Kecemplung
Saat saya kecil, saya paling tidak ingin menjadi dua hal, yaitu:
- PNS
- Istri pejabat (pemerintah)
Mata saya dulu tidak pernah bisa melihat gengsi atau kelebihan menjadi seorang PNS atau pejabat pemerintah. Bagi saya yang dulu masih segar belia, pemerintah identik dengan pekerjaan yang kotor, tidak jujur, malas, dan zalim. Tidak mau saya jadi seperti itu. Apalagi jadi istrinya.
Tapi pernah terdapat sebuah mitos, entah ini benar atau tidak, jika kita tidak suka akan sesuatu, maka hal tersebut akan datang pada kita tanpa waktu yang tidak kita sadari. Dan sepertinya ini sedang terjadi pada Saya. Ha ha ha.
Kutipan dari teman saya itu sama persis dengan yang saya alami, namun perbedaannnya ada pada kalimat terakhir. Di kehidupan saya, hal ini hampir selalu terjadi pada saya. Hampir dalam semua bidang kehidupan, jika saya dengan keras bertekad saya tidak suka terhadap sesuatu, biasanya hal itu akan datang kepada saya.
Setelah saya lulus kuliah, saya menyadari bahwa ternyata dunia kapitalis yang kita tinggali ini menuntut manusia, termasuk saya, untuk bekerja. Apa daya saat itu kesempatan saya dalam mendapatkan jaminan bahwa saya dapat terus bekerja (baca: mendapat pekerjaan tetap) dan tetap mendapatkan penghasilan saat purnabakti nanti ada pada jalur penerimaan CPNS. Dari awal jujur saja saya tidak ada keinginan muluk-muluk saat mendaftar dan berharap menjadi seorang PNS. Belum ada pikiran untuk mengabdi pada negara, memajukan negara Indonesia, atau malah pikiran lain seperti cari proyek, cari kekayaan (mudah-mudahan jangan sampai ada keinginan seperti ini), apalagi cari suami.
Namun setelah beberapa bulan memasuki dunia pemerintahan, ternyata tidak semua stereotip buruk PNS itu benar. Saya banyak menemukan insan-insan pemerintahan yang rajin (dan senang) bekerja, disiplin, memiliki profesionalitas yang tinggi, dan cerdas. Jujur saya kaget. Sekaligus bersyukur. Masih ada harapan buat negeri ini.
Tujuan awal saya dalam menjadi Aparatur Sipil Negara mungkin tergolong pragmatis. Namun diterimanya saya sebagai PNS kini justru saya syukuri. Sepertinya memang saya “dipaksa” oleh Tuhan untuk kembali peduli bahkan turut berkontribusi terhadap kemajuan negara ini setelah beberapa tahun sebelumnya saya menjadi cukup apatis karena bahkan hanya untuk mengikuti berita terkini mengenai negara ini saja saya lelah (karena jarang sekali ada berita baik).
Sesungguhnya saya masih percaya negara Indonesia dapat membenahi kerusakan-kerusakan sistemnya secara perlahan. Jika dibandingkan dengan negara-negara besar lain Indonesia adalah negara yang masih muda. Di antara negara-negara yang juga muda pun Indonesia memiliki tantangan kasat mata yang lebih berat, yaitu terkait dengan luas wilayah, jumlah penduduk, dan bentuk negara kepulauan. Di mana tantangan-tantangan ini menimbulkan tantangan-tantangan lain yang kompleks dalam hal sosial, politik, dan budaya. Maka wajar jika pertumbuhan kita terasa lambat. Indonesia masih belajar.
Jujur saja saya tidak bisa menulis yang muluk-muluk soal ini. Pengalaman saya masih sedikit dan pengetahuan saya belum banyak. Tapi mudah-mudahan optimisme dan kepedulian saya terhadap nasib Indonesia akan selalu ada di dalam diri saya disertai dengan aksi nyata, terlebih dengan peran saya saat ini sebagai PNS yang seharusnya dapat memberi kontribusi langsung.
Perjalanan masih jauh, perjuangan masih panjang. Ayo kerja!
