Surat Cinta Untuk Nella

Sumber: Weekday Moments

Setahu saya, setiap negara mempunyai ciri khasnya masing-masing terhadap musik. Negara-negara di Benua Afrika identik dengan musik Reggae. Inggris sangat lekat dengan Britpop-nya. Kalau saya sebut musik Korea mungkin banyak diantara kita yang refleks dengan K-Pop. Padahal belum saya detailkan loh Korea yang Utara atau Selatan. Cause Kimmy you’re firework~

Belakangan saya mulai sadar. Kita tidak bisa sesimpel itu mencomot negara dan musiknya. Karena musik merambat melalui golongan atau kelas. Tidak perlu kehadiran negara. Kalau kata Kak Rial: selalu ada konteks sosial dalam perkembangan sesuatu.

Musik Punk lahir sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintahan yang tidak membebaskan. Jazz bahkan diidentikkan dengan kaum-kaum elite. Yah walaupun kelahirannya konon sangat berhubungan dengan pertahanan hidup dan ekspresi kehidupan manusia. Atau misalnya Reggae tadi, siapa sangka kalau Reggae ternyata merupakan medium Kaum Rastafarian dalam menyebarluaskan pemahaman spritualitasnya. Kurang lebih seperti itulah bagaimana kondisi sosial melahirkan sebuah genre musik yang akhirnya identik dengan sebuah kelompok atau bahkan ideologi tertentu.

Saya yakin setiap orang pasti punya idolanya masing-masing terkait suatu genre musik. Saya suka Hip-Hop karna Bondan Prakoso (yang dulu). Siapa sih yang tidak sebut Bob Marley kalau kita bahas Reggae. Untuk musik-musik galau dan mendayu-dayu, Pak BeYe mungkin adalah nama pertama yang akan saya sebut kalau dipertanyakan seperti itu. Hal serupa terjadi untuk musik Punk, Jazz, K-pop, Metal, Rock, Paper, Scissors, setidaknya kita punya satu nama entah band atau solo yang karena dia, kita bisa mengenal lebih dekat suatu genre musik.

Beberapa genre-genre musik diatas, punya jenis-jenisnya tersendiri (subgenre). Misalnya Rock sendiri turun menjadi soft rock, hard rock, glam rock, alternative rock, grunge, dan sebagainya. Metal turun menjadi heavy metal, death metal, power metal, thrash metal, nu metal, dan masih banyak lagi. Pokoknya setiap genre punya silsilah keluarganya masing-masing. Tak jarang ada genre musik yang juga saling “fusion”.

Secara pribadi, saya orangnya bisa menikmati semua genre musik. Tak terkecuali Dangdut. Belakangan entah kenapa saya lagi suka-sukanya mendengar dangdut. Bukan karena Rhoma Irama, Inul Daratista, apalagi Nassar KDI yang membuat saya mencintai dangdut. Okelah, kontribusi mereka terhadap blantika dangdut tanah air tidak bisa dianggap remeh. Tapi bukan mereka semua yang menyebabkan saya sampai mau mencari tahu sejarah dan perkembangan dangdut. Berkat jasa Nella Kharisma lah saya mau melakukan hal itu semua.

❤ ❤ ❤

Untuk dangdut sendiri, jauh sebelum Duo Serigala sebesar saat ini, kita pernah mendengar dangdut melayu yang hits di tahun 70-an. Ada juga dangut reggae, rap-dut, dangdut mandarin, yang semuanya hadir karena pengaruh asing. Khusus untuk era milenium, kita sering disuguhkan dengan disco dangdut, dangdut campuran (House Remix), dan terakhir dangdut koplo.

Nama Nella Kharisma mungkin terdengar asing di telinga orang-orang. Saya sendiri baru mengetahui Neng Nella beberapa minggu lalu. Saat sedang mendengar lagu melalui Youtube, video Neng Nella masuk dalam list recommended. List recommended-nya Kak Akmal. Maksud saya, kebetulan saja Kak Akmal ada di samping saya sambil menunjuk dan mengatakan “Buka ko bede yang ini”. Menurut saya pribadi, Neng Nella genrenya Alternative Dangdut. Semacam dangdut koplo yang dipermak dengan beberapa instrumen kekinian. Atau… Ah entahlah.

Neng Nella ini menurut saya berbeda dengan beberapa penyanyi dangdut koplo pada umumnya. Saya tidak menyarankan teman-teman untuk membuka video Lia Capucino, Via Vallen, apalagi Uut Selly. Bulan Ramadhan baru saja lewat. Mari (untuk sejenak) sucikan mata kita, kawan-kawan.

