Berbiaknya Kebaikan

Alfiansyah
Sep 7, 2018 · 3 min read
Kamerad dari Fakultas Hukum (sumber: pribadi)

“Aku kembali tenggelam dalam kata-kata. Menyelami kembali tiap paragraf ke paragraf”

Aku baru saja pulang. Kali ini aku pulang ke tempat dimana ada mereka yang selalu mengharapkan kepulanganku. Menariknya, ada sepenggal cerita yang ingin kubagikan pada kalian, kawan. Cerita ini bermula di sebuah gerbong kereta yang melaju. Kereta yang menghubungkan dua kota besar, Semarang dan Jakarta.

Mulanya gerbong kelas terendah itu nampak bagai gerbong kelas ekonomi pada umumnya. Suasana yang penuh agak sesak, set kursi tiga dan dua, dan ramai dengan berbagai elemen masyarakat kelas menegah. Di lorong gerbong aku merogoh tiket yang sebelumnya ku kantongi. Oh, 13D. Sudah menjadi kebiasaanku memang, memilih kursi di pojok gerbong. Selain dekat dengan pintu keluar, kebetulan gerbong itu juga dekat dengan gerbong restorasi.

Setelah memastikan duduk di tempat yang benar, aku mencoba menyamankan diri di kursi yang akan menjadi tempatku 6 jam kedepan. Selang beberapa saat seorang laki-laki datang, mendekati set tempat duduku. Selang beberapa saat lagi sepasang suami istri juga datang, sepertinya merka juga kebagian duduk di depan set tempat dudukku.

Perjalanan terkesan biasa saja. Tidak ada hal yang berati. Aku pun mencoba membaca buku, dengan maksud merehabilitasi diri, mengurangi rasa candu akan ponsel pintar. Laki-laki rekan sebangkuku masih sibuk dengan ponsel pintarnya dan sepasang suami istri duduk terdiam menikmati perjalanan.

Singkat cerita jam menunjukan waktu ashar. Mengejutkan bagiku, rekan perjalanan disampingku ternyata dengan sigap langsung mendirikan sholat disaat itu juga. Aku yang sebelumnya berniat menunda sholat dengan alasan masih dalam perjalanan pun menjadi tertegun. Di tengah-tengah mordenisasi dan perkembangan budaya di kalangan generasi milenial, fenomena ini mungkin jarang kau kemui, kawan. Begitu pula denganku.

Rasa gelisah pun muncul sedikit demi sedikit dari sudut hati terdalam. Rasa gelisah dan bersalah kepada Tuhan karena diumur yang sudah gede ini masih saja mencari alasan di tengah kemudahan yang Ia berikan. Dan di tengah siraman rasa gelisah itu, aku mencoba menyelam kembali dalam buku yang ku baca, dengan maksud mencoba mengalihkan perhatian. Setengah jam menjadi titik jenuhku dalam mengalihkan rasa bersalah itu. Aku menyerah. Aku pun kemudian sholat, menunaikan kewajibanku.

Lepas itu perjalanan kembali berlajut. Aku kembali tenggelam dalam kata-kata. Menyelami kembali tiap paragraf ke parafgraf. Rekan dudukku yang baru saja membagi kebaikannya padaku juga masih disibukan dengan ponsel pintarnya. Sejam-dua jam berlalu. Kereta sudah memasuki wilayah Jawa Barat. Kami sebelumnya sempat bertegus sapa singkat. Sekedar ngucap “permisi” lalu menanyakan tempat duduk untuk basa-basi belaka. Namun, di tiga perempat perjalanan ini permbicaraan mulai terbuka kembali. Rekan dudukku itu ternanya tetangga di tempat kuliahku, tepatnya Fakultas Hukum. Hanya saja ia baru saja masuk tahun ini.

Lepas pembicaraan itu berakhir aku sudah bersiap untuk turun, karna memang pemberhentianku tinggal menghitung menit. Setelah semua sudahku pastikan tidak ada yang tertinggal, aku duduk kembali. Sejenak aku melirik rekan dudukku tadi. Alangkah ………….nya, saking tak tau harus menulis apa, ia membuka buku dan membacanya. Dia yang baru saja berbagi kebaikannya padaku ternyata aku pun dapat berbagi kebaikan padanya.

Pada titik ini aku mulai percaya bahwa kebaikan dapat menular. Tak perlu muluk-muluk berkoar-koar. Cukup dengan mencontohkan, mereka yang masih memiliki hati nurani pasti akan mengikuti.

Alfiansyah

Written by

Aku disini bekerja untuk keabadian.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade