Sajak untuk Seseorang yang Memberiku Sejumlah Kata

Hendak aku tanyakan, 
kepada koridor-koridor
di mana pernah ada kita
saling bertukar pandang.
Apakah mereka masih menyimpan
sebait sapa,
dan selengkung senyum
yang dulu tidak berarti
apa-apa.

Juga seluruh kejadian,
percakapan di sebuah konser musik
berisi remaja-remaja yang mengenakan
kegembiraan di wajahnya.
Namun kau seorang diri,
melipat lengan untuk memeluk tubuhmu
yang melarikan diri
dari perihal
yang membuatmu nyaris gila.

Sementara langit malam selalu sendu
di luar jendela kamarmu,
dan kepalamu disibuki seorang perempuan
yang tidak pernah lelah
berlari-lari di dalamnya,
peristiwa-peristiwa melipat dirinya,
dan menemukan kita
pada suatu bagian yang sama.

Sebelum mengenalmu,
Aku ingin menyembunyikan diriku
di dalam kekosongan,
serta menjatuhkan diri
pada kehampaan yang curam.
Hingga pada akhirnya
aku menemukanmu,
dan rongga di dadaku sesak
oleh rasa penasaran.

Pandang malu-malu,
dinamika tatap dua pasang mata
yang saling mengelabuhi
namun sama-sama penuh tanya.
Di malam hari,
ketika butiran hujan
mencair di dalam secangkir kopi
yang sengaja aku minum
agar tetap terjaga di mimpimu.

Kau api yang membakar
seluruh langkah kaki
pada setapak jalan
di antara alang-alang.
Dimana aku terus berjalan,
dan tidak pernah ingin
berbalik pulang.

Tertawan di antara kini dan kelak,
logika kita saling mengikat,
mencari sebuah kemungkinan.
Menjadi pemenang,
atau seseorang 
yang akan dikenang.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.