Beberapa — bahkan kebanyakan — penyanyi dangdut koplo menjadikan panggung sebagai arena komodifikasi tubuh. Komodifikasi sendiri menjelaskan proses di mana hal yang sebetulnya bukan untuk diperjualbelikan kini menjadi sesuatu yang diperjualbelikan. Dalam hal ini yang diperjualbelikan adalah tubuh, melalui goyangan yang eksotis dan terkadang vulgar.

Betul kalau menurut pandangan kaum feminis liberal bahwa perempuan memiliki hak atas tubuhnya dalam mengekspresikan dirinya. Tapi bukan itu maksud mereka. Dalam konteks industri (Produksi-Konsumsi), perempuan selalu dijadikan sebagai objek yang tersubordinat. Maka jelaslah sudah bahwa yang diharapkan oleh kaum feminis liberal adalah perempuan dan laki-laki seharusnya dapat bekerja setara dihadapan pasar. Sedikit tambahan, yang ditentang oleh kaum-kaum feminis ini adalah sistem patriarki yang tengah belangsung di masyarakat.

Sampai sini mungkin Neng Nella bertanya, “lantas apa hubungan antara patriarki dan dangdut?”

Gini Neng, semoga Eneng mengenal nama Claudia von Werlhof. Beliau masih hidup kok. Tidak perlu belajar Edo Tensei kalau ingin ketemu doi. Jadi, Mbak Claudia melalui perspektif radikal-historis menguraikan, konon patriarki muncul dari “tradisi perang”. Pada saat itu lahirlah kaum laki-laki sebagai kaum yang menempati posisi kelas dominan karena kekuatan fisiknya. Karena pasukan perang didominasi oleh mereka para laki-laki ksatria perang, akhirnya muncul anggapan bahwa kekuatan fisik laki-laki jauh lebih kuat dibanding perempuan. Akhirnya logika perang tersebut bersemayam dalam logika patriarki. Logika “mereka yang ikut berperang adalah mereka yang mampu survive dengan kekuatan fisik” sama halnya dengan pemikiran “mereka yang turun dalam persoalan ekonomi, sosial, dan politik adalah didominasi oleh mereka yang kuat (laki-laki)”. Mengapa? Karena semua institusi sosial yang diciptakan dan ditemukan oleh patriarki secara prinsipal berasal dari pengalaman perang.

Coba Eneng tengok awal mula Perjanjian Westphalia yang kini berkembang menjadi sistem negara modern. Perjanjian tersebut lahir berkat Perang Tiga Puluh Tahun yang diakibatkan belum jelasnya penguasa serta batas wilayah yang berdaulat. Walhasil perselisihan pemahaman, kesejahteraan masyarakat, serta masalah cewek menjadi gejolak terjadinya perang.

Kabar baiknya: penjelasan diatas memang tidak ngonteks dengan zaman dimana semua orang sudah menonton film Wonder Woman.

Kabar buruknya: patriarki masih ada dan makin bertransformasi, Neng. Dengan pengalaman historisnya yang cukup lama kini patriarki masuk melalui sistem sosial dalam masyarakat. Bertransformasi secara kontinyu dimana kaum laki-laki mempunyai posisi dominan.

Kabar paling buruknya: dengan posisi yang dimilikinya, mereka melakukan eksploitasi terhadap perempuan yang mewujud dalam praktik sosial, ekonomi, politik, bahkan budaya.

Kabar paling-paling-paling buruknya: saya belum nonton Wonder Woman. Neng udah nonton? Kalau belum, ayuk~

Kecuali kondisi buruk terakhir, beberapa kondisi diatas dijelaskan oleh Mbak Sylvia Walby, seorang Professor dari Lancaster University. Mbak Sylvia menjelaskan bahwa penindasan dan eksploitasi kaum perempuan oleh laki-laki di dalam lingkungan pekerjaan ber-upah disebabkan berkat kontribusi besar dari sistem yang ada dalam kuasa patriarki. Mbak Walby menambahkan, patriarki dan kapitalisme memiliki kesalinghubungan yang sangat dekat dan bersifat simbiotik. Singkatnya seperti ini, patriarki menyediakan sistem kontrol, hukum, serta aturan. Sementara kapitalisme menyediakan sistem ekonomi dalam memenuhi keuntungan.

Satu patriarki saja sudah bahaya, ditambah lagi dengan kapitalisme. Ini seperti kita membayangkan wajah Plankton dan Megatron bekerjasama dalam meruntuhkan Krusty Krab dan menguasai seluruh Bikini Bottom.

“Tapi, Akang masih belum menjelaskan hubungannya dengan dangdut loh?” kata Mbak Nella di sudut panggung.

Iyah Neng, sabar. Ini baru mau masuk.

