caranya meminta maaf dan memaafkan. Lagi merasa sepi kau ga tau gimana caranya menjadi seorang teman dan cara mencari teman, — ”
“Atau ketika kau jatuh cinta kau ga tau gimana cara mencintai?” Aku memotong ucapannya.
Ia terhenyak dengan ucapanku. Ia kembali menatap pantai. Tak berapa lama Ia memasang kembali kacamata hitamnya, beranjak dari duduknya dan berjalan menyusuri pantai.
Aku membiarkannya sendirian, bersedih di balik kacamatanya yang gelap. Aku harap Ia meneteskan air mata agar bisa merasa sedikit lega.
Seiring siluetnya menjauh aku merenungkan sesuatu, “Siapa pun tanpa terkecuali, memendam sesuatu yang mereka anggap tak penting, namun selalu menghantui dan menunggu untuk di ungkapkan.
Dan mereka yang kuat bukanlah mereka yang bisa mengabaikan hal itu, namun mereka yang mengakui dan merangkul hal tersebut, terjatuh berkali-kali karenanya, namun tak pernah berhenti untuk bangkit lagi.
“Woii, jangan jauh-jauh,” seruku. “Ilang kau nanti susah aku nyarinya.”
Ia masih terus berjalan tak peduli.
“Sedih pula nanti aku kalau kau ilang!” seruku lagi.
Ia berbalik, tersenyum menghadapku, membelakangi sinar matahari.
Senyum penuh harapan. Senyum di mana aku melihat sesuatu yang di sebut “masa depan.”
