Gabrielle, The Fish Man

Ada murid di kelas yang lucu sekali menarik perhatianku, namanya Gabrielle. Umurnya empat tahun. Badannya termasuk kecil diantara teman-temannya. Saya tidak terlalu paham apa yang terjadi pada anak berusia empat, namun Gabrielle dan beberapa anak lainnya sering terlihat diam di kursi dan memikirkan sesuatu. Tapi apa yang mereka pikirkan? Mereka tak punya banyak hal untuk memenuhi kehidupannya selain mau makan apa, mau main apa, mau pipis atau tidak. Gabrielle termasuk anak semacam itu. Saat memanggil namanya untuk mencuci tangan, saya dan Miss M atau Miss N harus menyerukan namanya berkali-kali dengan nada yang berbeda-beda untuk menyadarkannya dari lamunan. Dia bergerak ketika sudah panggilan ketiga, dengan nada suara yang paling nyaring nyaris hilang.

“Gabrielle, come here. Wash your hands, we’re going to eat”, ujarku sambil memandanginya menjadi satu-satunya anak yang masih duduk di jejeran kursi. Teman-temannya yang lain sudah duduk di depan meja, makan.

Dia bangkit. Langkahnya pelan dan kecil. Perlu waktu untuk menunggunya sampai ke wastafel, tempatku memandanginya. Saat dia sampai, kuraih tangannya menuju depan wastafel. Saya menyalakan keran air dan mencuci tangannya sambil bertanya padanya,

“What food do you bring today?”
“I bring biscuit”, jawabnya singkat. 
“Okay, you should finish your food”, 
Dia hanya mengangguk.

Anak-anak berusia sangat muda punya satu kelemahan. Mereka tidak bisa makan makanan yang tidak biasa sebab mereka bisa saja punya alergi akan makanan tertentu. Saya dan dua teacher lain di Kinder 1, sudah memahami hal ini. Jadi, jika saatnya mereka makan, kami mengecek makanan apa saja yang mereka bawa. Orangtua Gabrielle termasuk orang yang konsisten. Makanan Gabrielle adalah dua keping biskuit, atau dua wafer atau cookies kecil Tini Wini Biti yang ada di Tupperware bundar kecil berwarna hijau. Gabrielle tidak pernah membawa bekal nasi, buah ataupun jenis lainnya. Dia pemakan yang sangat lambat. Saya pernah mengamatinya makan dan dia membutuhkan waktu setengah jam untuk menghabiskan makanannya dalam kotak. Air minumnya pun ukurannya kecil. Dia sering cuma minum tiga empat teguk lalu selesai. Kalau saya melihatnya, saya akan memintanya untuk minum hingga batas tertentu pada gambar di botolnya, misalnya hingga kepala singa atau hingga kaki jerapah. Gabrielle akhirnya terbiasa dan jika dia ingin minum dia bertanya, “Miss Riana, I drink until lion’s head?”

Gabrielle sangat lincah berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Satu hal yang suka diceritakannya adalah hubungannya dengan ikan dan superhero. Ada sesuatu yang menstimulasi otaknya saat dia mendengar dua kata itu. Matanya mulai membesar dan dia tersenyum sebelum akhirnya bercerita panjang lebar tentang ikan-ikan di rumahnya dan superhero yang diketahuinya. Saat dia berulang tahun, orangtuanya merayakan di sekolah dan membawa kue tema ikan, Finding Dory. Isi goodie bag nya adalah payung berwarna putih biru bertuliskan Happy Birthday Gabrielle dengan gambar Dory. Seumur-umur, saya baru kali ini mendapati ada anak yang begitu gemarnya dengan ikan.

“I have a fish in my home”, katanya mengawali cerita. “My Daddy has a fish, too. We eat fish”,
Agar dia melanjutkan ceritanya, saya hanya bertanya, “How many fish do you have?”
Dia lalu membuka jari-jarinya sejumlah lima dan berkata, “Ms Riana, I have five fish”. Lalu biasanya saya bercerita padanya tentang ikan-ikan di laut hingga octopus yang punya banyak kaki.

Saya selalu suka mendengar Gabrielle memanggil namaku. Suaranya lucu sekali saat menyebut Riana; penyebutannya tidak sempurna Riana, tapi kedengaran seperti Miss-yana.

Miss-yana, what happened to Arin, miss-yana?
Miss-yana, I have aeroplane!
Good morning, miss-yana.
Miss-yana, my shoes are wrong side?

Satu waktu, Gabrielle tidak datang ke sekolah selama hampir dua minggu. Ibunya bilang dia sakit. Saat dia akhirnya ke sekolah, saya benar-benar lega hingga berteriak, “Gabrielle! You’re coming!” sampai ayahnya ketawa-ketawa. Gabrielle lucu sekali kalau tersenyum, kalau marah dan bernyanyi. Saat menulis ini saya hanya membayangkan momen-momen saat Gabrielle membuatku tertawa dan banyak sekali yang berkelebat di kepalaku. Murid-muridku gampang sekali membuatku jatuh hati. Sayang sekali, mereka sudah akan naik ke kelas Kinder 2 di bulan Juni.

Ri