Dari beberapa penjelasan diatas dapat kita simpulkan sementara bahwa patriarki kini masuk di setiap lini kehidupan. Ditambah duet mautnya dengan kapitalisme makin memperkeruh keadaan. Bahkan belaian mereka tidak lepas dari dunia yang Neng Nella sekarang tekuni.

Mereka masuk melalui sel-sel industri musiknya Neng Nella. Terinfeksi dari virus-virus keinginan pasar. Sementara pasar sendiri didominasi oleh hasrat seksualitas para bakteria patriarkis. Akibatnya, beberapa teman Neng Nella yang sudah saya sebutkan diatas — dan masih banyak lagi pastinya — dituntut untuk tampil Maxxx. Harus cantik sesuai selera pasar. Berbuah dada besar untuk merangsang hasrat bakteri tadi. Plus ditambah goyangan yang menurut saya taliwa’ sekali. Dapat dikatakan, ritme goyangan Eneng berbanding lurus dengan tarif yang akan diberikan. Hal tersebut dilakukan untuk menambah pundi-pundi diatas panggung melalui saweran. Sesuai logika kapitalis, semuanya dikonstruk untuk meraup keuntungan yang harus lebih tebal dari Make Up para bintang dangdutnya.

Setelah saya menonton video Neng Nella, saya merasa menemukan vaksin dari penyakit tersebut. Neng Nella hadir sebagai Optimus Prime yang membantu masyarakat Bikini Bottom di ambang kehancurannya. Di beberapa video, Neng Nella terlihat anggun. Namun, beberapa juga penampilan di atas panggung Neng tampil biasa saja dan apa adanya.

Goyang ala kadarnya sesuai irama gendang dan melodi suling. Tidak ada saweran-saweran demi buka satu kancing baju. Tidak ada Skinship-skinship omong kosong di atas panggung. Semua Eneng lakukan yah karna emang mau nyanyi. Bahkan saat pertama kali saya menonton video Neng Nella, jantung saya berhenti satu ketukan. Dua ketukan. Tiga ketukan. Lalu ambulans datang karena saya gagal jantung.

Kalau saja Neng Nella tahu berapa persentase penikmat musik dangdut, mungkin Neng akan sedikit aware sama beberapa poin yang saya sampaikan di atas. Neng perhatikan data di bawah yah. Ini susah loh saya cari. Saya sampai harus bela-belain keluar dari The Avenger dan mengumpulkan ketujuh bola Dragonball demi mendapatkan data ini. Semua demi Nyaiii~

Terimakasih Dewa Shenron!

Coba diresapi dulu. Sudah? Sudah? Sudah?

Berdasarkan data diatas, asik mulai ‘berat’, hehehe.

Neng Nella tahu apa artinya itu? Ini berarti KABAR SANGAT PALING BURUK SEKALIA’. Neng Nella memikul beban dan tanggung jawab yang berat.

Mayoritas pasar Neng Nella ditempati oleh orang-orang dengan status pendidikan tamatan SMP ke bawah. Situasi ini mungkin bisa aman kalau saja taraf pendidikan di negara kita sudah setara dengan Finlandia. Atau tidak perlu jauh-jauh ambil standard di Finlandia, saya mungkin akan legowo kalau bangku anak SD dan SMP diduduki oleh adik-adik seperti Dek Afi yang belakangan sempat viral di dunia maya.

Selain di rumah atau lingkungan keluarga, di mana lagi mereka mendapatkan pendidikan kritis? Wajar saja kalau patriarki bisa langgeng dalam jiwa dangdut koplo. Mereka itu banyak loh, Neng. Tapi saya yakin Neng orangnya kuat. Sering-seringlah manggung menggunakan kacamata, Neng sedikit terlihat intelektual dengan itu :’)

Semoga saja Neng memiliki konco-konco yang serupa dengan gaya ber-dangdut Neng Nella. Para Autobots lainnya pasti ada di luar sana. Gerakan feminisme kini mulai marak di Indonesia. Saya sendiri masih butuh banyak membaca dan bergaul tentunya untuk bisa jadi orang-orang sekaliber Vandana Shiva.

Ketakutan saya adalah, sama seperti dalam film Transformers: The Last Knight. Dimana Optimus Prime berlaku berkhianat terhadap kawanannya.

Anw, saya belum nonton filmnya loh Neng. Neng Nella sudah nonton? Kalau belum, tidak perlu dinonton sekarang Neng. Banyak yang bilang membosankan. Tunggu di LK21 aja ;)


Maaf yah ‘Neng’, saya baru bisa menerbitkan tulisan ini sekarang :’)
Semoga ‘Neng’ sehat wal afiat disana. Aamiin.