Mengapa Maba Harus Mengikuti Pengaderan?

Reza Vikariansyah
Jul 30, 2017 · 10 min read

“Apa tooong”

“Urusi mi dirimu sendiri deh”

“Mapan mi saya”

“Edede tidak adaji gunanya. Nirfaeda eeew~”

“Ndada prestasi bisa didapat disitu”

“Prestasi saja nda bisa didapat, apalagi mau dapat followers di situ. Hmm.”

“Ajang retorikanya ji senior-senior itu”

“Bisaji na kasi keluar negeri ka itu?”

“Palingan plonco-plonco ji lagi”

“Maumi seng doktrin-doktrin salah”

“Wajib itukah?”

“Aduh kak, dilarang ka sama orangtuaku ikut-ikut beginian”

“Tidakji dulu saya deh. Duluan meko”

“Lagi gaada waktu euy”

“Ndada cakep kakak-kakaknya belah, malas deh”

“Kenapa ka harus ikut disini kalau ternyata semua esensinya bisa ji sa dapat di tempat lain?”

“Menurutku saya, kalau mauki ikut haruski total. Nda bisaka total saya. Sekali jangan mi”

“Iyah begit-begits, yang harus korbankan waktu dan tenaga. Nda bisaka”

“Berapa SKS itu didapat kalau ikutki?”

“Aih harus ka pulang cepat. Moka antar-jemput adekku”

“Hari H pi saya baru mauka datang”

“Sebenarnya sih mauja ikut, cuman banyak urusan luarku juga”

“Kurasa-rasa ini kalau mulai mi materi, nda mampu mi otakku tangkap ki semua”

“Lemahki fisikku saya, gampang sekalika sakit kasihan”

“Saya mauja, tapi tidak ada kendaraanku”

“Ngumpul-ngumpulnya ji saya kucari”

“Mauja saya ikut asal banyak juga temanku ikut. Hehehe”

“Kalau datang ka juga para-paranya ji senior baku cerita”

“Berapa tahap ini kah? Deh magerta mi”

“Terlalu banyak resumenya na kasiki. Cinderella saja nda banyak begitu ji tugas rumahnya”

“Astaga ketiduranka”

“Deh, terlambat ma sede datang pengumpulan”

“Dihukum ma lagi ini”

“Apa ji saya kodong, remah-remah rempeyek ja. Yang vocal ji yang selalu na temani kakak-kakak cerita”

“Kita kasihan nda pernah dibati-bati”

“Baperka. Nda mau ma. I’m done

“Nda mengertiku saya beginian, padahal biasaja hadir”

“Another level ki pembahasannya. Nakke kodong, Garis Hari Ini ji biasa kubahas”

“Apa sih ini kakak, bermalam terus di kosanku”

“Lepas tangan ma saya kalau sama teman-temanku yang lain, kak. Biarmi mereka begitu deh”

“Asik ji sebenarnya ini nah. Kalau agenda Ice Breaking maksudku”

“Serius, seru ji tawwa. Cuman begitumi, ada biasa metodenya yang nda sa suka”

“Terkadang kalau bertanya ka, nda dapat pa jawaban yang memuaskan”

“Kayaknya memang perlu ka berdiskusi lebih banyak lagi”

“Dan haruspi banyak buku progresif dibaca baru bisa ki menger ini semua”

“Ada-adaji kudapat iyah. Manna mamo sedikit yang penting ada”

“Sedikit mami juga selesai”

“Nikmati saja prosesnya”

. . . Karena kaderisasi adalah proses penyadaran dan pembentukan.


Semenjak saya menjadi mahasiswa (di salah satu perguruan tinggi yang baru saja memakai ‘BH’, maklum doi baru puber), banyak hal keren yang saya temui di almamater tercinta. Dari mereka-mereka yang berdiskusi kemudian menyebutkan tokoh-tokoh yang tidak pernah saya dengar sebelumnya, sampai hal simpel nan keren menikmati film dengan menggunakan analisis disiplin ilmu.

Bagi saya yang saat itu masih mahasiswa tahun pertama, setidaknya dua kegiatan diatas menurut saya keren. Maklum, tahun pertama berkuliah merupakan masa-masa mencari role model dan kegiatan seru lainnya. Berdasarkan hasil pengamatan sendiri, hal diatas muncul karena passion dan tuntutan lingkungan akademis.

Mereka yang suka seni peran dan musik akan mencari orang yang satu selera, serta menyempatkan diri untuk hadir di pentas maupun festival-festival kampus. Mereka yang mencintai olahraga akan mendekati orang-orang serupa. Mereka yang hobi main game akan mencari lawan yang lebih tangguh dari dia.

Setidaknya begitulah siklusnya. Hingga akhirnya akan bermuara di wadah yang bisa mengembangkan minat dan bakat mereka masing-masing.

Sejauh ini tidak ada yang salah. Pengembangan skill memang penting. Yakale kita mau hidup datar-datar saja di kampus. Taaapi…

“Berkontribusi nggak bagi perubahan sosial?”. Kurang lebih seperti itu kata salah seorang yang pernah saya temui.

Kata “sosial” diatas menjelaskan bahwa hakikat manusia terhadap sesama merupakan tujuan kita hidup, berkuliah, berorganisasi, bermain, atau apapun itu kegiatannya. Dengan pemahaman intelektual yang kita punya dibarengi dengan skill diatas tadi, seharusnya mampu menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi dunia kontemporer.

Mungkin Dek Nella bertanya, “Kenapa begitu kak? Saya maunya cuman kuliah, dapat nilai A, wisuda cepat, dan lanjut S2 luar negeri. Bukannya itu yang dunia kerja cari?”

Jadi begini Dek Nella, kalimat klasik “Dunia sedang tidak baik-baik saja” rasanya masih relevan untuk menjadi pemantik mengapa tulisan ini lahir.

Masa-masa berkuliah bukanlah salah satu fase sekedar melengkapi pengalaman demi sebuah kursi kerja. Begitulah sebelum dunia kampus mengkonstruknya menjadi lebih mengarah kesitu. Dek Nella dan teman-teman adiks lainnya hidup bukan untuk ditakdirkan sekedar bekerja lalu menghasilkan upah.

Jikalau memang seperti itu, wajar saja masih banyak ketimpangan yang tak nampak di mata Dek Nella. Bisa jadi juga nampak, tapi ketidaktahuan dan ketidakpedulian membuat kita menjadi tak acuh. Penghilangan paksa, perampasan lahan, kebijakan diskriminatif, pembangunan atas nama modernitas merupakan serangkaian fenomena yang pasti menurut Dek Nella tidak perlu diambil pusing. “Selama itu tidak mengganggu hidup saya, sikat jon.”

Akhirnya kita dimanjakan oleh semua produk dari serangkaian fenomena tadi. Tempat-tempat hiburan yang semu, mengejar prestise demi derajat lebih tinggi, pusat belanja dan kedai-kedai branded dari luar untuk meningkatkan perilaku konsumtif, serta masih banyak yang secara tidak sadar Dek Nella pernah lakukan. Semuanya membentuk kita mengabaikan lingkungan sosial. Bahwa ternyata ketika Dek Nella memakai pakaian branded, jauh di pabriknya ada orang yang bahkan dengan upahnya tak mampu membeli barang yang dibuat sendiri olehnya. Bahwa ternyata ketika Dek Nella sedang enak makan ikan di restoran ternama, ada nelayan yang dengan susah payah memperjuangkan lahan perkerjaan dengan melawan monster reklamasi.

Ayolah, apakah hidup sejahat itu, Dek Nella? Ketika jurang pembeda begitu dalam? Bukankah kita semua mengidam-ngidamkan hidup bahagia berdampingan? Ataukah ego manusia saat ini lebih enak didengar ketimbang rintihan para terabaikan?

Untuk itulah kampus seharusnya berperan. Sebagai salah satu sentrum kegiatan intelektual, sejatinya dunia kampus mampu membentuk mahasiswa-mahasiswa yang kritis dan berpihak kepada masyarakat. Tanggungjawab keilmuan Dek Nella sangat dibutuhkan di lingkungan masyarakat. Bukan bermaksud overpatriotic, tapi siapa lagi yang akan membangunkan ketidaksadaran masyarakat kalau ternyata banyak terjadi ketimpangan? Banyak orang di luar sana yang waktunya diprioritaskan untuk menafkahi keluarga mereka. Dek Nella sebagai orang yang memiliki pemahaman dan waktu luang lebih banyak seharusnya menjadi inisiator dari sebuah pergerakan atau pun perubahan sosial.

