Source: google.com

Ruang Kata-kata

Remah-remah roti yang kuikuti berhenti di depan gerbang kayu besar bercat biru tanpa ganggang pintu. Aku tidak pernah mengenali bangunan ini, atau lingkungan tempat bangunan ini berdiri. Aku mencoba mendorong gerbang kayu agar terbuka. Gagal. Sebersit perasaan memaksaku memilih tinggal atau meninggalkan. Sampai aku teringat sebuah mantra dari buku fantasi anak-anak, sebuah mantra untuk membuka kunci. Dalam hati aku mengucapkannya, kemudian aku mendengar bunyi klik pelan dibalik gerbang yang akhirnya terbuka. Berhasil.

Pelan-pelan aku mendorong gerbang besar didepanku, kali ini ringan dan akhirnya membuka jalan masuk ke apapun yang akan kutemui dibaliknya. Dari dalam, sesorot cahaya samar menyibak dari celah gerbang saat aku membukanya. Meninggikan bayanganku yang ragu-ragu melangkah ke balik pintu.

Kegelapan menyelimuti ruangan tempatku berdiri. Temaram sinar hanya berasal dari tatakan lilin yang diletakkan di sebuah pijakan tangga. Sepi. Sunyi. Tidak ada orang lain yang tampaknya ada disini selain diriku. Di dinding kutemukan banyak kata-kata, kumpulan kata-kata, memenuhi tembok bata. Seluruh ruangan ini diselimuti kata-kata. Di dinding, di lantai yang awalnya aku kira motif keramik ternyata adalah kumpulan tanda baca.

Rasa penasaran memaksaku untuk mencari tahu lebih dalam. Mengitari ruangan, sunyi menjadi pengeras suara yang membuat suara langkah kakiku terdengar lebih keras. Langit-langit ruangan tidak tampak, cahaya lilin hanya sanggup menerangi beberapa jengkal diatas kepalaku dan selebihnya aku tak mampu melihat apa-apa. Tangga spiral memutari sebuah batang pohon besar yang berada di tengah ruangan, pijakanya dipenuhi kata-kata.

Aku mengambil lilin dan mulai melangkah naik didorong oleh rasa penasaran. Satu anak tangga, dua anak tangga, tiga anak tangga. Setiap langkahku mengandung kepastian dan ketidakpastian. Ketidakpastian dalam kepastian, kepastian dalam ketidakpastian. Tapi bukankah setiap detik dari hidupku dan hidup semua orang adalah dua hal itu? Setiap yang aku lakukan menyimpan dua kemungkinan, satu dan nol, ya dan tidak, hal yang pasti dan belum pasti, hal yang akan kusesali atau tidak kusesali. Sebuah cerita, yang akan menjadi pembelajaran atau peringatan di kemudian hari, tapi tidak bisa diulang lagi.

Dalam kemesteriusannya, aku mulai menyukai bangunan ini. Seperti aku menyukai sendiri dan kesendirian. Kata-kata yang tersimpan dan tidak perlu diucapkan. Juga kegelapan, yang menyelimuti dalam kedamaian. Mengapa, banyak orang yang takut dalam kesendirian? Padahal kesendirian adalah cara terbaik untuk mengenali diri sendiri, mencintai tanpa berbagi. Kebebasan terbesar tanpa ada yang mengkahimi.

Delapan puluh lima anak tangga, delapan puluh enam, delapan puluh tujuh, delapan puluh delapan, langkahku sampai di sebuah ruangan yang memiliki banyak pintu. Di lantai dekat kakiku berdiri, sebuah pesan memberitahuku. Tertulis, pilih teman seperjalananmu.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.