Winamp? yang aplikasi music player yang sempat booming dulu itu? Yap, betul!
Di sini, saya akan coba menggabungkan 2 product yang bergerak dalam bidang music player ini menjadi 1. Kira-kira, bagaimana jadinya?
Oke, tanpa basa basi, saya awali dengan pembuatan:
Goals
“Memberikan PC/Laptop 🥔 hak untuk mendengar lagu-lagu Kangen band dengan alternatif spotify yang lebih ringan”

Dengan kata lain “Meningkatkan jumlah pengguna dengan memberikan pengguna yang (masih) menggunakan PC/Laptop berspesifikasi menengah ke bawah sebuah alternatif spotify desktop yang lebih ringan”.
Jadi, terdapat 2 objektif, yaitu membuat desain yang simpel dan ukuran yang compact agar aplikasi menjadi lebih ringan.
Mengumpulkan referensi
Saya coba mengumpulkan 5 referensi dari website-website portfolio desain seperti dribbble, behance, dll.
Kenapa 5? Gini, kalau kata mas Dwinawan (UI Designer Traveloka):
Referensi tuh kaya gula, kalau terlalu banyak tidak enak, kalau terlalu sedikit juga tidak enak.
Dengan itu, saya mengambil tengah-tengah saja, yaitu 5.
Ini adalah referensi-referensinya:





Warna dan typografi
Spotify yang terkenal dengan kombinasi warna hijau dan hitam, akan saya terapkan untuk mencerminkan branding dari Spotify itu sendiri.
Dan untuk typografi, saya menggunakan Helvetica neue.
Proses fusion
Balik ke referensi yang terkumpul,
Kita bisa lihat bahwa tidak ada desain (dari referensi desain) yang mencerminkan keunikan dari winamp, yaitu sebuah music player yang berukuran kecil atau compact.
Dengan itu, saat wireframing, saya coba memaksimalkan ruang yang kecil untuk pencerminan winamp, namun tetap memberikan sosok branding hingga fitur yang ada pada Spotify dengan maksimal.
Desain

Tantangan saat mendesain ini cukup banyak, mulai dari membagi ruang, ukuran, hingga mengatur peletakan konten. Hal-hal tersebut cukup menantang, karena saya, yang berperan menjadi desainer, perlu mendesain di ukuran yang 10x lipat lebih kecil dari ukuran aslinya. Jadi di sini, saya harus cerdik dalam memaksimalkan ruang yang tersisa dan tersedia, agar tidak terlihat terlalu kosong dan juga terlalu sempit.
Peletakan konten dan fitur juga hal yang perlu dipikirkan baik-baik, karena di sini kita mau semua fitur andalan Spotify tetap ada namun harus cukup di ukuran winamp yang compact.
Kenapa saya hanya membuat Now playing, home, search, dan playlist? Sebenarnya, beberapa fitur di Spotify, seperti radio, library, dan sebagainya, mempunyai susunan konten yang sama dengan Now playing, home, search, dan playlist. Dengan itu, saya pikir Now playing hingga playlist, sudah cukup mewakilkan beberapa fitur yang lain.
Here’s come our model, time to shoot!
Buah mangga buah pepaya, *cakep* Mari kita shoot dulu.
Now playing dan Home

Search dan Playlist

Spotify Light

Terlihat ramping dan simpel, saya memberi nama fusion dari Spotify dan winamp ini sebagai Spotify Light.
Dengan ukuran yang compact dan simpel, saya asumsikan aplikasi ini akan ringan untuk digunakan oleh semua Laptop atau PC, mulai dari yang 🥔 sampai yang powerful 🔥, yang diharapkan dapat menggaet user lebih banyak lagi.
Spotify light disini berperan sebagai alternatif dari Spotify desktop yang menurut saya lumayan laggy saat saya operasikan di laptop saya yang berspesifikasi 4GB RAM, Intel i3.
Ingin bertanya atau mempunyai masukan serta tambahan terkait tulisan ini?
Silahkan ketik pertanyaan, masukan dan tambahan tersebut di Bagian Response dibawah.
Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca! 😊
Tertarik untuk melihat Portfolio saya?
Dan Hei!
Jika kamu mempunyai proyek yang luar biasa dalam bidang UI/UX, Silahkan hubungi saya ke rhasyab@gmail.com