“Edede, terlalu normatif jawaban ta kak!”

Okelah Diks. Dalam tulisan ini kakak memang tidak berharap semua pertanyaan adek terjawabkan. Tapi setidaknya setelah membaca beberapa penjelasan di atas, Dek Nella sedikit terketuk untuk mencari tahu lebih dalam. Kelak ketika kehidupan kampus Dek Nella telah dimulai, saya yakin disitu ‘kan ada penjelasan detailnya, dan tentu lebih ilmiah lagi.

Ketika semuanya telah mulai, Dek Nella akan dihadapkan pada fase perekrutan organisasi kemahasiswaan. Entah di kampus adiks tingkatan jurusan atau pun fakultas yang duluan dimulai, ikutilah. Karena di situlah ruang kaderisasi berlangsung. Di situ lah ruang segala harapan para pelaku organisasi tersematkan.

“Tapi kudengar-dengar bede kak, bede ini nah kak, dipukul-pukuli beng orang di situ?”

Janganlah dulu dipotong kalau kakak lagi menjelaskan, dek. Jadi begini, untuk metode yang menerapkan kekerasan fisik, diriku juga tak sepakat. Kita percaya bahwa kaderisasi adalah proses pembentukan watak, sikap, dan pola pikir yang mengedepankan metode interaksi dan rasionalitas. Sudah sepatutnya proses itu dijalankan melalui penjelasan yang ilmiah. Yang ingin kita bentuk adalah kader dengan pemikiran kritis, yah yang ditempa adalah isi kepalanya, bukan tengkorak kepalanya.

Dek Nella bisa loh mempertanyakan segala tujuan dari metode tersebut. Jangan sungkan untuk mendatangi mereka yang bertanggungjawab terhadap proses kaderisasi. Wajah sangar para kakak-kakakmu akan berubah ketika berada di luar agenda kegiatan. Di situlah waktu yang tepat untuk mengajaknya berdiskusi seputar prosesi perkaderan. Taaapi, setiap organisasi punya kulturnya masing-masing, jadi pelan-pelan lah dalam bersikap, diks.

Teman-teman saya berikut ini siap menjawab segala kegundahan adik seputar dunia kemahasiswaan. Mungkin namanya tidak sama persis, tapi watak dan perilakunya pasti ada di kampus Dek Nella nantinya. Kenalilah semua kakak-kakakmu, karena mereka yang akan menemani hari-hari dalam berproses.

Kalau Dek Nella tipikal maba yang ingin mencari tahu dunia kemahasiswaan sesimpel membuka Wikipedia, ada Kak Rial yang akan menjawab segala kegundahan adiks dari mengapa mahasiswa harus bergerak sampai pembahasan seberat Marxisme. Tanyakan semuanya, dek. Tapi tolong jangan bertanya soal cita-cita di Kak Rial. Ajak lah dia jalan-jalan keluar kota untuk menghadiri kegiatan progresif. Kau akan lihat aslinya doi.

Atau mungkin Dek Nella lebih suka pendekatan yang santai-pelan-ringan. Teman saya sebut saja Si Jurnalisme Brengsek dan Si Maju Kedepan adalah duet yang cocok dengan sifat adek. Kedua kakakmu itu akan menjelaskan dengan cara yang humoris tapi serius. Si Jurnalisme Brengsek mungkin akan memulai pembicaraan dengan menanyai latar belakangmu, jenis kopi favorit, sampai hubungan asmaramu.

Hingga bosan dengan basa-basi primitif tersebut, doi akan mulai menjelaskan tentang konspirasi dibalik kejadian Nine-Eleven. Iyah, konspirasi adalah fenomena yang paling diminati oleh maba. Ketika Dek Nella kelihatan sedikit kebingungan dengan penjelasan Si Jurnalisme Brengsek, saat itulah peran Si Maju Kedepan dimulai. Beliau akan menjelaskan dengan anekdot-anekdot analogi a la Slavoj Žižek, atau mungkin akan mengambil analogi dari contoh kasus di film yang terakhir doi nonton. Siap-siap lah tersenyum! Dan tanyalah sepuasmu, dek. Kalau Kak Rial tadi ibarat Wikipedia, mereka berdua adalah Wikileaks-nya dunia kampus.

