Di Ujung Dermaga

Dermaga kayu yang menyambut lautan dengan tiang-tiang penyangga kokoh yang menghalau riuk air pasang. Decit kayu tua yang berderik saat langkahmu melewatinya.

Jarum jam yang terlalu renta untuk senja namun terlalu dini untuk pagi. Selimut tebal yang tersampir di punggungmu. Lampu minyak dan buku fiksi yang suka kau hirup baunya sebelum kau baca.

Nyiur-nyiur kelapa yang bergesekan menggemakan tawamu dikala senja. Saat cakrawala berlukiskan gradasi warna merah, jingga, dan langit biru.

Angin laut yang jahat namun tetap setia untuk kau jadikan teman. Gugusan bintang yang berpendar di laut tenang yang meneduhimu saat kau meringkuk dalam balutan selimut dan membaca dalam keheningan dengan temaram lampu minyak.

Kesunyian yang larut dalam keluasan laut yang terhampar dihadapanmu. Kesedihan yang memaksa bergeru seperti ombak dibawah dermaga.

Gundukan awan yang bungkam saat kau menengadahkan kepalamu untuk menahan tangis. Tonggak kayu di ujung dermaga yang tak berkutik saat jemarimu mencengkeramnya dan kepalamu kau sandarkan padanya.

Kehangatan yang terkuak dari jendela-jendela rumah nelayan yang dari dalam terdengar suara tangisan bayi dan anak sulungnya yang ingin ditemani tidur. Atau kesepian dari jendela pengantin baru yang sengaja dibuka karena sang istri tak dapat tidur menanti suaminya pulang berlabuh.

Kesepian yang juga terpasung di benakmu bersama dingin yang menggigit pori-porimu dan menggelitik telapak kakimu yang telanjang.

Malam yang selalu kau lewati duduk diam di ujung dermaga sampai terlelap dalam tidur yang disinggahi mimpi buruk.

Jejak kaki yang terukir diatas pasir pantai sebelum cakrawala kembali terbit dan burung-burung camar tiba di pantai. Jejak yang kau tinggalkan saat kau berjalan ke langgar memenuhi panggilan subuh.

Jejak-jejak lain yang terukir tak jauh dari jejak sebelumnya yang belum memudar segera setelah matahari terbit dan berujung diatas pasir pantai yang tersapu ombak. Dimana kau akan mematung menatap mentari dan lautan yang kau benci.

Mematung tanpa menghiraukan burung-burung camar yang berteriak sambil mencengkeram ikan kecil hasil sisa tangkapan nelayan. Burung camar yang membawakan pesan untukmu namun tak pernah kau hiraukan.

Satu malam, dua malam, tiga malam, dan malam malam lainnya yang kembali kau habiskan di ujung dermaga.

Menanti janji untuk kembali.

A single golf clap? Or a long standing ovation?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.