Kalau misalnya Dek Nella tidak cocok dengan sifat mereka diatas, dan lebih nyambung dengan orang yang beribawa dan tegas, Kak Wira akan siap menemani adek berdiskusi. Hal-hal keorganisasiaan dari AD/ART sampai matriks kegiatan akan dijelaskannya dengan cara yang Dek Nella suka: Tegas dan Lugas. Bertanyalah sesukamu, dek. Jangan takut. Karena dibalik ketegasannya, jauh dilubuk hati paling dasar, dia memiliki hati(nya) mulya. Setidaknya begitulah klaim sang kakak.

Siapa tahu juga Dek Nella adalah tipikal wanita langka yang mencintai kebebasan tanpa hirarkis dan mengedepankan prinsip Do It Yourself, Bung Noufal akan siap membagi tips cara bertahan hidup saat aksi chaos. Bertanyalah sebanyak-banyaknya, Jon. Tapi jangan terlalu banyak, dek. Doi lagi sibuk urus berkas wisuda. Puji Tuhan, Aamiin.

Atau mungkin Bung Noufal kurang tua untuk diajak diskusi, karena Dek Nella lebih suka yang tua-tua. Ada Kak/Bung/Oom/Opa/Oppa/Bapak Zulmi yang akan menjelaskanmu tentang cara mahasiswa berjejaring hingga menghasilkan sebuah kegiatan alternatif yang keren. Bertanyalah sepuasmu, dek. Kalau perlu bertanyalah dengan durasi yang lama. Hanya Dek Nella harapanku untuk menghentikan Zulmi mengupdate gambar-gambar tak jelas di Facebook.

Atau mungkin Dek Nella merupakan salah satu DIKTATOR (Adiks Tana Toraja) dan menyukai pendekatan kedaerahaan, silahkan cari Kak Sirton. Dari permasalahan ilmiah kedaulatan pangan hingga yang berbau agama seperti teologi pembebasan akan dijelaskannya. Bertanyalah sesukamu, pia baine. Tapi jangan terlalu lama bahas agama, dek. Kalau terlalu lama, doi akan sensitif.

Ngomong-ngomong soal agama, misalnya Dek Nella adalah tipikal perempuan ukhti-ukhti yang enggan berbicara lama dengan laki-laki, perempuan-perempuan seperti Kak Tirjon, Kak Aul, Kak Marwah, dan Kak Khusnul akan mewarnai harimu. Dari hal sesimpel Korean Wave hingga menciptakan revolusi akan kalian bahas. Oleh karena itu bertanyalah. Kalau perlu sekalian ajak mereka bermalam di rumahmu.

Atau mungkin Dek Nella adalah ukhti-ukhti yang suka diskusi dengan kakak-kakak satu tahun diatasmu? Tenang, ada Kak Ilmi, Kak Ifa, Kak Ika, dan Kak Ikrana yang akan menemanimu. Mereka lah cikal-bakal bunga-bunga revolusi. Dengan pengalaman mengikuti perkaderan yang masih fresh, mereka juga akan membagi masa-masa seru setahun sebelumnya. Dek Nella, walaupun inisial namamu bukan “ I ”, bertanyalah yang banyak pada mereka, ukhti. Jangan sekali-kali bahas soal hati. Beberapa dari mereka rapuh-rapuh tegar. HMMM.

Ngomong-ngomong soal hati yang tegar, karena Dek Nella mungkin anaknya lebih suka berdiskusi dengan pria-pria berhati tegar, merapatlah kebarisan Kak Bayu dan Kak Aufar. Ketegaran mereka telah teruji ketika ba’da forum organisasi. Kalau masih ragu, cobalah tes ketegaran mereka dengan masuk forum organisasi hingga malam hari. Di dalam situ kau ‘kan belajar organisasi secara lebih struktural. Setelahnya, mereka akan mengantarmu pulang. Nah, diperjalanan silahkan bertanya sepuasnya soal dinamika forum tadi, dek. Nikmatilah diskusi on the roadmu. Ketika kau telah sampai di rumah, jangan lupa kabari pacarmu kalau kau telah tiba. Kabari juga kalau kakak yang mengantarmu tadi orangnya baik. Jadi dia tak perlu insecure kepadamu.

Kalau di tengah transisi tahapan perkaderan dan Dek Nella merasa ingin mengembangkan minat dan bakat, tak perlu jauh-jauh, dek. Saya punya dua teman yang handal di bidang seni musik dan cinematography. Dua bidang yang menurut saya cukup kekinian. Mereka Kak Aldy dan Kak Zul, yang akan mengajakmu untuk sama-sama berkembang. Yang satu piawai memainkan gitar, yang satu jago pukul-pukul galon. Karena mereka punya banyak stok film di laptopnya, nampaknya mereka menarik untuk diajak diskusi film. Cobalah bertanya cara mengoperasikan software pengedit video, belakangan sumber daya di bidang video editing sangat dibutuhkan. Bertanyalah dengan lembut, dek. Pasti kau akan sependapat denganku kalau mereka memiliki satu kesamaan: sama-sama tegar-tegar rapuh.

Atau mungkin Dek Nella anaknya kaku-kakuan. Sekaku level: hanya mau berdiskusi dengan pemegang jabatan inti lembaga. Tak apalah. Ada Kak Fiqri, Kak Wais, dan Kak Iyam. Kalau Dek Nella kembali menjadi ukhti-ukhti, ada Kak Rara, Kak Henny, Kak Amel, Kak Firdha, dan Kak Era. Bertanyalah, dek. Semoga kelak kau menjadi salah satu dari mereka.

Sorry kawan, inti belah. Nda beranika bercandain. Hahaha.

Hingga ketika semua prosesi telah usai, Dek Nella akan dianggap sebagai kader yang memahami leadership, analisis keilmuan dasar, gerakan mahasiswa dan idealisme, solidaritas sosial, hakikat manusia, dan lain sebagainya. Karena Dek Nella telah dianggap paham, di situ lah beban berat lahir. Kami biasa menyebutnya tanggungjawab moral dan tanggungjawab sosial.

“Asik ji tawwa di’, tapi kenapa kayak berat bebannya langsung?”

Dek Nella, Kita semua mempunyai tanggungjawab dan beban itu. Bersama nama-nama diatas, mereka akan membantumu to make a better place for you and for me.

Hati-hati pula terhadap politik praktis dalam kampus, dek. Dia bertransformasi ke dalam banyak bentuk. Banyak contoh politik praktis yang tak nampak di mata Dek Nella. Ketika Dek Nella sedang dalam perdebatan mengenai perebutan kursi kekuasaan, mobilisasi massa, serta bagi-bagi suara, saya sarankan segara panggil Batman dan Kamerad Ryan.

Kalau mereka berdua kurang kuat, saya punya preman kampus, dek. Sebut saja dia Si Nakal. Belakangan dia menolak disebut seperti itu. Justru karena penolakan tersebut dia jadi terlihat lebih nakal dibanding mahasiswa-mahasiswa yang ingin terlihat nakal padahal tidak nakal. Panggil saja dia kalau ada masalah. Tapi jangan terlalu sering memanggil, saya takut kau akan jatuh hati. Dan berujung penolakan. So Naughty…

Okelah Dek Nella, nampaknya masa-masa perkaderanmu akan jauh lebih bahagia ketika ditemani orang-orang diatas. Sekali lagi, diks. Carilah mereka. Setidaknya di kampusmu pasti ada orang dengan watak seperti mereka. Walaupun namanya tak persis sama.

TERAKHIR:

JAUHI KAK FANDHA, DEK!

Honestly, tulisan ini lahir karena dilanda atmosfir sebentar-lagi-maba-masuk bercampur perasaan rindu ‘rumah’ serta orang-orang di dalamnya :’)

Di hari Minggu akhir bulan Juli 2017.
Balai Satu, Nagari Manggopoh, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat.

Reza Vikariansyah

Written by

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade